<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367</id><updated>2012-02-01T18:32:37.673-08:00</updated><category term='inspirasi'/><category term='winner'/><category term='anak jalanan'/><category term='kemenangan'/><category term='renungan'/><category term='ramadhan'/><category term='tokoh'/><category term='hikmah'/><title type='text'>BUNGA CERITA : BLOG KUMPULAN CERITA INSPIRASI</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>81</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-4221734227361615780</id><published>2011-10-19T22:26:00.000-07:00</published><updated>2011-10-19T22:29:46.734-07:00</updated><title type='text'>10 Ribu Rupiah Membuat Anda Mengerti Cara Bersyukur</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-5f_jD_krIkg/Tp-w9iH7QsI/AAAAAAAAAgE/dhVlmOXuiC4/s1600/10ribu.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="141" src="http://1.bp.blogspot.com/-5f_jD_krIkg/Tp-w9iH7QsI/AAAAAAAAAgE/dhVlmOXuiC4/s320/10ribu.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #282828; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #282828; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #282828; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;Ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: #282828; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, "Beri kami sedekah, Bu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #282828; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;Istri Budiman kemudian membuka dompetnya lalu ia menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 1000 rupiah. Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Tatkala tahu jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan, ia lalu menguncupkan jari-jarinya mengarah ke mulutnya. Kemudian pengemis itu memegang kepala anaknya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang terkuncup itu ke mulutnya, seolah ia ingin berkata, "Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami&lt;br /&gt;tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #282828; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;Mendapati isyarat pengemis wanita itu, istri Budiman pun membalas isyarat dengan gerak tangannya seolah berkata, "Tidak... tidak, aku tidak akan menambahkan sedekah untukmu!"&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #282828; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;Ironisnya meski tidak menambahkan sedekahnya, istri dan putrinya Budiman malah menuju ke sebuah gerobak gorengan untuk membeli cemilan. Pada kesempatan yang sama Budiman berjalan ke arah ATM center guna mengecek saldo rekeningnya. Saat itu memang tanggal gajian, karenanya Budiman ingin mengecek saldo rekening dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #282828; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;Di depan ATM, Ia masukkan kartu ke dalam mesin. Ia tekan langsung tombol INFORMASI SALDO. Sesaat kemudian muncul beberapa digit angka yang membuat Budiman menyunggingkan senyum kecil dari mulutnya. Ya, uang gajiannya sudah masuk ke dalam rekening.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #282828; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;Budiman menarik sejumlah uang dalam bilangan jutaan rupiah dari ATM. Pecahan ratusan ribu berwarna merah kini sudah menyesaki dompetnya. Lalu ada satu lembar uang berwarna merah juga, namun kali ini bernilai 10 ribu yang ia tarik dari dompet. Uang itu Kemudian ia lipat kecil untuk berbagi dengan wanita pengemis yang tadi meminta tambahan sedekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #282828; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;Saat sang wanita pengemis melihat nilai uang yang diterima, betapa girangnya dia. Ia pun berucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Budiman dengan kalimat-kalimat penuh kesungguhan: &lt;i&gt;"Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah... Terima kasih tuan! Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga. Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Semoga tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti di surga...!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #282828; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;Budiman tidak menyangka ia akan mendengar respon yang begitu mengharukan. Budiman mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap terima kasih saja. Namun, apa yang diucapkan oleh wanita pengemis tadi sungguh membuat Budiman terpukau dan membisu. Apalagi tatkala sekali lagi ia dengar wanita itu berkata kepada putri kecilnya, "Dik, Alhamdulillah akhirnya kita bisa makan juga....!"&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #282828; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;Deggg...!!! Hati Budiman tergedor dengan begitu kencang. Rupanya wanita tadi sungguh berharap tambahan sedekah agar ia dan putrinya bisa makan. Sejurus kemudian mata Budiman membuntuti kepergian mereka berdua yang berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung tegal untuk makan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #282828; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;Budiman masih terdiam dan terpana di tempat itu. Hingga istri dan putrinya kembali lagi dan keduanya menyapa Budiman. Mata Budiman kini mulai berkaca-kaca dan istrinya pun mengetahui itu. "Ada apa Pak?" Istrinya bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #282828; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;Dengan suara yang agak berat dan terbata Budiman menjelaskan: "Aku baru saja menambahkan sedekah kepada wanita tadi sebanyak 10 ribu rupiah!"&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #282828; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;&lt;br /&gt;Awalnya istri Budiman hampir tidak setuju tatkala Budiman mengatakan bahwa ia memberi tambahan sedekah kepada wanita pengemis. Namun Budiman kemudian melanjutkan kalimatnya:&lt;br /&gt;"Bu..., aku memberi sedekah kepadanya sebanyak itu. Saat menerimanya, ia berucap hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan dirimu, anak-anak dan keluarga kita. Panjaaaang sekali ia berdoa!&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #282828; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;Dia hanya menerima karunia dari Allah Swt sebesar 10 ribu saja sudah sedemikian hebatnya bersyukur. Padahal aku sebelumnya melihat di ATM saat aku mengecek saldo dan ternyata di sana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah. Saat melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa berucap hamdalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="color: #282828; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;Bu..., aku malu kepada Allah! Dia terima hanya 10 ribu begitu bersyukurnya dia kepada Allah dan berterimakasih kepadaku. Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah,&amp;nbsp;apakah dia yang menerima 10 ribu dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak dari itu namun sedikitpun aku tak berucap hamdalah."&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #282828; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: black; font-family: 'Times New Roman'; font-size: small; line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #282828; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: black; font-size: small; line-height: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Budiman mengakhiri kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan beberapa bulir air mata yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur sebagai hamba. Ya Allah, ampunilah kami para hamba-Mu yang kerap lalai atas segala nikmat-Mu!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #282828; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #282828; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;Sumber &lt;a href="http://www.alhikmahonline.com/content/view/256/6/"&gt;Alhikmah&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-4221734227361615780?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/4221734227361615780/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=4221734227361615780' title='19 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/4221734227361615780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/4221734227361615780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2011/10/10-ribu-rupiah-membuat-anda-mengerti.html' title='10 Ribu Rupiah Membuat Anda Mengerti Cara Bersyukur'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-5f_jD_krIkg/Tp-w9iH7QsI/AAAAAAAAAgE/dhVlmOXuiC4/s72-c/10ribu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>19</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-2826921449197804653</id><published>2011-10-09T20:42:00.001-07:00</published><updated>2011-10-09T20:42:20.755-07:00</updated><title type='text'>Bola Golf ...</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px;"&gt;Seorang Professor berdiri di depan kelas Filsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kelas dimulai, dia mengambil toples kosong dan mengisi dgn bola2 golf.&lt;br /&gt;Kemudian berkata kpd murid2nya, apakah toples sdh penuh...... ?&lt;br /&gt;Mereka setuju !!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia menuangkan batu koral ke dlm toples, mengguncang dgn ringan.&lt;br /&gt;Batu2 koral mengisi tempat yg kosong di antara bola2 golf.&lt;br /&gt;Kemudian dia bertanya kpd murid2nya, apakah toples sdh penuh ??&lt;br /&gt;Mereka setuju !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya dia menabur pasir ke dlm toples ...&lt;br /&gt;Tentu saja pasir menutupi semuanya.&lt;br /&gt;Profesor sekali lagi bertanya apakah toples sdh penuh..??.&lt;br /&gt;Para murid berkata, "Yes"...!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia menuangkan dua cangkir kopi ke dlm toples, dan secara efektif mengisi ruangan kosong di antara pasir.&lt;br /&gt;Para murid tertawa....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang.. saya ingin kalian memahami bahwa toples ini mewakili kehidupanmu. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bola2 golf adalah hal yg penting; Tuhan, keluarga, anak2, kesehatan.&lt;br /&gt;"Jika yg lain hilang dan hanya tinggal mrk, maka hidupmu msh ttp penuh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Batu2 koral adalah hal2 lain, spt pekerjaanmu, rumah dan mobil."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasir adalah hal2 yg sepele."&lt;br /&gt;"Jika kalian pertama kali memasukkan pasir ke dlm toples, maka tdk akan tersisa ruangan utk batu2 koral ataupun utk bola2 golf..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yg sama akan terjadi dlm hidupmu."&lt;br /&gt;"Jika kalian menghabiskan energi utk hal2 yg sepele, kalian tdk akan mempunyai ruang utk hal2 yg penting buat kalian."&lt;br /&gt;"Jadi Beri perhatian utk hal2 yg penting utk kebahagiaanmu.&lt;br /&gt;"Bermainlah dgn anak2mu."&lt;br /&gt;"Luangkan waktu utk check-up kesehatan."&lt;br /&gt;"Ajak pasanganmu utk keluar makan malam"&lt;br /&gt;"Berikan perhatian terlebih dahulu kpd bola2 golf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal2 yg benar2 penting. Atur prioritasmu.&lt;br /&gt;Baru yg terakhir, urus pasirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Salah satu murid mengangkat tangan dan bertanya, "Kopi mewakili apa?&lt;br /&gt;Profesor tersenyum, "Saya senang kamu bertanya."&lt;br /&gt;"Itu utk menunjukkan kpd kalian, sekalipun hidupmu tampak sdh sgt penuh, tetap selalu tersedia tempat utk secangkir kopi bersama sahabat".&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-2826921449197804653?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/2826921449197804653/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=2826921449197804653' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/2826921449197804653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/2826921449197804653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2011/10/bola-golf.html' title='Bola Golf ...'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-8800904676723768570</id><published>2011-10-06T20:36:00.000-07:00</published><updated>2011-10-06T20:36:06.901-07:00</updated><title type='text'>Belajar Sesuatu Dari Hilton</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px;"&gt;Mengubek2 lemari bacaan, saya tertarik membaca majalah bulanan Intisari No. 189 edisi April 1977. Ada cerita menarik ttg kerajaan Hilton. Mudah2an terinspirasi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Conrad Nicholson Hilton, multijutawan pemilik hotel terkenal meninggal pada usia 91 tahun. Sampai terakhir di usia nya, dia masih sempat menyediakan waktu utk melayani para tetamu persis ketika dia memulai usaha penginapan pertama kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu rahasia sukses dari nya adalah organisasi. Hilton jeli memanfaatkan kemampuan nya dalam berorganisasi. Ia mempunyai sistem khas untuk memperluas "kerajaannya". Negara dimana hotel itu dibangun harus menyediakan tanah, membayar bangunan dan sebagian dari perlengkapannya. Hilton tinggal memberi namanya dan mengurus nya( bisa dikatakan cikal bakal franchise, wallahu alam bisawab).&lt;br /&gt;Umumnya dalam kontrak dikatakan bahwa dua pertiga laba akan diserahkan kepada negara bersangkutan dan sisanya utk perusahaan Hilton.&lt;br /&gt;Ketika ia meninggal pd permulaan tahun 1977, Hilton Hotels Corp. mengelola atau menguasai 185 hotel di AS dengan penghasilan $372 juta pd tahun 1977. Cabang luar negeri nya, Hilton International Corp. (HIC) telah dijual ke Trans World Airlines pada tahun 1967. HIC ini mengelola 75 hotel di 64 kota dari 45 negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni Hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dicapai Conrad Hilton selama 91 tahun itu asyik dibaca tetapi sulit ditiru. Kita semua mengejar sukses, tetapi apa sebetulnya yang dimaksud sukses ? Sukses tidak bisa diukur dengan UANG. Terlalu banyak orang kaya gagal dan orang miskin yang tahu seni hidup hingga bisa dianggap sukses.&lt;br /&gt;Seorang buruh patut dibayar, tetapi orang tidak bisa mengukur prestasi dengan rekening bank nya. Mahatma Ghandi, seorang negarawan sukses di jaman kita, waktu meninggal warisannya hanya dua mangkuk tempat nasi, sebuah sendok, dua pasang sandal, buku Bhavagad-Gita, kacamata dan jam model kuno.&lt;br /&gt;Ukuran sukses seseorang bukan jumlah uang yang berhasil dihimpunnya tetapi berapa yang bisa diberikannya kepada orang lain. Hasil sesungguhnya dari sukses hidup bukan benda, tetapi kepuasan perasaan ada GUNANYA di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ingin sukses, ada 10 kiat sukses yang harus diaduk menjadi satu adonan.&lt;br /&gt;1. Temukan bakat khusus anda sendiri&lt;br /&gt;2. Berpikir besar, berbuat besar dan bercita-cita besar&lt;br /&gt;3. Harus jujur&lt;br /&gt;4. Hiduplah dengan antusiasme&lt;br /&gt;5. Jangan membiarkan anda diperintah harta&lt;br /&gt;6. Jangan risau terus&lt;br /&gt;7. Jangan terbelenggu pada masa lalu&lt;br /&gt;8. Cobalah memandang tinggi orang lain. Jangan sesekali meremehkan orang&lt;br /&gt;9. Terimalah tanggung jawab sepenuhnya utk dunia dimana anda hidup&lt;br /&gt;10. Berdoalah dengan penuh kepercayaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px;"&gt;Sumber : Dari Bang Deded Teman Kantor&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-8800904676723768570?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/8800904676723768570/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=8800904676723768570' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/8800904676723768570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/8800904676723768570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2011/10/belajar-sesuatu-dari-hilton.html' title='Belajar Sesuatu Dari Hilton'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-3484654324190380525</id><published>2011-05-22T18:37:00.000-07:00</published><updated>2011-05-22T18:38:42.539-07:00</updated><title type='text'>Kebahagiaan Yang Menular</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Seorang pemuda berangkat kerja dipagi hari... Memanggil taksi, dan naik...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Selamat pagi Pak,'...katanya menyapa sang sopir taksi terlebih dulu...&lt;br /&gt;'Pagi yg cerah bukan?' sambungnya sambil tersenyum,... lalu bersenandung kecil...&lt;br /&gt;Sang sopir tersenyum melihat keceriaan penumpangnya, dgn senang hati, Ia melajukan taksinya...&lt;br /&gt;Sesampainya ditempat tujuan.. Pemuda itu membayar dgn selembar 20ribuan, utk argo yg hampir 15 ribu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Kembaliannya buat bpk saja...selamat bekerja Pak..' kata pemuda dgn senyum...&lt;br /&gt;'Terima kasih...' jawab Pak sopir taksi dgn penuh syukur...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Wah.. aku bisa sarapan dulu nih... Pikir sopir taksi itu...&lt;br /&gt;Dan ia pun menuju kesebuah warung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Biasa Pak?' tanya si mbok warung.&lt;br /&gt;'Iya biasa.. Nasi sayur... Tapi.. Pagi ini tambahkan sepotong ayam'..jawab Pak sopir dgn tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, ketika membayar nasi , di tambahkannya seribu rupiah 'Buat jajan anaknya si mbok,.. 'begitu katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dgn tambahan uang jajan seribu, pagi itu anak si mbok berangkat kesekolah dgn senyum lebih lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bisa membeli 2 buah roti pagi ini... Dan diberikannya pada temannya yg tdk punya bekal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah...cerita bisa berlanjut.. Bergulir... .sprt bola salju...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak sopir bisa lebih bahagia hari itu...&lt;br /&gt;Begitu juga keluarga si mbok...&lt;br /&gt;Teman2 si anak...&lt;br /&gt;keluarga mrk...&lt;br /&gt;Semua tertular kebahagiaan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan, sprt juga kesusahan, bisa menular kpd siapa saja disekitar kita...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan adalah sebuah pilihan...&lt;br /&gt;Siapkah kita menularkan kebahagiaan hari ini??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa menerima itu adalah berkah...&lt;br /&gt;Tapi bisa memberi adalah anugerah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga sisa hidup kita selalu bahagia dan membuat org lain bahagia dgn keberadaan kita,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari selalu berbagi, semoga ada arus membahagiakan yg terus berputar, dan jgn pernah dengki dgn kebahagiaan yg dimiliki org lain, apalagi berusaha menghilangkannya&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Sumber : Milis Indonesian Business Forum&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-3484654324190380525?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/3484654324190380525/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=3484654324190380525' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/3484654324190380525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/3484654324190380525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2011/05/kebahagiaan-yang-menular.html' title='Kebahagiaan Yang Menular'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-898659650997435275</id><published>2011-01-19T18:56:00.000-08:00</published><updated>2011-01-19T18:57:15.087-08:00</updated><title type='text'>Kisah Inspiratif, Siomay Mr Pinky...</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; border-collapse: collapse; "&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;Jalan hidup tak bisa ditebak. Sriyono, seorang mantan miliarder, kini berjualan siomay keliling. Namun, berkat penampilannya yang eksentrik, predikat miliarder itu tampaknya bakal kembali disandangnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;br /&gt;Menjadi penjual siomay keliling dengan pakaian dan aksesori serba pink membuat Sriyono terkenal, terutama di dunia maya. Mantan miliarder itu juga pernah menjadi bintang tamu di sebuah stasiun televisi. Bahkan, ada yang menawari bermain sinetron. Semua itu dia lakukan demi bisa bertemu anaknya.&lt;/div&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;br /&gt;Minggu lalu (16/1) INDOPOS menelusuri rute jualan Sriyono di kawasan kelas menengah ke atas di Jalan Gandaria Tengah, Jakarta Selatan, tak ada orang yang tahu namanya. Tapi, ketika disebut nama Siomay Pink (barang dagangan Sriyono), kebanyakan warga yang ditemui mengenali. Mulai sopir bemo, satpam, tukang ojek, hingga anak-anak.&lt;/div&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;br /&gt;Siomay Pink juga menjadi identitas pria asal Klaten, Jawa Tengah, itu di dunia maya. Mesin pencari Google menyebut 83.500 hasil yang merujuk pada usaha siomay yang dijalankan Sriyono sambil berkeliling di atas sepeda pink.&lt;/div&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;br /&gt;Sriyono menjadi topik hangat di kalangan komunitas entrepreneur. Sebab, selain berjualan dengan kostum dan perlengkapan mencolok serbapink, kegigihannya dalam berwirausaha menjadi inspirasi tersendiri.&lt;/div&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;br /&gt;’’Mungkin karena saya dianggap nyentrik. Itu saja. Tapi, entahlah, saya nikmati saja momen-momen ini,’’ ujarnya sambil melayani pelanggan. Dia pun meracik bumbu siomay dari panci pink yang terikat di belakang sepeda pink yang telah dimodifikasi dengan sejumlah kotak kayu yang juga berwarna pink. Di depan sepeda itu terdapat dua keranjang pink dengan dua teddy bear pink terduduk di dalamnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;br /&gt;Sriyono juga mengenakan kaus pink, bercelana pendek pink, topi pink, serta jam dan bahkan anting pink Namun, di balik penampilan nyentrik itu, tersimpan kisah perjuangan hidup yang cukup berliku.&lt;/div&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;br /&gt;Kisah sukses Sriyono dimulai pada 1969 ketika pria kelahiran Klaten, 21 Juli 1954, tersebut merantau ke Jakarta untuk menjadi sales mobil. Ketika itu, tiba-tiba saja dia sangat gemar pada siomay dan memutuskan untuk belajar cara membuat makanan itu. Dia lantas berguru pada seorang keturunan Tiongkok asal Pulau Bangka.&lt;/div&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;br /&gt;Dialah yang mengajari Sriyono membuat siomay. Setahun penuh Sriyono bekerja tanpa digaji untuk mendapatkan resep rahasia sang penjual siomay itu. Beberapa tahun kemudian, sang guru meninggal dan mewariskan usaha Siomay kepada Sriyono. Pada 1980-an, Sriyono memberanikan diri memulai usaha siomay keliling di Jakarta dengan modal patungan dengan beberapa teman.&lt;/div&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;br /&gt;Berbagai cara ditempuh untuk membesarkan usaha tersebut. Mulai membikin armada siomay sepeda keliling sampai mendirikan warung-warung kecil. Puncak sukses diraih pada 1996 ketika dirinya berhasil membuat outlet di salah satu mal elite di ibu kota, yakni Plaza Senayan.&lt;/div&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;br /&gt;Sriyono adalah pendiri dan pemilik outlet Siomay Senayan dengan beberapa cabang. Pendapatan bisnisnya ketika itu mencapai Rp 2 miliar per tahun. Dia menikmati sukses berjualan siomay dengan berstatus bujangan. Sriyono mengenang, tinggal di ibu kota dengan duit melimpah ketika itu bagai hidup di surga.&lt;/div&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, bisnisnya sangat kuat sehingga ketika krisis 1998 menerpa modalnya tidak berkurang. Tapi, dia justru masih bisa mendirikan outlet di beberapa tempat lain. April 1999, Sriyono memutuskan untuk mengakhiri masa lajang dan menikahi putri seorang polisi.&lt;br /&gt;Pernikahan yang tidak direstui orang tua sang istri itu kemudian menjadi bom waktu bagi kehidupan Sriyono. Pertengkaran demi pertengkaran pun terus muncul sehingga konsentrasi Sriyono pada bisnisnya mulai berkurang.&lt;/div&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, dia menjadi satu-satunya pengusaha siomay yang meneken kontrak dengan gerai waralaba Kentucky Fried Chicken (KFC). Dia menyuplai siomay di puluhan gerai KFC di Jakarta yang ketika itu memiliki menu khusus siomay.&lt;/div&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;br /&gt;Namun, persoalan rumah tangga yang tak kunjung selesai pelan-pelan membuat manajemen bisnisnya kolaps. Akhirnya, Sriyono terpaksa menjual hak paten Siomay Senayan dan usahanya pun gulung tikar. Awal 2004, setelah 4 tahun 7 bulan berumah tangga dan dikarunia dua anak, yakni Peksi Safira Miradalita (kini 11 tahun) dan Pramesti Dewi Angelita (kini 10 tahun), sang istri menggugat cerai Sriyono. ’’Saya ingat. (Saat itu) hanya baju yang melekat di badan yang saya miliki,’’ kenangnya sambil menerawang.&lt;/div&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;br /&gt;Setelah perceraian, sang istri kemudian mengasingkan diri dan membawa serta dua anak Sriyono. Sejak itu dia pun tidak pernah lagi bertemu dua buah hatinya. Dalam kondisi bangkrut, Sriyono sempat ditampung mantan rekan-rekan bisnisnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;br /&gt;Dia pun sempat mendapat bantuan modal dan berusaha merintis lagi usaha siomay kelilingnya mulai nol dengan konsep awal, yakni belasan armada siomay keliling. Tapi, pada 2008, usaha itu lagi-lagi bangkrut. ’’Saya selalu ingat anak saya dan rindu yang tidak tertahan membuat saya sulit berkonsentrasi,’’ katanya. Kegagalan kali ini membuat Sriyono tertekan.&lt;br /&gt;Dia pun memilih menjadi gelandangan dan tinggal di jalanan kotakota Jakarta. Tiap malam, dia tidur berpindah- pindah, dari halte bus ke kolong jembatan dan dari pinggir jalan ke masjidmasjid. Hingga 2009, Sriyono memilih menetap di Masjid Al Bina di kawasan Senayan.&lt;br /&gt;Setelah beberapa minggu tinggal di sana, tiba-tiba dia mendapat bantuan modal dari seorang jamaah pengajian yang mengetahui latar belakang dirinya sebagai pengusaha siomay. ’’Waktu itu saya diberi modal Rp 1 juta untuk memulai bisnis lagi,’’ katanya.&lt;br /&gt;Awal 2010, Sriyono pun sudah memiliki gerai siomay di mal Pasaraya Blok M yang bernama Siomay Maestro. Namun, lagi-lagi karena tinggal kesepian dan rindu kepada dua buah hatinya, konsentrasinya dalam berbisnis terganggu. Dia pun kembali bangkrut. Sampai saat ini, Sriyono masih berutang kepada manajemen Pasaraya Rp 13 juta.&lt;/div&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;br /&gt;Di ambang keputusasaan, sebulan menjelang bulan puasa 2010, dia memutar otak dan mendapat ide brilian. Yakni, kembali memulai usaha siomay keliling, tapi dengan tampilan yang eksentrik.&lt;/div&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;br /&gt;Diharapkan, ketika dia menjadi eksentrik, sang anak akan mengetahui dan dirinya dapat bersua dua buah hatinya setelah lima tahun berpisah tanpa kabar itu. Sriyono pun memutuskan mengenakan warna pink sebagai seragam berjualan. Pernak-pernik pink pun dikenakan untuk berdagang keliling.&lt;/div&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;br /&gt;Dia juga berusaha tampil di setiap momentum di mana publik Jakarta banyak yang berkumpul. Sriyono akhirnya dijuluki ’’maskot’’ dalam even Hari Bebas Kendaraan alias Car Free Day yang diberlakukan sebulan sekali di jalan protokol Jakarta. ’’Semakin banyak orang yang kenal saya, kesempatan untuk bertemu kembali dengan anak saya semakin besar,’’ katanya.&lt;br /&gt;Tapi, usaha tampil nyeleneh itu tidak semudah yang dia bayangkan. Setiap hari, bahkan sampai sekarang, Sriyono harus rela menjadi bahan ejekan orang-orang yang lewat. Tak jarang perkataan mereka sangat pedas dan menusuk hati. Tak sedikit yang mengira Sriyono adalah seorang waria yang nyambi berjualan siomay saat siang dan ’’berpraktik’’ saat malam.&lt;/div&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;br /&gt;Tapi, demi menemukan sang anak, hinaan dan cacian itu ditanggapi dengan se-nyum dan hati ikhlas. Bahkan, kini dia sudah memiliki 34 kaus pink, 18 pasang sandal pink, 12 topi pink, 3 jam pink, 3 pasang kacamata pink, kalung pink braces, anting-anting pink, dan tiga pasang sepatu pink.&lt;/div&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;br /&gt;Upaya tampil eksentrik itu membuahkan hasil ketika dirinya muncul sebagai topik di Twitter dan BlackBerry Messenger. Popularitasnya menanjak ketika kisah usahanya dipublikasikan di salah satu situs Terbesar Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;br /&gt;Pertengahan Desember 2010, sebuah koran berbahasa Inggris di Jakarta memuat foto Sriyono dengan full aksesori pink. Hasilnya, pekan lalu, awal Januari 2010, sebuah televisi nasional berhasil mempertemukan Sriyono dengan sang anak.&lt;/div&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;br /&gt;’’Waktu itu, rasa senangnya tak terhingga. Saya bersyukur mereka mengakui saya sebagai bapak, walaupun mereka memiliki ayah tiri warga Inggris yang kaya,’’ ujarnya, kali ini sambil terisak.&lt;/div&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;br /&gt;Tampil di televisi mendatangkan keuntungan bagi usaha Sriyono. Dalam dua pekan terakhir, omzet berjualan keliling yang biasanya hanya Rp 200 ribu per hari naik lima kali lipat menjadi Rp 1 juta per hari. Banyak pesanan dalam jumlah besar sehingga pendapatan berjualan berkeliling terdongkrak. Sejak pekan lalu, seorang pengusaha getol menawari Sriyono untuk membuka franchise siomay Yo Pink di beberapa lokasi di Jakarta.&lt;/div&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;br /&gt;Dia juga mendapat tawaran untuk bermain sinetron. Rundown jadwal casting oleh sebuah rumah produksi juga sudah di tangannya. Lalu, apa yang akan dilakukan sekarang? Sriyono menyatakan, dirinya masih berencana meneruskan usaha berjualan dan akan membuka warung kecil di Jalan Otto Iskandar Muda, Jakarta. Dia fokus meraih sukses lagi dengan Siomay Yo Pink itu.&lt;br /&gt;’’Saya ingin anak saya bangga dengan bapaknya si penjual siomay berkaus pink ini. Saya akan bangkit demi putri-putri saya,’’ ujarnya lantas tersenyum. (sumber: &lt;a href="http://indopos.co.id/" target="_blank" style="color: rgb(0, 0, 204); "&gt;indopos.co.id&lt;/a&gt;).&lt;/div&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;br /&gt;Pesan Moral yg disampaikan dari Kisah ini adalah Jangan Pantang Menyerah terhadap kondisi Maju terus walau kesulitan mendera. Tuhan pasti akan membantu umatnya yang mau berusaha dan tentu berdoa.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-898659650997435275?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/898659650997435275/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=898659650997435275' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/898659650997435275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/898659650997435275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2011/01/kisah-inspiratif-siomay-mr-pinky.html' title='Kisah Inspiratif, Siomay Mr Pinky...'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-4022762465989567117</id><published>2010-07-28T03:24:00.000-07:00</published><updated>2010-07-28T03:33:40.580-07:00</updated><title type='text'>5 Kualitas Pensil</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Melihat Neneknya sedang asyik menulis Adi bertanya, "Nenek sedang menulis apa?"&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(56, 118, 29); font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(56, 118, 29); font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Mendengar pertanyaan cucunya, sang Nenek berhenti menulis lalu berkata, "Adi cucuku, sebenarnya nenek sedang menulis tentang Adi. Namun ada yang lebih penting dari isi tulisan Nenek ini, yaitu pensil yang sedang Nenek pakai. Nenek berharap Adi dapat menjadi seperti pensil ini ketika besar nanti."&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(56, 118, 29); font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(56, 118, 29); font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Apa maksud Nenek bahwa Adi harus dapat menjadi seperti sebuah pensil? Lagipula sepertinya pensil itu biasa saja, sama seperti pensil lainnya," jawab Adi dengan bingung. &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(56, 118, 29); font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(56, 118, 29); font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Nenek tersenyum bijak dan menjawab, "Itu semua tergantung bagaimana Adi melihat pensil ini. Tahukah kau, Adi, bahwa sebenarnya pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup."&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(56, 118, 29); font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(56, 118, 29); font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Apakah Nenek bisa menjelaskan lebih detil lagi padaku?" pinta Adi&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(56, 118, 29); font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(56, 118, 29); font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Tentu saja Adi," jawab Nenek dengan penuh kasih&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(56, 118, 29); font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(56, 118, 29); font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Kualitas pertama, pensil dapat mengingatkanmu bahwa kau bisa melakukan hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kau jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkahmu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya".&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(56, 118, 29); font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(56, 118, 29); font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Kualitas kedua, dalam proses menulis, kita kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil yang kita pakai. Rautan itu pasti akan membuat pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, pensil itu akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga denganmu, dalam hidup ini kau harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik".&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(56, 118, 29); font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(56, 118, 29); font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar".&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(56, 118, 29); font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(56, 118, 29); font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu".&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(56, 118, 29); font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(56, 118, 29); font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga Adi, kau harus sadar kalau apapun yang kau perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan".&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(56, 118, 29); font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(56, 118, 29); font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Nah, bagaimana Adi? Apakah kau mengerti apa yang Nenek sampaikan?"&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(56, 118, 29); font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(56, 118, 29); font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Mengerti Nek, Adi bangga punya Nenek hebat dan bijak sepertimu."&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak hal dalam kehidupan kita yang ternyata mengandung filosofi kehidupan dan menyimpan nilai-nilai yang berguna bagi kita. Semoga memberikan manfaat.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;source:&lt;a href="http://another-reni.blogspot.com/"&gt;http://another-reni.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-4022762465989567117?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/4022762465989567117/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=4022762465989567117' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/4022762465989567117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/4022762465989567117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2010/07/5-kualitas-pensil.html' title='5 Kualitas Pensil'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-1427742247359544794</id><published>2010-06-30T01:59:00.000-07:00</published><updated>2010-06-30T02:44:14.775-07:00</updated><title type='text'>Mabuk Bikin Masalah</title><content type='html'>Suatu ketika, ada seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;businessman&lt;/span&gt; yang menghadiri pesta sampai mabuk. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Businessman&lt;/span&gt; kita ini tahu bahwa di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aussie&lt;/span&gt;, ada hukuman berat bagi orang-orang yang melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;drink-driving&lt;/span&gt; (nyetir mobil dalam keadaan mabuk). Tapi malam itu, si &lt;span style="font-style: italic;"&gt;businessman&lt;/span&gt; mencoba peruntungannya, siapa tahu ia tidak dicegat polisi di jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sialnya, ternyata malam itu semua kendaraan di jalanan yang dilalui oleh si &lt;span style="font-style: italic;"&gt;businessman&lt;/span&gt; diperiksa polisi. Tidak mungkin baginya untuk kabur karena kendaraan lain sudah mengantre di belakang kendaraannya. Dengan was-was, ia menunggu gilirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala gilirannya tiba, oleh polisi ia dipersilahkan untuk keluar dari mobilnya. Lalu, ia diberikan sebuah alat tes kadar alkohol serupa alat tiup untuk menguji kadar alkohol dalam napasnya. Tepat ketika ia baru hendak menghembuskan napasnya ke dalam alat itu, tiba-tiba terdengar suara berdentum di belakang. Teryata ada mobil yang menabrak mobil lainnya. Segera polisi mengambil kembali alat tes itu seraya berkata, "Lebih baik kami mengurusi tabrakan itu daripada mengurusi kamu. Sekarang, kamu pulang saja!". Dengan perasaan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;plong&lt;/span&gt;, ia segera masuk ke mobil, lalu tancap gas untuk pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan paginya, ketika masih enak-enaknya tidur di kasur nan empuk, ia mendengar bel pintu rumahnya didering berkali-kali tanpa putus. Dengan perasaan jengkel, ia bergegas turun ke lantai bawah, lalu membuka pintu depan. Alangkah kagetnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;businessman&lt;/span&gt; kita ini tatkala melihat dua orang polisi berbadan besar berdiri di depan pintu rumahnya itu. Tapi si &lt;span style="font-style: italic;"&gt;businessman&lt;/span&gt; berpikiran, "Kan aku tidak berbuat kesalahan apapun. Jadi, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngapain&lt;/span&gt; aku takut?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disapanya kedua polisi itu, "Yes, can I help you, Sir?" ("Ya, ada yang bisa saya bantu, Pak?"). Salah satu polisi itu menjawab, "Apa kami bisa melihat garasi mobil Anda?"&lt;br /&gt;"Tentu saja!" jawab si &lt;span style="font-style: italic;"&gt;businessman&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Tatkala &lt;span style="font-style: italic;"&gt;businessman&lt;/span&gt; ini membukakan pintu garasi mobilnya, hampir saja jantungnya copot.Di dalam garasinya itu, ternyata yang didapatinya bukan mobil miliknya, namun mobil polisi. Rupa-rupanya, malam sebelumnya, ketika diminta polisi untuk pulang, karena mabuk, bukannya ia masuk ke dalam mobilnya sendiri, tapi malahan ia salah masuk ke dalam mobil polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: Hore! Guru si Cacing Datang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-1427742247359544794?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/1427742247359544794/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=1427742247359544794' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/1427742247359544794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/1427742247359544794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2010/06/mabuk-bikin-masalah.html' title='Mabuk Bikin Masalah'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-6131918792484203751</id><published>2010-06-22T16:47:00.001-07:00</published><updated>2010-06-22T16:47:23.092-07:00</updated><title type='text'>Filosofi Charles Schulz</title><content type='html'>&lt;p&gt;Anda tdk perlu menjawab smua pertanyaan, bacalah dan dapatkan pesan berharga.   &lt;br /&gt;1. Nama 5 org terkaya didunia    &lt;br /&gt;2. Nama 5 pemenang tropy    &lt;br /&gt;3. Nama 5 miss america terakhir    &lt;br /&gt;4. Nama 5 org pemenang nobel    &lt;br /&gt;5. Name 5 org pemenang Academy Award    &lt;br /&gt;Intinya adalah, tidak ada seorangpun dr kita yg masih mengingatnya. Tepuk tangan telah sirna, penghargaan beralih.    &lt;br /&gt;Pencapaian telah dilupakan.    &lt;br /&gt;Ada kuis lain, lihatlah bagaimana anda mengerjakan yg ini :    &lt;br /&gt;1. Nama 5 guru yg telah membantu anda dlm perjalanan sukses anda disekolah    &lt;br /&gt;2. Nama 5 teman yg membantu anda dlm waktu sulit    &lt;br /&gt;3. Nama 5 org yg mengajarkan anda sesuatu yg berharga    &lt;br /&gt;4. Nama 5 org yg membuatmu merasa dihargai dan spesial.    &lt;br /&gt;5. Nama 5 org yg anda sangat menikmati waktu bersamanya.    &lt;br /&gt;Lebih mudah?    &lt;br /&gt;Pelajarannya : org2 yg membuat perbedaan didalam hidupmu bukanlah orang2 yg memenangkan penghargaan, tapi mereka adalah org2 yg peduli dan mengasihi anda dgn tulus.    &lt;br /&gt;Jadi, hargailah setiap saat yg anda miliki bersama org2 tersebut.    &lt;br /&gt;Karna waktu selalu berjalan dan kita tdk pernah tau apa yg akan terjadi ketika org2 tersebut dipindahkan Tuhan dr sisi kita.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari milis AirPutih&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-6131918792484203751?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/6131918792484203751/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=6131918792484203751' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/6131918792484203751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/6131918792484203751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2010/06/filosofi-charles-schulz.html' title='Filosofi Charles Schulz'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-6934453345916371377</id><published>2010-02-16T20:55:00.001-08:00</published><updated>2010-02-16T20:55:11.308-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inspirasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hikmah'/><title type='text'>Jerry Positive Thinking</title><content type='html'>&lt;p&gt;Jerry is the kind of guy you love to hate. He is always in a good mood and always has something positive to say. When someone would ask him how he was doing, he would reply, &amp;quot;If I were any better, I would be twins!&amp;quot; He was a unique manager because he had several waiters who had followed him around from restaurant to restaurant.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;The reason the waiters followed Jerry was because of his attitude. He was a natural motivator. If an employee was having a bad day, Jerry was there telling the employee how to look on the positive side of the situation.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seeing this style really made me curious, so one day I went up to Jerry and asked him, I don't get it! You can't be a positive person all of the time. How do you do it?&amp;quot; Jerry replied, &amp;quot;Each morning I wake up and say to myself, Jerry, you have two choices today. You can choose to be in a good mood or you can choose to be in a bad mood.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;I choose to be in a good mood. Each time something bad happens, I can choose to be a victim or I can choose to learn from it. I choose to learn from it. Every time someone comes to me complaining, I can choose to accept their complaining or I can point out the positive side of life. I choose the positive side of life.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Yeah, right, it's not that easy,&amp;quot; I protested. &amp;quot;Yes, it is,&amp;quot; Jerry said. &amp;quot;Life is all about choices. When you cut away all the junk, every situation is a choice. You choose how you react to situations. You choose how people will affect your mood. You choose to be in a good mood or bad mood. The bottom line: It's your choice how you live life.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;I reflected on what Jerry said. Soon thereafter, I left the restaurant industry to start my own business. We lost touch, but I often thought about him when I made a choice about life instead of reacting to it.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Several years later, I heard that Jerry did something you are never supposed to do in a restaurant business: he left the back door open one morning and was held up at gun point by three armed robbers. While trying to open the safe, his hand, shaking from nervousness, slipped off the combination. The robbers panicked and shot him. Luckily, Jerry was found relatively quickly and rushed to the local trauma center. After 18 hours of surgery and weeks of intensive care, Jerry was released from the hospital with fragments of the bullets still in his body.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;I saw Jerry about six months after the accident. When I asked him how he was, he replied, &amp;quot;If I were any better, I'd be twins. Wanna see my scars?&amp;quot; I declined to see his wounds, but did ask him what had gone through his mind as the robbery took place. “The first thing that went through my mind was that I should have locked the back door,&amp;quot; Jerry replied. &amp;quot;Then, as I lay on the floor, I remembered that I had two choices: I could choose to live or I could choose to die. I chose to live.&amp;quot;    &lt;br /&gt;&amp;quot;Weren't you scared? Did you lose consciousness?&amp;quot; I asked. Jerry continued, &amp;quot;...the paramedics were great. They kept telling me I was going to be fine. But when they wheeled me into the ER and I saw the expressions on the faces of the doctors and nurses, I got really scared. In their eyes, I read 'he's a dead man.'&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;I knew I needed to take action.&amp;quot; &amp;quot; What did you do?&amp;quot; I asked. &amp;quot;Well, there was a big burly nurse shouting questions at me,&amp;quot; said Jerry. &amp;quot;She asked if I was allergic to anything. 'Yes,' I replied. The doctors and nurses stopped working as they waited for my reply. I took a deep breath and yelled, 'Bullets!' Over their laughter, I told them, 'I am choosing to live. Operate on me as if I am alive, not dead.'&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jerry lived thanks to the skill of his doctors, but also because of his amazing attitude. I learned from him that every day we have the choice to live fully. Attitude, after all, is everything.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sumber : &lt;a title="http://wisdomlanddhi.blogspot.com" href="http://wisdomlanddhi.blogspot.com"&gt;http://wisdomlanddhi.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-6934453345916371377?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/6934453345916371377/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=6934453345916371377' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/6934453345916371377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/6934453345916371377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2010/02/jerry-positive-thinking.html' title='Jerry Positive Thinking'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-5348548961934499113</id><published>2010-01-21T18:10:00.001-08:00</published><updated>2010-01-21T18:13:21.962-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inspirasi'/><title type='text'>Pidato menakjuban anak 12 tahun di ruang sidang PBB…</title><content type='html'>&lt;p&gt;   &lt;p&gt;Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki,     &lt;br /&gt;seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental      &lt;br /&gt;Children's Organization ( ECO ).      &lt;br /&gt;ECO sendiri adalah sebuah kelompok kecil anak yg mendedikasikan diri      &lt;br /&gt;untuk belajar dan mengajarkan pada anak&amp;quot; lain mengenai masalah      &lt;br /&gt;lingkungan.      &lt;br /&gt;Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB,      &lt;br /&gt;dimana pada saat itu Severn yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah      &lt;br /&gt;pidato kuat yg memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa      &lt;br /&gt;pemimpin dunia terkemuka.      &lt;br /&gt;Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga      &lt;br /&gt;bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai      &lt;br /&gt;ruang sidang penuh dengan orang terkemuka yg berdiri dan memberikan      &lt;br /&gt;tepuk tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun.      &lt;br /&gt;Inilah Isi pidato tersebut: (Sumber: The Collage Foundation)      &lt;br /&gt;Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental      &lt;br /&gt;Children Organization      &lt;br /&gt;Kami adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12      &lt;br /&gt;dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga,      &lt;br /&gt;Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk      &lt;br /&gt;bisa datang kesini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan pada anda      &lt;br /&gt;sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini di      &lt;br /&gt;sini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan      &lt;br /&gt;masa depan bagi diri saya saja.      &lt;br /&gt;Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum      &lt;br /&gt;atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi      &lt;br /&gt;semua generasi yg akan datang.      &lt;br /&gt;Saya berada disini mewakili anak-anak yg kelaparan di seluruh dunia      &lt;br /&gt;yang tangisannya tidak lagi terdengar.      &lt;br /&gt;Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat      &lt;br /&gt;yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan      &lt;br /&gt;habitatnya. Kami tidak boleh tidak di dengar.      &lt;br /&gt;Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena      &lt;br /&gt;berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena      &lt;br /&gt;saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.      &lt;br /&gt;Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa      &lt;br /&gt;tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker.      &lt;br /&gt;Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu      &lt;br /&gt;persatu mengalami kepunahan tiap harinya - hilang selamanya.      &lt;br /&gt;Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar      &lt;br /&gt;binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan      &lt;br /&gt;burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal      &lt;br /&gt;tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.      &lt;br /&gt;Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini      &lt;br /&gt;ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?      &lt;br /&gt;Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap      &lt;br /&gt;bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua      &lt;br /&gt;pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki      &lt;br /&gt;semua pemecahannya. Tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa      &lt;br /&gt;anda sekalian juga sama seperti saya!      &lt;br /&gt;Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.      &lt;br /&gt;Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai      &lt;br /&gt;asalnya.      &lt;br /&gt;Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang      &lt;br /&gt;telah punah.      &lt;br /&gt;Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di      &lt;br /&gt;tempatnya, yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika anda tidak      &lt;br /&gt;tahu bagaima cara memperbaikinya. TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!      &lt;br /&gt;Disini anda adalah delegasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota      &lt;br /&gt;perhimpunan, wartawan atau politisi - tetapi sebenarnya anda adalah      &lt;br /&gt;ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi      &lt;br /&gt;- dan anda semua adalah anak dari seseorang.      &lt;br /&gt;Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua      &lt;br /&gt;adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih      &lt;br /&gt;dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi      &lt;br /&gt;udara, air dan tanah di planet yang sama - perbatasan dan pemerintahan      &lt;br /&gt;tidak akan mengubah hal tersebut.      &lt;br /&gt;Saya hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita      &lt;br /&gt;semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu      &lt;br /&gt;untuk tujuan yang sama.      &lt;br /&gt;Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak      &lt;br /&gt;ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.      &lt;br /&gt;Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan. Kami      &lt;br /&gt;membeli sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang.      &lt;br /&gt;Walaupun begitu tetap saja negara-negara di Utara tidak akan berbagi      &lt;br /&gt;dengan mereka yang memerlukan.      &lt;br /&gt;Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk      &lt;br /&gt;kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.      &lt;br /&gt;Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan      &lt;br /&gt;dan papan yang berkecukupan - kami memiliki jam tangan, sepeda,      &lt;br /&gt;komputer dan perlengkapan televisi.      &lt;br /&gt;Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami      &lt;br /&gt;menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah      &lt;br /&gt;satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: &amp;quot; Aku berharap aku      &lt;br /&gt;kaya, dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan      &lt;br /&gt;makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih      &lt;br /&gt;sayang &amp;quot; .      &lt;br /&gt;Jika seorang anak yang berada dijalanan dan tidak memiliki apapun,      &lt;br /&gt;bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih      &lt;br /&gt;begitu serakah?      &lt;br /&gt;Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia      &lt;br /&gt;sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan      &lt;br /&gt;yang begitu besar, bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari      &lt;br /&gt;anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak      &lt;br /&gt;yang kelaparan di Somalia ; seorang korban perang timur tengah atau      &lt;br /&gt;pengemis di India .      &lt;br /&gt;Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa jika semua      &lt;br /&gt;uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat      &lt;br /&gt;kemiskinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa      &lt;br /&gt;indah jadinya dunia ini.      &lt;br /&gt;Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk      &lt;br /&gt;berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan      &lt;br /&gt;orang lain, untuk mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang      &lt;br /&gt;kita timbulkan; untuk tidak menyakiti makhluk hidup lain, untuk      &lt;br /&gt;berbagi dan tidak tamak. Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang      &lt;br /&gt;anda ajarkan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?      &lt;br /&gt;Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konperensi ini, mengapa anda      &lt;br /&gt;melakukan hal ini - kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah      &lt;br /&gt;yang memutuskan, dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua      &lt;br /&gt;seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan      &lt;br /&gt;mengatakan, &amp;quot; Semuanya akan baik-baik saja , 'kami melakukan yang      &lt;br /&gt;terbaik yang dapat kami lakukan dan ini bukanlah akhir dari      &lt;br /&gt;segalanya.”      &lt;br /&gt;Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut      &lt;br /&gt;kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda      &lt;br /&gt;semua? Ayah saya selalu berkata, “Kamu akan selalu dikenang karena      &lt;br /&gt;perbuatanmu, bukan oleh kata-katamu”.      &lt;br /&gt;Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari.      &lt;br /&gt;Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya      &lt;br /&gt;menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.      &lt;br /&gt;Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.      &lt;br /&gt;***********      &lt;br /&gt;Servern Cullis-Suzuki telah membungkam satu ruang sidang Konperensi      &lt;br /&gt;PBB, membungkam seluruh orang-orang penting dari seluruh dunia hanya      &lt;br /&gt;dengan pidatonya. Setelah pidatonya selesai serempak seluruh orang      &lt;br /&gt;yang hadir diruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan      &lt;br /&gt;yang meriah kepada anak berusia 12 tahun itu.      &lt;br /&gt;Dan setelah itu, ketua PBB mengatakan dalam pidatonya:      &lt;br /&gt;&amp;quot; Hari ini saya merasa sangatlah malu terhadap diri saya sendiri      &lt;br /&gt;karena saya baru saja disadarkan betapa pentingnya linkungan dan      &lt;br /&gt;isinya disekitar kita oleh anak yang hanya berusia 12 tahun, yang maju      &lt;br /&gt;berdiri di mimbar ini tanpa selembarpun naskah untuk berpidato.      &lt;br /&gt;Sedangkan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh      &lt;br /&gt;asisten saya kemarin. Saya ... tidak kita semua dikalahkan oleh anak      &lt;br /&gt;yang berusia 12 tahun &amp;quot;&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;&lt;/p&gt; Ini videonya :     &lt;p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=TQmz6Rbpnu0"&gt;YouTube – The girl who silenced the world for 5 minutes&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-5348548961934499113?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/5348548961934499113/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=5348548961934499113' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/5348548961934499113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/5348548961934499113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2010/01/pidato-menakjuban-anak-12-tahun-di.html' title='Pidato menakjuban anak 12 tahun di ruang sidang PBB…'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-7896541007505917426</id><published>2009-12-10T22:49:00.000-08:00</published><updated>2009-12-10T22:50:07.068-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inspirasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kemenangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='winner'/><title type='text'>8x3=23</title><content type='html'>Yan Hui adalah murid kesayangan Confusius yang suka belajar, sifatnya baik. Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumunin banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pembeli berteriak: &amp;quot;3x8 = 23, kenapa kamu bilang 24?&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: &amp;quot;Sobat, 3x8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi&amp;quot;.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: &amp;quot;Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan&amp;quot;.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Yan Hui: &amp;quot;Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?&amp;quot;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pembeli kain: &amp;quot;Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?&amp;quot;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Yan Hui: &amp;quot;Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu&amp;quot;.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius. Setelah Confusius tahu duduk persoalannya, Confusius&amp;nbsp; berkata&lt;br /&gt;  kepada Yan Hui sambil tertawa: &amp;quot;3x8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Kasihkan jabatanmu kepada dia.&amp;quot; Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya. Ketika mendengar Confusius bilang dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt; Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya. Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasehat : &amp;quot;Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh.&amp;quot;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt; Yan Hui bilang baiklah lalu berangkat pulang.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Di dalam perjalanan tiba2 angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba2 ingat nasehat Confusius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Apakah saya akan membunuh orang? Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut malam dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai didepan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasehat Confusius, jangan membunuh. Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan berkata: &amp;quot;Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?&amp;quot;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Confusius berkata: &amp;quot;Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon. Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh&amp;quot;.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Yan Hui berkata: &amp;quot;Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum.&amp;quot;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Confusius bilang: &amp;quot;Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3x8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang 3x8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa. Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?&amp;quot;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : &amp;quot;Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar2 malu.&amp;quot;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Cerita ini mengingatkan kita:&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Jikapun aku bertaruh dan memenangkan seluruh dunia, tapi aku kehilangan kamu, apalah artinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah kebenaran, tapi malah kehilangan sesuatu yang lebih penting.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Banyak hal ada kadar kepentingannya. Janganlah gara2 bertaruh mati2an untuk prinsip kebenaran itu, tapi akhirnya malah menyesal, sudahlah terlambat.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan. Mundur selangkah, malah yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Bersikeras melawan pelanggan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Bersikeras melawan atasan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Bersikeras melawan suami. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Bersikeras melawan teman. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kemenangan bukanlah soal medali, tapi terlebih dulu adalah kemenangan terhadap diri dan lebih penting kemenangan di dalam hati.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;BE A WINNER!&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-7896541007505917426?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/7896541007505917426/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=7896541007505917426' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/7896541007505917426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/7896541007505917426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2009/12/8x323.html' title='8x3=23'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-5550352234145406221</id><published>2009-08-25T01:02:00.001-07:00</published><updated>2009-08-25T01:02:49.920-07:00</updated><title type='text'>Karena sebutir korma</title><content type='html'>&lt;p&gt;Hanya Kerana sebutir kurma &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selesai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke mesjidil Aqsa. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat mesjidil Haram. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa. 4 Bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa khusuk sekali. Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT,&amp;quot; kata malaikat yang satu. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan yg lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram,&amp;quot; jawab malaikat yang satu lagi.. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ibrahim bin adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Astaghfirullahal adzhim&amp;quot; Ibrahim beristighfar. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda. &amp;quot;4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang ?&amp;quot; tanya Ibrahim. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma&amp;quot; jawab anak muda itu. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Innalillahi wa innailaihi roji'un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan ?&amp;quot;. Lantas ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Nah, begitulah&amp;quot; kata ibrahim setelah bercerita, &amp;quot;Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?&amp;quot;. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saya tidak berani mengatas nama kan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya.&amp;quot; &amp;quot;Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu.&amp;quot; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah menerima alamat, ibrahim bin adham pergi menemui. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrahim. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;4 bulan kemudian, Ibrahim bin adham sudah berada dibawah kubah Sakhra. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Itulah ibrahim bin adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain.&amp;quot; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu.. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekarang ia sudah bebas.&amp;quot; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada hadits yang lain beliau bersabda; 'Siapa yang merampas hak orang Islam dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan dia masuk neraka dan mengharamkannya masuk surga. Seorang laki-laki bertanya, walaupun sedikit ya Rasulullah? Nabi menjawab, walaupun sebatang kayu sugi.' &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;(Riwayat Muslim).&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-5550352234145406221?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/5550352234145406221/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=5550352234145406221' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/5550352234145406221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/5550352234145406221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2009/08/hanya-kerana-sebutir-kurma-selesai.html' title='Karena sebutir korma'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-1722758665105361233</id><published>2009-08-25T00:59:00.001-07:00</published><updated>2009-08-25T01:00:19.498-07:00</updated><title type='text'>Cerita nenek Tua dari madura</title><content type='html'>&lt;p&gt;   &lt;p&gt;Diceritakan kembali oleh Kang Jalaludin Rahmat, sumber cerita Kiai Zawawi Imron&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;     &lt;p&gt;       &lt;br /&gt;&amp;quot;Dahulu kala di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunga nya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, iapergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudu, masuk mesjid, dan melakukan shalat Dhuhur. setelah membaca wirid sekadarnya, ia keluar masjid dan membungkuk - bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembarpun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. padahal matahari madura di siang hari itu sungguh menyengat. Keringat nya membasahi seluruh tubuhnya.&lt;/p&gt;      &lt;p&gt;       &lt;p&gt;         &lt;br /&gt;Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. pada suatu hari takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua datang. Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. usai shalat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satupun daun terserak di situ. ia kembali ke masjid dan menangis keras. Ia mempertanyakan mengapa daun - daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang - orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. &amp;quot;jika kalian kasihan kepadaku.&amp;quot; kata nenek itu. &amp;quot;Berikan kesempatan padaku untuk membersihkannya.&amp;quot;&lt;/p&gt;        &lt;p&gt;         &lt;p&gt;           &lt;br /&gt;Singkat cerita , nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. seorang kiai yang terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan daun - daun itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya;kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.            &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p&gt;&amp;quot;Saya ini perempuan bodoh ,pak Kiai.&amp;quot; tuturnya. &amp;quot;Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari kiamat tanpa syafaat Kangjeng nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu shalawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan shalawat kepadanya&amp;quot;           &lt;br /&gt;Sebuah cerita yang semoga bisa diambil manfaatnya&lt;/p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-1722758665105361233?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/1722758665105361233/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=1722758665105361233' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/1722758665105361233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/1722758665105361233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2009/08/cerita-nenek-tua-dari-madura.html' title='Cerita nenek Tua dari madura'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-2387816022026461197</id><published>2009-08-18T19:50:00.001-07:00</published><updated>2009-08-18T19:50:37.082-07:00</updated><title type='text'>TERINSPIRASI KISAH FIRAUN</title><content type='html'>&lt;p&gt;Bangkai burung, balsam gosok, dan kisah mumi Firaun. Siapa mengira tiga benda sepele itu ada gunanya. Tapi itulah trio yang “menghidupkan” pria kampung seperti Khoirul Anwar. Dia kini menjadi ilmuwan top di Jepang. Wong ndeso asal Dusun Jabon, Desa Juwet, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, itu memegang dua paten penting di bidang telekomunikasi. Dunia mengaguminya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Para ilmuwan dunia berkhidmat ketika pada paten pertamanya Khoirul, bersama koleganya, merombak pakem soal efisiensi alat komunikasi seperti telepon seluler. Dia mengurangi daya transmisi pada orthogonal frequency division multiplexing. Hasilnya, kecepatan data yang dikirim bukan menurun seperti lazimnya, melainkan malah meningkat. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Kami mampu menurunkan power sampai 5dB=100 ribu kali lebih kecil dari yang diperlukan sebelumnya,” kata dia. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dunia memujinya. Khoirul juga mendapat penghargaan bidang Kontribusi Keilmuan Luar Negeri oleh Konsulat Jenderal RI Osaka pada 2007. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada paten kedua, lagi-lagi Khoirul menawarkan sesuatu yang tak lazim. Untuk mencapai kecepatan yang lebih tinggi, dia menghilangkan sama sekali guard interval (GI). “Itu mustahil dilakukan,” begitu kata teman-teman penelitinya. Tanpa interval atau jarak, frekuensi akan bertabrakan tak keruan. Persis seperti di kelas saat semua orang bicara kencang secara bersamaan. Istilah ilmiahnya, terjadi interferensi yang luar biasa. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Namun, dengan algoritma yang dikembangkan di laboratorium, Khoirul mampu menghilangkan interferensi tersebut dan mencapai performa (unjuk kerja) yang sama. “Bahkan lebih baik daripada sistem biasa dengan GI,” kata pria 31 tahun ini. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dua penelitian istimewa itu mungkin tak lahir bila dulu Khoirul kecil tak terobsesi pada bangkai burung, balsam yang menusuk hidung, serta mumi Firaun. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bocah kecil itu begitu terinspirasi oleh kisah Firaun, yang badannya tetap utuh sampai sekarang. Dia pun ingin meniru melakukan teknologi “balsam” terhadap seekor burung kesayangannya yang telah mati. “Saya menggunakan balsam gosok yang ada di rumah,” kata anak kedua dari pasangan Sudjianto (almarhum) dengan Siti Patmi itu. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Khoirul berharap, dengan percobaannya itu, badan burung tersebut bisa awet dan mengeras. Dengan semangat, ia pun melumuri seluruh tubuh burung tersebut dengan balsam gosok. Sayangnya, hari demi hari berjalan, kata anak petani ini, “Teknologi balsam itu tidak pernah berhasil.” &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Penelitian yang gagal total itu rupanya meletikkan gairah meneliti yang luar biasa pada Khoirul. Itulah yang mengantarkan alumnus Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung tersebut kini menjadi asisten profesor di JAIST, Jepang. Dia mengajar mata kuliah dasar engineering, melakukan penelitian, dan membimbing mahasiswa. Saat ini Khoirul sedang menekuni dua topik penelitian yang dilakukan sendiri dan enam topik penelitian yang digarap bersama enam mahasiswanya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Khoirul sejak kecil memang penuh dengan otak usil. Ayahnya meninggal saat dia kecil. Itu membuatnya harus membantu ibunya membereskan rumah. Dia berbeda dengan anak seusianya. Sementara anak kecil lain cuma bisa pasrah atau memasang wajah melankolis saat disuruh menimba air di sumur, Khoirul malah menyalakan otak jeniusnya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia melepas ban sepedanya dan menggantinya dengan tali timba. Jadilah pompa bertenaga sepeda. Butuh air? Tinggal kayuh sepeda. Dengan cara ini, tenaga yang dikeluarkan lebih sedikit dari menimba biasa. “Sejak kecil saya memang tertarik dunia engineering,” katanya sembari mengenang ide lucunya itu. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saat di bangku kuliah, dia mulai tergoda pada bidang telekomunikasi. Dia masuk Jurusan Teknik Elektro ITB (1996). Shannon Limit, ilmuwan dari Institut Teknologi Massachusetts, Boston, adalah orang yang menjadi inspirasinya. Apalagi waktu itu telekomunikasi mengalami booming dan meniupkan perubahan besar-besaran dalam dunia telekomunikasi sampai saat ini. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tujuh tahun tinggal di Jepang, Khoirul menyatu dengan atmosfer penelitian. “Di Jepang, saya benar-benar merasakan level kita sama dengan ilmuwan Amerika Serikat dan Eropa,” kata ayah tiga anak ini. “Perasaan percaya diri seperti ini muncul mungkin karena fasilitas penelitian semuanya lengkap, bahkan mungkin lebih baik.” &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak hanya itu, Khoirul dan kawan-kawan bisa bebas mengakses jurnal dan perjalanan konferensi—notabene merupakan sumber ilmu bagi peneliti—yang selalu ada setiap saat. Perlu membeli buku dan alat baru, ia tinggal minta. “Meskipun perlu prosedur, semua bisa tuntas dengan cepat,” kata Khoirul. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Efek positifnya, menurut dia, saat ia mengusulkan sebuah teknologi baru, sama sekali tak ada perasaan minder, rendah diri, ataupun malu jika teknologi yang dipresentasikan itu salah. “Itulah mungkin yang membuat kita terus terdorong untuk berinovasi,” kata Khoirul. Apalagi, ditambah posisi sebagai orang asing, ia menegaskan, “Jika tidak berprestasi, tidak akan dihargai.” &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Meski berprestasi di Jepang, Khoirul tak ingin selamanya tinggal di sana. Suatu saat ia dan keluarganya akan boyongan ke Indonesia. “Saya bermimpi pulang setelah menjadi orang penting di bidang (telekomunikasi),” kata dia, “Ketika di Jepang, saya merasakan akselerasi ke sana begitu besar, dan setelah punya nama, nanti baru berencana pulang ke Indonesia.” Kapan? Itu yang Khoirul juga tak bisa memprediksinya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kini, sembari menunggu harapannya itu terwujud, Khoirul akan terus membenamkan diri di laboratorium. Di luar itu, tentu ia tak akan melupakan keluarganya. Kini, bersama istri tercinta, Sri Yayu Indriyani, dan tiga buah hatinya, Khoirul tinggal di Daigaku Shukusha B-31, Asahidai 1-50, Nomi, Ishikawa, Jepang. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Indriyani, kata Khoirul, aktif dalam kegiatan ibu-ibu di Jepang dan terlibat aktif dalam mengenalkan budaya Indonesia di Jepang. Dari kegiatan istrinya itu pula Khoirul mendapat kerja sampingan baru. “Saya mendapat tawaran menjadi dalang wayang kulit dalam bahasa Jepang,” katanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt; Sumber : &lt;a title="http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/08/18/Laporan_Khusus/krn.20090818.174155.id.html" href="http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/08/18/Laporan_Khusus/krn.20090818.174155.id.html"&gt;http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/08/18/Laporan_Khusus/krn.20090818.174155.id.html&lt;/a&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-2387816022026461197?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/2387816022026461197/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=2387816022026461197' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/2387816022026461197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/2387816022026461197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2009/08/terinspirasi-kisah-firaun.html' title='TERINSPIRASI KISAH FIRAUN'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-6355758515321092833</id><published>2009-05-06T02:55:00.000-07:00</published><updated>2009-05-06T02:59:41.586-07:00</updated><title type='text'>Kisah Karpet</title><content type='html'>Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan &amp; kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih &amp; teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma ada satu masalah, ibu yang pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi dan menyiksanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum &amp; berkata kepada sang ibu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu itu kemudian menutup matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?" &lt;br /&gt;Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yang murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Virginia Satir melanjutkan; "Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, nafasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu &amp; kotoran di sana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang bukalah mata ibu" Ibu itu membuka matanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tahu maksud anda" ujar sang ibu, "Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yang dikasihinya ada di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder &amp; John Adler  untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming) . Dan teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita 'membingkai ulang' sudut &lt;br /&gt;pandang kita sehingga sesuatu yang tadinya negatif dapat menjadi positif, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya BERSYUKUR;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, &lt;br /&gt;karena itu &lt;br /&gt;artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, &lt;br /&gt;karena itu &lt;br /&gt;artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, &lt;br /&gt;karena itu &lt;br /&gt;artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Untuk Tagihan kartu kredit yang cukup besar, &lt;br /&gt;karena itu &lt;br /&gt;artinya saya harus bekerja untuk bayar cicilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, &lt;br /&gt;karena itu &lt;br /&gt;artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Untuk pakaian yang mulai kesempitan, &lt;br /&gt;karena itu &lt;br /&gt;artinya saya cukup makan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, &lt;br /&gt;karena itu &lt;br /&gt;artinya saya masih mampu bekerja keras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, &lt;br /&gt;karena itu &lt;br /&gt;artinya masih ada kebebasan berpendapat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya, &lt;br /&gt;karena itu &lt;br /&gt;artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Untuk dst...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dari milis Air Putih)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-6355758515321092833?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/6355758515321092833/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=6355758515321092833' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/6355758515321092833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/6355758515321092833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2009/05/kisah-karpet.html' title='Kisah Karpet'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-8009170099549534932</id><published>2009-05-06T02:48:00.000-07:00</published><updated>2009-05-06T02:52:55.310-07:00</updated><title type='text'>Eksekutif Itu Kini Jadi Pengantar Pizza !</title><content type='html'>ABC: KEN Karpman bersama keluarga menjalani kehidupan sederhana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis ekonomi di AS membuat seorang eksekutif bergaji Rp 8,8 miliar per tahun jatuh bangkrut. Untuk bertahan hidup, sang eksekutif pun akhirnya menjadi pengantar pizza dengan upah rendah. RESESI di Amerika Serikat memang begitu kejam. Tak hanya raksasa bisnis yang silih berganti bertumbangan. Bagi warganya pun, krisis kali ini benar-benar bisa mengubah nasib mereka 180 derajat. Tengok saja apa yang terjadi pada seorang eksekutif bernama Ken Karpman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 45 tahun, Hidup Ken Karpman nyaris sempurna. Lulus dari universitas bergengsi UCLA ( University of California ) dengan gelar MBA, Karpman langsung mendapat pekerjaan sebagai pialang saham. Dia pun kemudian menikahi gadis impiannya, Stephanie, dan dikarunia dua anak. Bersama, mereka telah berkeliling dunia dalam paket liburan yang mahal tiap tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 20 tahun meniti karir sebagai pialang, Karpman pun naik jabatan dalam perusahaannya. Gajinya turut melonjak mencapai US$750.000 (sekitar lebih dari Rp 8,8 miliar) per tahun. ”Saat itu hidup begitu indah. Kami bisa menghasilkan banyak uang. Entah mengapa situasi itu kok tidak berlanjut?” kata Karpman dalam wawancara khusus dengan stasiun televisi ABC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari seluruh sisi kehidupan mereka, Ken dan Stephanie Karpman menikmati benar gaya hidup kelas atas. Mereka tinggal di wilayah elite, Tampa , Florida . Bahkan mereka memiliki satu lapangan golf seluas 400 kaki persegi. Untuk urusan uang, bisa dibilang keluarga ini tidak ada masalah. ”Saya tidak pernah memperhatikan harga saat membeli sesuatu di toko,” ujarnya. ”Saya hanya tinggal masukkan barang apa pun yang saya inginkan ke dalam troli dan membayar berapa pun harganya,” lanjut Karpman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karpman sangat percaya diri dengan keberuntungannya. Dengan dukungan ekonomi kuat, dia meninggalkan pekerjaannya pada 2005 untuk memulai usahanya sendiri yang sejenis dengan pekerjaan lamanya. Untuk mendirikan perusahaan sendiri sekaligus meningkatkan taraf hidup, Karpman dengan enteng mengeluarkan dana US$500.000 dari tabungannya. Seperti kebiasaan orang-orang Amerika, Karpman juga mengajukan kredit dalam jumlah besar dengan jaminan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun nasib berkata lain. Keberuntungan itu berbalik arah. Seiring dengan badai krisis yang menghantam Negeri Paman Sam, Karpman pun tak mampu menarik para investor. Akibatnya, dia dipaksa untuk menggulung tikar perusahaannya. Bahkan kini dia tidak memiliki pekerjaan. Dia pontang-panting memasuki banyak bursa kerja, namun hasilnya pun nihil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu tidak pernah dialami Karpman di masa lalu. Urusan pekerjaan kala itu begitu sangat mudah. ”Dulu, ketika saya diwawancara untuk kerja, saya bisa bersikap kurang ajar karena saya seolah balik mewawancara orang bagian HRD apakah perusahaannya memang layak memperkerjakan saya,” ujarnya. ”Kini, seolah Anda harus memelas dan bahkan mengemis-ngemis untuk bisa bekerja,” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengantar Pizza&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah satu masa sulit yang panjang dan pencarian kerja yang sia-sia, keluarga Karpman kehabisan uang tabungan untuk keperluan sehari-hari. Bahkan mereka dililit utang ratusan ribu dollar. Rumah mewah mereka pun terancam disita oleh bank. Membutuhkan uang segar dengan segera untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, Karpman mencoba menemukan pekerjaan. Apapun akan dilakukannya, tidak lagi pilih-pilih pekerjaan, meski itu menurunkan derajatnya. Ia mencoba melamar menjadi bartender namun ternyata hanya penolakan yang ia dapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dia membawa mobil Mercedes-nya ke ke Mike’s Pizza &amp; Deli Station di Clearwater dan melamar kerja. Mike Dorado, pemilik toko pizza itu, mengatakan dirinya terkejut ketika membaca curiculum vittae Karpman. Untuk menjadi pengantar pizza dari rumah ke rumah tak perlu harus bergelar MBA dan berpengalaman sebagai manajer pialang saham. Dengan kata lain, Karpman tergolong over-qualified (bobot pendidikan dan pengalaman kerja terlalu tinggi untuk posisi kerja yang dia lamar). Bagaimanapun, yang ada hanya lowongan sebagai pengantar pizza.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, sang istri Stephanie Karpman lebih terkejut lagi saat Ken tiba di rumah dengan pekerjaan barunya. ”Kamu tidak bercanda, kan ?” kata Stephanie. ”Mengantarkan pizza. Tidak pernah terpikirkan olehku, bahkan dalam mimpi terliarku sekalipun untuk melakukan itu,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaji Karpman terjun bebas. Dari enam digit per jam menjadi hanya USD 7,29 (RP. 85.000) per jam plus tips, satu angka yang terbilang sangat kecil untuk ukuran AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun itu adalah uang yang sepatutnya ia syukuri. ”Ini adalah proses terjun bebas, luar biasa bagaimana begitu banyak hal yang Anda katakan, ’saya tak bisa melakuan itu’ untuk menolak karena gengsi, tapi seminggu kemudian anda katakan, ’Ya... saya bisa melakuan itu,’” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya tidak akan meniti karir di bidang ini, namun akan mendapatkan sesuatu yang lebih di masa depan, itu yang akan saya lakukan untuk tetap menjaga agar dapur tetap mengepul,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekanan ini memang sempat memberi sedikit dampak pada pernikahan mereka. Stephanie mengatakan dirinya tidak ingin suaminya meninggalkan pekerjaan sebagai pialang dan berharap suaminya itu punya tabungan yang lebih. Tapi itulah fakta yang harus diterimanya. ”Tidak perlu bertanya di mana letak kesalahannya,” ujar Ken Karpman. Dan ketika harus menunjuk kambing hitam, ”Saya akan menunjuk ke arah saya,” tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalamannya ini, Karpman menyadarai, setiap hari membawa satu pelajaran baru dalam kehidupan dengan sedikit harta dan lebih banyak kerendahan hati. ”Pizza adalah langkah maju,” tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Karpman menghitung setiap sen yang dia terima, dia masih berharap bisa kembali ke posisinya yang dulu dan kembali ke gaya hidup papan atas yang sekan tak bisa lepas dari tangan. ”Saya butuh beberapa kemenangan,” ujarnya. ”Semoga, itu akan segera kembali,” lanjutnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-8009170099549534932?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/8009170099549534932/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=8009170099549534932' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/8009170099549534932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/8009170099549534932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2009/05/eksekutif-itu-kini-jadi-pengantar-pizza.html' title='Eksekutif Itu Kini Jadi Pengantar Pizza !'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-1442857635415391672</id><published>2008-12-11T23:39:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T23:40:02.611-08:00</updated><title type='text'>LUDRUK</title><content type='html'>Matahari siang tepat di atas ubun-ubun. Keringat membasahi tubuh. Entah karena terik matahari atau keringat dingin karena ketakutan. Satu anak bertugas menggergaji sementara yang lain menutupi agar tidak terlihat orang lain. Semua berdebar-debar. Semua gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sampai dua puluh menit selesai sudah. Sebuah lubang terbentuk di pagar anyaman bambu itu. Tetap rasanya berjam-jam. Padahal ukuran lubang hanya sebesar tubuh anak-anak usia 11 tahun. Setelah itu potongan gedek kami tempelkan kembali sehingga tampak seperti semula. Sepintas tidak akan terlihat ada lubang bekas gergajian di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya, berjingkat-jingkat, kami menuju belakang gedung. Suasana temaram. Satu per satu kami mulai mbrobos ke dalam gedung melalui lubang kecil yang kami buat siang tadi. Siapa yang masuk terakhir, harus menutup kembali lubang tersebut. Itulah aturan mainnya. Setelah di dalam, kami langsung berbaur dengan penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tinggal di Jalan Cisadane, Surabaya. Sekitar satu kilometer dari rumah saya ada sebuah lapangan. Mirip alun-alun. Fungsinya serbaguna. Selain tempat bermain, lapangan itu juga sering dipakai untuk pertunjukkan ludruk, teater khas Jawa Timur, mirip ketoprak di Jawa Tengah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya kelompok ludruk yang main di situ akan membangun sendiri gedung pertunjukkan. Kalau saya bilang “gedung pertunjukkan”, jangan membayangkan macam-macam. Bayangkan saja sebuah panggung dari papan, beratapkan seng, dengan dinding anyaman bambu atau gedek. Di sekeliling gedung akan diberi pagar anyaman bambu setinggi dua meter yang menjadi tembok pembatas antara mereka yang di luar dan penonton di dalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penonton harus membeli tiket. Tidak ada nomor bangku. Siapa cepat dia akan duduk di deretan paling depan. Paling dekat dengan panggung. Bangkunya juga terbuat dari bambu yang memanjang. Kalau penonton penuh, duduknya berhimpit-himpitan. Uniknya, tidak ada yang keberatan. Semua happy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu usia saya 11 tahun. Bersama teman-teman sebaya, yang tidak mampu beli tiket, kami biasanya menerobos melalui lubang di tembok gedek yang kami gergaji pada siang hari. Pekerjaan menggergaji memang lebih aman dilakukan siang hari karena hampir semua pemain dan pengurus perkumpulan ludruk tidak berada di tempat. Mereka biasanya punya kegiatan atau pekerjaan lain. Gedung kosong. Saat itulah kami mulai beraksi membuat “lubang rahasia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya lubang yang kami buat cuma efektif sampai tiga hari. Setelah itu akan ketahuan oleh pengelola gedung pertunjukkan lalu ditutup dan dijaga. Lampu neon tambahan juga akan dipasang. Jadilah kami gigit jari lagi. Modus operandi seperti ini akan kami pakai lagi kalau ada kelompok ludruk lain manggung di sana. Nanti ketahuan lagi, ditutup lagi, dijaga lagi, lalu kami gigit jari lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah begitu, biasanya strategi berikutnya akan kami jalankan. Kami akan berdiri di sekitar loket. Jika ada yang beli tiket, biasanya orang dewasa, kami akan memohon agar dibolehkan nunut alias numpang untuk ikut masuk. Caranya dengan menggandeng tangan orang tersebut. Sepintas mirip orang tua yang membawa anaknya nonton. Tidak semua pengelola gedung mengijinkan satu tiket untuk dua orang. Tetapi taktik ini kerap berhasil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya termasuk yang sering nunut. Suatu hari, ada seorang nenek bersama satu anak perempuan dan dua cucu laki-lakinya membeli tiket. Pakaian mereka sangat sederhana untuk tidak dibilang lusuh. Nenek itu membawa rantang berisi jajan untuk anak dan cucunya. Penonton yang tidak punya banyak uang biasanya membawa sendiri makanan dari rumah. Maklum, pertunjukkan bisa berlangsung lebih dari tiga jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada nenek itu saya memohon agar bisa nunut. Dia jatuh kasihan dan membolehkan saya ikut. Bahkan tangan saya digandengnya. Tetapi, begitu di depan pintu, petugas melarang saya masuk. Sang nenek berusaha meyakinkan petugas bahwa saya cucunya. Penjelasan yang menggelikan, memang, mengingat secara fisik saya sangat berbeda. Dengan kulit putih dan rambut keemasan, tidak mudah meyakinkan siapa pun bahwa saya cucunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan susah payah nenek itu meminta agar saya diperbolehkan masuk. Sang penjaga pintu tetap tidak mengijinkan. Mungkin wajah saya sudah dikenali karena hampir setiap malam muncul di situ. Mereka terus berdebat. Karena mulai ketakutan, saya lalu pergi menjauh. Tetapi, di luar dugaan, sang nenek memanggil saya untuk kembali. Dia merogoh kutangnya lalu mengeluarkan sejumlah uang recehan, menghitungnya sejenak, kemudian bergegas ke loket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya tidak percaya. Nenek itu membelikan saya tiket dengan sisa-sisa uangnya. Tiket itu lalu diberikan ke saya. “Saiki kowe iso mlebu,” ujarnya dalam bahasa Jawa sembari tersenyum. “Sekarang kamu bisa masuk,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan itu sangat membekas. Bahkan sampai detik ini. Kalau mengingat peristiwa itu, rasanya tetap saja sulit untuk bisa percaya. Dilihat dari penampilannya, nenek itu bukan orang yang berkecukupan. Bagaimana mungkin dalam kekurangannya dia mau mengorbankan sisa uangnya untuk saya? Untuk seorang bocah yang baru dikenalnya malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : ANdy's Corner - KickAndy.Com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-1442857635415391672?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/1442857635415391672/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=1442857635415391672' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/1442857635415391672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/1442857635415391672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2008/12/ludruk.html' title='LUDRUK'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-1488642511239077936</id><published>2008-12-11T23:37:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T23:38:12.059-08:00</updated><title type='text'>Kaca Spion (Andy F Noya)</title><content type='html'>Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan&lt;br /&gt;Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta.&lt;br /&gt;Tapi, suatu hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke&lt;br /&gt;sana . Bukan untuk baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar&lt;br /&gt;perpustakaan. Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler. Namun&lt;br /&gt;baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh&lt;br /&gt;dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat&lt;br /&gt;sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini&lt;br /&gt;gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya&lt;br /&gt;juga masih sama.&lt;br /&gt;Tapi mengapa rasanya jauh berbeda? malamnya, soal gado-gado itu saya&lt;br /&gt;ceritakan kepada istri. Bukan soal rasanya yang mengecewakan, tetapi&lt;br /&gt;ada hal lain yang membuat saya gundah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu&lt;br /&gt;mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit&lt;br /&gt;saya. Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari&lt;br /&gt;buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan&lt;br /&gt;buku membuat saya merasa begitu bahagia.&lt;br /&gt;Biasanya satu sampai dua jam saya di sana. Jika masih ada waktu, saya&lt;br /&gt;melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum buku, terutama buku&lt;br /&gt;baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang. Sebelum&lt;br /&gt;meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado&lt;br /&gt;di sudut jalan, di luar pagar. Kain penutupnya khas, warna hitam.&lt;br /&gt;Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero&lt;br /&gt;Jakarta. Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong.&lt;br /&gt;Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya&lt;br /&gt;pasti nambah satu piring lagi. Tahun berganti tahun. Drop out dari&lt;br /&gt;kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan&lt;br /&gt;Siapa Orang Indonesia . Kemudian pindah menjadi reporter di Harian&lt;br /&gt;Bisnis Indonesia . Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA.&lt;br /&gt;Karir saya terus meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian&lt;br /&gt;Media Indonesia dan Metro TV.&lt;br /&gt;Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di&lt;br /&gt;sudut jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya&lt;br /&gt;menjadi gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan&lt;br /&gt;kegundahan tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi&lt;br /&gt;menjadi diri saya sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika&lt;br /&gt;suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil&lt;br /&gt;sendiri, dan punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah. Saya tidak&lt;br /&gt;ingin menjadi sombong karenanya.&lt;br /&gt;Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya .&lt;br /&gt;Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas&lt;br /&gt;dan menjadi trauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan&lt;br /&gt;tahun. Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain&lt;br /&gt;bola. Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil.&lt;br /&gt;Kaca spion mobil itu patah.&lt;br /&gt;Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer&lt;br /&gt;saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah&lt;br /&gt;saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang&lt;br /&gt;sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah&lt;br /&gt;garasi mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya&lt;br /&gt;disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar&lt;br /&gt;yang cuma enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya.&lt;br /&gt;Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya&lt;br /&gt;tempat tidur di ruangan itu. Tak lama kemudian, saya mendengar&lt;br /&gt;keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil datang. dengan suara&lt;br /&gt;keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya dia meminta&lt;br /&gt;ganti rugi atas kerusakan mobilnya.&lt;br /&gt;Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak&lt;br /&gt;bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca&lt;br /&gt;spion mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang&lt;br /&gt;senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang&lt;br /&gt;mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos&lt;br /&gt;menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu&lt;br /&gt;dua minggu. Dalam sebulan, order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan&lt;br /&gt;ada tiga, tapi lebih sering cuma satu. Dengan penghasilan dari&lt;br /&gt;menjahit itulah kami - ibu, dua kakak, dan saya - harus bisa bertahan&lt;br /&gt;hidup sebulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut.&lt;br /&gt;Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk&lt;br /&gt;mengambil uang.&lt;br /&gt;Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan&lt;br /&gt;uang untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir&lt;br /&gt;bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu&lt;br /&gt;ketakutan. Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah&lt;br /&gt;artinya kaca spion mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat&lt;br /&gt;kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat&lt;br /&gt;wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci&lt;br /&gt;pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya&lt;br /&gt;benci orang kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban&lt;br /&gt;mobil-mobil mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya.&lt;br /&gt;Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan&lt;br /&gt;orang-orang kaya. Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang&lt;br /&gt;gelasan ketika mereka adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik,&lt;br /&gt;diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya&lt;br /&gt;bawa lari. Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya&lt;br /&gt;puas. Ada dendam yang terbalaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang&lt;br /&gt;kaya di dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil&lt;br /&gt;mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka&lt;br /&gt;tidak punya hati nurani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa&lt;br /&gt;kuliah begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu&lt;br /&gt;tidak enak di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah&lt;br /&gt;berubah. Hal yang sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan&lt;br /&gt;kepada istri. Dia hanya tertawa. ''Andy Noya, kamu tidak usah merasa&lt;br /&gt;bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu&lt;br /&gt;karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan.&lt;br /&gt;Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan.&lt;br /&gt;Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba&lt;br /&gt;makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,'' ujarnya. Ketika&lt;br /&gt;dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, "Kamu&lt;br /&gt;berhak untuk itu. Sebab kamu sudah bekerja keras." Tidak mudah untuk&lt;br /&gt;untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Sama sulitnya dengan&lt;br /&gt;meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang kaya itu jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya terima, ada&lt;br /&gt;ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya tidak lagi&lt;br /&gt;sensisitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado yang&lt;br /&gt;berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi&lt;br /&gt;sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak&lt;br /&gt;sensitif. Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca&lt;br /&gt;spionnya saya tabrak. Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam&lt;br /&gt;hati. Walau dalam kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah&lt;br /&gt;satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang.&lt;br /&gt;Penumpang dan orang yang dibonceng terjerembab. Pada siang terik,&lt;br /&gt;ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat&lt;br /&gt;untuk tidak marah. Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor&lt;br /&gt;yang menabrak saya. Namun, saya terkejut ketika menyadari yang&lt;br /&gt;dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh.&lt;br /&gt;Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain&lt;br /&gt;karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok. Hanya dalam&lt;br /&gt;sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu serupa&lt;br /&gt;dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ibu, yang ecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta&lt;br /&gt;maaf atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia&lt;br /&gt;berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut&lt;br /&gt;ganti rugi.&lt;br /&gt;Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas&lt;br /&gt;segera luluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada&lt;br /&gt;saya. Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu.&lt;br /&gt;Apalah artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul.&lt;br /&gt;Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan&lt;br /&gt;begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang&lt;br /&gt;itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti&lt;br /&gt;yang pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman&lt;br /&gt;hidup yang pahit.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-1488642511239077936?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/1488642511239077936/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=1488642511239077936' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/1488642511239077936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/1488642511239077936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2008/12/kaca-spion-andy-f-noya.html' title='Kaca Spion (Andy F Noya)'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-4882550759512217888</id><published>2008-12-11T23:33:00.001-08:00</published><updated>2008-12-11T23:33:20.357-08:00</updated><title type='text'>Rama, Jean, dan Perjuangan Hidup</title><content type='html'>Kecenderungan hanya menggerutu dan mengeluh bisa jadi merupakan &lt;br /&gt;isyarat sebenarnya dari semangat yang kerdil dan kebodohan &lt;br /&gt;seseorang."&lt;br /&gt;– Lord Jeffrey, Scottish judge, 1773 - 1850&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAMANYA Eko Ramaditya Adikara. Ia seorang blogger, penulis, &lt;br /&gt;jurnalis, dan juga game music composer. Pekerjaan yang nampaknya &lt;br /&gt;biasa saja. Karena toh banyak orang yang melakukan hal yang sama. &lt;br /&gt;Menjadi tidak biasa, karena Rama, begitu panggilan akrabnya, &lt;br /&gt;menjalani semua tugasnya dalam keadaan buta. Rama merupakan seorang &lt;br /&gt;tunanetra. Dalam blognya, ia menyebut dirinya sebagai the Indonesian &lt;br /&gt;blind blogger. Rama mampu menulis artikel di atas papan ketik &lt;br /&gt;komputer enam puluh kata per menit. Kemampuan yang setara dengan &lt;br /&gt;kemampuan tukang ketik profesional. Lantas bagaimana caranya Rama &lt;br /&gt;dapat membaca pesan atau teks yang ada di layar monitornya? Dengan &lt;br /&gt;kemajuan teknologi yang semakin canggih, Rama dapat membaca teks di &lt;br /&gt;layar monitor dengan menggunakan aplikasi pembaca layar bernama &lt;br /&gt;JAWS. Dengan piranti lunak tersebut, Rama dapat mendengar suara yang &lt;br /&gt;dikeluarkan. Piranti lunak tersebut mengubah teks menjadi suara atau &lt;br /&gt;text to auto speech. Bila Rama ingin membaca suatu buku, Rama akan &lt;br /&gt;memindai atau menscanning terlebih dahulu halaman demi halaman buku &lt;br /&gt;tersebut, lalu diubah ke dalam bentuk teks. Rama memang dilahirkan &lt;br /&gt;buta sejak lahir. Cacat yang dideritanya tak menghalanginya untuk &lt;br /&gt;tetap melakukan aktifitas kesehariannya seperti layaknya orang &lt;br /&gt;normal yang dapat melihat. Bahkan Rama terlecut untuk terus &lt;br /&gt;berkreatifitas. Rama bahkan telah berhasil menerbitkan buku yang &lt;br /&gt;ditulisnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAMANYA Jean-Dominique Bauby. Pria asal Perancis, lebih dikenal &lt;br /&gt;sebagai jurnalis, penulis, dan editor Majalah Elle, majalah fesyen &lt;br /&gt;terkemuka terbitan Perancis. Maret 1997, Jean meninggal dunia dalam &lt;br /&gt;usia 45 tahun. Tahun 1995, dalam usianya yang terbilang muda, 43 &lt;br /&gt;tahun, Jean terkena stroke. Suatu penyakit yang dikenal dengan nama &lt;br /&gt;Locked-in Syndrome. Jean tak sadarkan diri selama 20 hari setelah &lt;br /&gt;stroke menyerangnya. Ketika terbangun, Jean tak dapat menggerakkan &lt;br /&gt;seluruh tubuhnya. Termasuk menelan ludah pun Jean tak mampu. Ia &lt;br /&gt;hanya dapat menggerakkan satu bagian tubuhnya, yaitu mengedipkan &lt;br /&gt;mata kirinya. Walau Jean mengalami lumpuh total, tapi ia masih dapat &lt;br /&gt;berpikir dengan jernih. Sebelum meninggal, ia telah menyelesaikan &lt;br /&gt;memoarnya yang berjudul 'Le scaphandre et le papillon' atau dalam &lt;br /&gt;versi Inggrisnya, 'The Diving Bell and The Butterfly'. Bagaimana ia &lt;br /&gt;dapat menulis sementara seluruh tubuhnya tak dapat bergerak? Dalam &lt;br /&gt;menyusun bukunya tersebut, Jean berkomunikasi dengan perawatnya, &lt;br /&gt;Henriette Durand. Ia akan memilih huruf dan tanda baca yang akan &lt;br /&gt;dipilihnya dengan mengedipkan mata kirinya. Diperlukan sekitar 200 &lt;br /&gt;ribu kedipan mata kiri untuk menyelesaikan buku tersebut. Untuk &lt;br /&gt;setiap huruf yang dipilih, dibutuhkan rata-rata sekitar 2 &lt;br /&gt;menit. 'The Diving Bell and The Butterfly' dalam edisi Bahasa &lt;br /&gt;Perancis diluncurkan Maret 1997. Dan hanya dalam waktu satu minggu, &lt;br /&gt;telah terjual lebih dari 150 ribu eksemplar. Sepuluh hari setelah &lt;br /&gt;bukunya dipublikasikan, Jean menghembuskan nafas terakhirnya akibat &lt;br /&gt;pneumonia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benang merah apa yang dapat ditarik dari dua kisah di atas? Rama dan &lt;br /&gt;Jean memang memiliki keterbatasan. Tetapi tidak berarti bahwa dengan &lt;br /&gt;keterbatasan yang ada, kehidupan lantas terhenti. Adanya masalah dan &lt;br /&gt;juga keterbatasan, membuktikan bahwa kehidupan ada dan terus &lt;br /&gt;berjalan. Paul Gordon Stoltz dalam bukunya `Adversity Quotient, &lt;br /&gt;Turning Obstacles Into Opportunities' , mengatakan bahwa seseorang &lt;br /&gt;manusia yang tangguh dapat dilihat dari daya tahannya ketika &lt;br /&gt;mendapatkan masalah dan seberapa tangguh mereka menghadapi masalah &lt;br /&gt;tersebut. Inilah yang disebut dengan adversity quotient.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan oleh Rama dan Jean menunjukkan bahwa mereka tidak &lt;br /&gt;tinggal diam atas segala keterbatasan yang dimiliki. Itulah yang &lt;br /&gt;harus kita lakukan bila mendapati masalah. Hadapi. Dan cari solusi &lt;br /&gt;yang terbaik. Bukan dengan mengeluh. Mengeluh dalam batasan-batasan &lt;br /&gt;tertentu bisa jadi merupakan hal yang manusiawi. Tetapi apakah &lt;br /&gt;mengeluh merupakan suatu solusi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, betapapun sulitnya masalah yang menimpa kita dan betapapun &lt;br /&gt;hebatnya krisis global yang melanda negeri ini, kita harus siap &lt;br /&gt;untuk menghadapinya. Kualitas hidup seseorang juga akan terlihat &lt;br /&gt;bagaimana ia mengatasi masalah tersebut. Oleh karena itu, hadapi dan &lt;br /&gt;selesaikan segala persoalan yang menghadang. Rama dan Jean dengan &lt;br /&gt;keterbatasannya, mampu melakukan sesuatu yang berguna, bahkan &lt;br /&gt;berprestasi. Nah pertanyaannya, bila mereka mampu, bukankah kita &lt;br /&gt;juga, minimal, mampu melakukan hal yang sama? Bahkan mungkin lebih &lt;br /&gt;dari mereka. Ya, why not. (011208)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Rama, Jean, dan Perjuangan Hidup oleh Sonny Wibisono, &lt;br /&gt;penulis, tinggal di Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-4882550759512217888?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/4882550759512217888/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=4882550759512217888' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/4882550759512217888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/4882550759512217888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2008/12/rama-jean-dan-perjuangan-hidup.html' title='Rama, Jean, dan Perjuangan Hidup'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-1866343299274860634</id><published>2008-12-11T23:30:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T23:32:16.002-08:00</updated><title type='text'>Belajar Rendah Hati dari Nelayan</title><content type='html'>Pada suatu sore yang cerah, seorang cendekiawan ingin menikmati pemandangan laut dengan menyewa sebuah perahu nelayan dari tepi pantai. Setelah harga sewa&lt;br /&gt;per jam disepakati, keduanya melaut tidak jauh dari bibir pantai. Melihat nelayan terus bekerja keras mendayung perahu tanpa banyak bicara, sang cendekiawan&lt;br /&gt;bertanya: "Apa bapak pernah belajar ilmu fisika tentang energi angin dan matahari?"&lt;br /&gt;"Tidak" jawab nelayan itu singkat.&lt;br /&gt;Cendekiawan melanjutkan " Ah, jika demikian bapak telah kehilangan seperempat peluang kehidupan Bapak"&lt;br /&gt;Nelayan cuma mengangguk-angguk membisu.&lt;br /&gt;"APa bapak pernah belajar sejarah filsafat?" tanya cendikiawan.&lt;br /&gt;"Belum pernah" jawab nelayan itu singkat sambil menggeleng-gelengka n kepalanya.&lt;br /&gt;Cendekiawan melanjutkan " Ah, jika demikian bapak telah kehilangan seperempat lagi peluang kehidupan Bapak". Si Nelayan kembali cuma mengangguk-angguk&lt;br /&gt;membisu.&lt;br /&gt;"APa bapak pernah belajar dan bisa berkomunikasi dengan bahasa asing?" tanya cendikiawan.&lt;br /&gt;"Tidak bisa" jawab nelayan itu singkat.&lt;br /&gt;"Aduh, jika demikian bapak total telah kehilangan  tigaperempat peluang kehidupan Bapak"&lt;br /&gt;Tiba-tiba... .. &lt;br /&gt;Angin kencang bertiup keras dari tengah laut. Perahu yang mereka tumpangi pun oleng hampir terguling. Dengan tenang Nelayan bertanya kepada cendekiawan&lt;br /&gt;" Apa bapak pernah belajar berenang?"&lt;br /&gt;Dengan suara gemetar dan muka pucat ketakutan, orang itu menjawab "Tidak pernah"&lt;br /&gt;Nelayanpun memberi komentar dengan percaya diri "Ah, jika demikian, bapak telah kehilangan semua pe luang hidup bapak"...... ......... ......... ......... .&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah di atas:&lt;br /&gt;list of 3 items&lt;br /&gt;• Jangan meninggikan diri lebih hebat dari orang lain&lt;br /&gt;• Jangan sombong, sebab akan direndahkan Tuhan&lt;br /&gt;• Kita semua memiliki keterbatasan dan memerlukan orang lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-1866343299274860634?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/1866343299274860634/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=1866343299274860634' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/1866343299274860634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/1866343299274860634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2008/12/belajar-rendah-hati-dari-nelayan.html' title='Belajar Rendah Hati dari Nelayan'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-537564002272712894</id><published>2008-09-23T01:18:00.000-07:00</published><updated>2010-07-28T03:32:53.248-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;title&gt;Adakah ada Orang yang Akan Mendoakan Kita ?&lt;/title&gt;assalamu'alaikum wr wb&lt;br /&gt;sebuah cerita penggugah hati, silahkan simak,..&lt;br /&gt;Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke. &lt;br /&gt;Sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU. Di saat orang-orang &lt;br /&gt;terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia roh seorang malaikat &lt;br /&gt;menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat memulai pembicaraan, "Kalau dalam waktu 24 jam ada &lt;br /&gt;50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup. Dan &lt;br /&gt;sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum &lt;br /&gt;terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang .. . " kata si &lt;br /&gt;pengusaha ini dengan yakinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam &lt;br /&gt;sebelum batas waktu yang sudah disepakati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali mengunjunginya; dengan &lt;br /&gt;antusiasnya si pengusaha bertanya, "Apakah besok pagi aku sudah &lt;br /&gt;pulih? Pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku &lt;br /&gt;punya lebih dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang &lt;br /&gt;berdoa pasti bukan persoalan yang sulit". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lembut si Malaikat berkata, aku sudah berkeliling mencari &lt;br /&gt;suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang &lt;br /&gt;berdoa buatmu, sementara waktumu tinggal 60 menit lagi. Rasanya &lt;br /&gt;mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat &lt;br /&gt;kesembuhanmu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampa menunggu reaksi dari si pengusaha, si malaikat menunjukkan &lt;br /&gt;layar besar berupa TV siapa 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya. &lt;br /&gt;Di layar itu terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2 &lt;br /&gt;orang anak kecil, putra putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak &lt;br /&gt;ada tetesan air mata di pipi mereka".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Malaikat, "Aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu &lt;br /&gt;memberikanmu kesempatan kedua? Itu karena doa istrimu yang tidak &lt;br /&gt;putus-putus berharap akan kesembuhanmu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali terlihat dimana si istri sedang berdoa jam 2:00 subuh, " &lt;br /&gt;Tuhan, aku tahu kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau &lt;br /&gt;ayah yang baik! Aku tahu dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku &lt;br /&gt;tahu dia tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalaupun dia memberikan &lt;br /&gt;sumbangan, itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupi &lt;br /&gt;perbuatannya yang tidak benar dihadapanMu. Tapi Tuhan, tolong pandang &lt;br /&gt;anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih &lt;br /&gt;membutuhkan&lt;br /&gt;seorang ayah. Hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setelah itu istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya &lt;br /&gt;semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang &lt;br /&gt;istirahat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat peristiwa itu, tampa terasa, air mata mengalir di pipi &lt;br /&gt;pengusaha ini. Timbul penyesalan bahwa selama ini bahwa dia bukanlah &lt;br /&gt;suami yang baik. Dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya.. &lt;br /&gt;Malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak &lt;br /&gt;padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi, &lt;br /&gt;melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengusaha &lt;br /&gt;ini,penyesalan yang luar biasa. Tapi waktunya sudah terlambat ! Tidak &lt;br /&gt;mungkin dalam waktu 10 menit ada yang berdoa 47 orang !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan setengah bergumam dia bertanya,"Apakah diantara karyawanku, &lt;br /&gt;kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa &lt;br /&gt;buatku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab si Malaikat, " Ada beberapa yang berdoa buatmu.Tapi mereka &lt;br /&gt;tidak Tulus. Bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat &lt;br /&gt;ini. Itu semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah &lt;br /&gt;atasan yang baik. Bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak &lt;br /&gt;bersalah". Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini &lt;br /&gt;adalah malam yang terakhir buat dia. Tapi dia minta waktu sesaat &lt;br /&gt;untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur &lt;br /&gt;di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur &lt;br /&gt;di kursi sambil memangku si bungsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata, &lt;br /&gt;Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu ! ! Kau tidak jadi &lt;br /&gt;meninggal,karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan terheran-heran dan tidak percaya, si pengusaha bertanya &lt;br /&gt;siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan &lt;br /&gt;suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah itu Panti Asuhan ? kata si pengusaha pelan. "Benar anakku, &lt;br /&gt;kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, &lt;br /&gt;walau aku tahu tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja &lt;br /&gt;dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negeri. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di koran &lt;br /&gt;kalauseorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU. &lt;br /&gt;Setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma &lt;br /&gt;adalah kamu, pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak &lt;br /&gt;panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa sangat besar kuasanya. Tak jarang kita malas. Tidak punya waktu. &lt;br /&gt;Tidak terbeban untuk berdoa bagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita mengingat seorang sahabat lama/keluarga, kita pikir itu &lt;br /&gt;hanya kebetulan saja padahal seharusnya kita berdoa bagi dia. Mungkin &lt;br /&gt;saja pada saat kita mengingatnya dia dalam keadaan butuh dukungan doa &lt;br /&gt;dari orang-orang yang mengasihi dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaat kita berdoa bagi orang lain, kita akan mendapatkan kekuatan &lt;br /&gt;baru dan kita bisa melihat kemuliaan Tuhan dari peristiwa yang &lt;br /&gt;terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hindarilah perbuatan menyakiti orang lain... Sebaliknya perbanyaklah &lt;br /&gt;berdoa buat orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pahlawan sejati, bukan dilihat dari kekuatan phisiknya,tapi &lt;br /&gt;dari kekuatan hatinya. Katakan ini dengan pelan, "Ya ALLAH, hamba &lt;br /&gt;mencintai-MU dan membutuhkan-MU, datang dan terangilah hati kami &lt;br /&gt;sekarang...!!!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wassalamu'alaikum wr wb&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-537564002272712894?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/537564002272712894/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=537564002272712894' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/537564002272712894'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/537564002272712894'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2008/09/adakah-ada-orang-yang-akan-mendoakan.html' title=''/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-8415630583981676418</id><published>2008-09-19T00:00:00.000-07:00</published><updated>2008-09-19T00:01:28.855-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ramadhan'/><title type='text'>BOCAH MISTERIUS</title><content type='html'>Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa! Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari biasanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampong mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan. Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;************ ********* ** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius. Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga. Luqman pun lalu menegurnya.. Cuma,ya itu tadi, bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bismillah.. ." ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud semua ini. Kalau memang bocah itu "bocah beneran" pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu. Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan membawanya ke rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya. " Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?" tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa," jawab Luqman dengan halus,"apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu&lt;br /&gt;itu.." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman lebih tajam lagi. "Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan pada sebelas bulan diluar bulan puasa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis? Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput ajal..?! Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus? Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian...!?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untuk menyela. Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar "sangat" menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba. "Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketahuilah juga, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri? Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya dengan istilah menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula. Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami...! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta? Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih? Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat.. Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa? Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan..., jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan 'tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak...." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;************ ********* * &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wuahh..., entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan. Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya! Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan. Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi. Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu. Ditengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang! Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat.. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar. Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang. Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya. Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada  seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menjalankan ibadah puasa.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Postingan di milis Bango Mania&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-8415630583981676418?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/8415630583981676418/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=8415630583981676418' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/8415630583981676418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/8415630583981676418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2008/09/bocah-misterius.html' title='BOCAH MISTERIUS'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-3562861162571471676</id><published>2008-09-02T19:15:00.000-07:00</published><updated>2008-09-19T00:00:10.981-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak jalanan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ramadhan'/><title type='text'>Seandainya Cuma Ada Ramadhan</title><content type='html'>****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namaku Hamdhan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelas umurku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cari aku di kolong jembatan layang di malam hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku suka Ramadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan puasa itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bebaskan aku dari puasa tak menentu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpaksa tak makan karena memang tak ada yang bisa disantap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal datang ke masjid mushala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada makanan enak menanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ta'jil katanya, pembuka puasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku Tono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku suka Ramadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena majikanku berpuasa dari mengomel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memukuliku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika aku salah atau lambat kerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal aku 'kan sering capek dan juga ingin bermain di sembilan tahunku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku suka itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pundi-pundi berisi penuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cuma koin receh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi juga uang kertas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mereka lemparkan dari balik kaca mobil mewah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kusodorkan di lampu merah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan puasa itu membuat tiba-tiba banyak orang baik dan bersedekah ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ibuku bilang: "Amir, ada sisa untuk ditabung, mudah-mudahan kamu bisa sekolah lagi .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suka, aku suka sekali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan itu 'kan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan yang orang-orang jadi selalu makan enak untuk berbuka dan sahur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya tak terasa lemas dan lapar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mereka bilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi harus ada kolak, es campur, kue-kue, makanan daging&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku Anwar, si pengangkut keranjang belanja di pasar-pasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senang, berbilang kali mondarmandir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengangkut tumpukan belanja ibu-ibu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sstt, jangan bilang guru ngaji bahwa aku jadi sering batal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak kuat puasa karenanya.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapakku ndak marah kok, aku 'kan masih kecil, belum baligh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal ada uang yang bisa dibawa pulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasihan bapakku lumpuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa cari uang sesudah kecelakaan di pabrik dulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ingin ganti baju&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya tak tambal-tambal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau penuh lubang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya harus tunggu bulan setahun sekali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan apa ya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokoknya yang ada lebarannya itu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang kaya ganti baju&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin terlalu sesak lemarinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi aku dapat sisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi masih bagus bagus kok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi bisa pakai berlapis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terlalu dingin lagi di gubuk kecil terbuat dari kardus-kardus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar emak menasehati : .."Sabar nduk, Gusti Allah ora sare.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menenangkan rengekanku minta baju&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena malu diejek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujang si gembel bajunya tembel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ingin sekali-sekali merasakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gantian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang berpunya mengejar si papa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang berada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengejar pengemis gelandangan (kadang menyingkat memanggil kami Gepeng...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari agar ada penerima zakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok lebaran menjelang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan batal zakat fitrah sesudah shalat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikut saja bersamaku di malam takbiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenang-tenang tiduran di emperan pinggiran jalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tergopoh-gopoh mereka datang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangunkan kami untuk terima zakat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucu, kali ini si empunya butuh orang miskin ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada benarnya juga namaku si Untung...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kecil-kecil sudah beruntung...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu bapakku miskin sekali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kuli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghasilannya cuma dari angkut barang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ia tak bolehkan, aku Mamat anaknya, mengemis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi menemani Bapak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengambilkan minum dan sesekali pijati punggungnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena di Ramadhan ia banyak sekali angkut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mebel juga kulkas, tivi baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanti kalau ada ceramah di kampung aku mau tanya pak kyai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa bulan puasa artinya ganti perabotan ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Husni pernah bilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan itu bisa berbuat apa saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maha Kuasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan juga Pemurah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau mendengarkan doa dari siapa saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk anak jalanan miskin terlantar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamdan, Amir, Tono, Anwar, Untung, Ujang, Mamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa bersama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengemis padaMu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadikan cuma ada Ramadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang tahun…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;==================&lt;br /&gt;Sumber: Dari postingan Pak Gamesh di milis 1001buku Bandung&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-3562861162571471676?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/3562861162571471676/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=3562861162571471676' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/3562861162571471676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/3562861162571471676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2008/09/seandainya-cuma-ada-ramadhan.html' title='Seandainya Cuma Ada Ramadhan'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-3795268932433406471</id><published>2008-02-21T01:20:00.000-08:00</published><updated>2008-02-21T01:21:11.927-08:00</updated><title type='text'>Aku tak cinta</title><content type='html'>Cassie menunggu dengan antusias. Kaki kecilnya bolak-balik melangkah&lt;br /&gt;dari ruang tamu ke pintu depan. Diliriknya jalan raya depan rumah. Belum ada. Cassie masuk lagi. Keluar lagi. Belum ada. Masuk lagi. Keluar lagi. Begitu terus selama hampir satu jam. Suara si Mbok yang menyuruhnya berulang kali untuk makan duluan tidak digubrisnya. Pukul 18.30. Tinnn........... Tiiiinnnnn.............. !! Cassie kecil melompat girang! Mama pulang! Papa pulang! Dilihatnya dua orang yang sangat dicintainya itu masuk ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang satu langsung menuju ke kamar mandi. Yang satu menghempaskan diri di sofa sambil mengurut-urut kepala. Wajah-wajah yang letih sehabis bekerja seharian, mencari nafkah bagi keluarga. Bagi si kecil Cassie juga yang tentunya belum mengerti banyak. Di otaknya yang kecil, Cassie cuma tahu, ia kangen Mama dan Papa, dan ia girang Mama dan Papa pulang.&lt;br /&gt;"Mama, mama.... Mama, mama...." Cassie menggerak-gerakkan tangan Mama. Mama diam saja. Dengan cemas Cassie bertanya, "Mama sakit ya? Mananya yang sakit? Mam, mana yang sakit?" Mama tidak menjawab. Hanya&lt;br /&gt;mengernyitkan alis sambil memejamkan mata. Cassie makin gencar bertanya, "Mama, mama... mana yang sakit? Cassie ambilin obat ya? Ya? Ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba... "Cassie!! Kepala mama lagi pusing! Kamu jangan berisik!"&lt;br /&gt;Mama membentak dengan suara tinggi. Kaget, Cassie mundur perlahan.&lt;br /&gt;Matanya menyipit. Kaki kecilnya gemetar. Bingung. Cassie salah apa?&lt;br /&gt;Cassie sayang Mama... Cassie salah apa? Takut-takut, Cassie menyingkir ke sudut ruangan. Mengamati Mama dari jauh, yang kembali mengurut-ngurut kepalanya. Otak kecil Cassie terus bertanya-tanya: Mama, Cassie salah apa? Mama tidak suka dekat-dekat Cassie? Cassie mengganggu Mama? Cassie tidak boleh sayang Mama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai peristiwa sejenis terjadi. Dan otak kecil Cassie merekam&lt;br /&gt;semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tahun-tahun berlalu. Cassie tidak lagi kecil. Cassie bertambah&lt;br /&gt;tinggi. Cassie remaja. Cassie mulai beranjak menuju dewasa. TIN TIIIN ! Mama pulang. Papa pulang. Cassie menurunkan kaki dari meja. Mematikan TV. Buru-buru naik ke atas, ke kamarnya, dan mengunci pintu. Menghilang dari pandangan. "Cassie mana?". "Sudah makan duluan, Tuan, Nyonya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu mereka kembali hanya makan berdua. Dalam kesunyian berpikir&lt;br /&gt;dengan hati terluka: Mengapa anakku sendiri, yang kubesarkan dengan&lt;br /&gt;susah payah, dengan kerja keras, nampaknya tidak suka menghabiskan waktu bersama-sama denganku? Apa salahku? Apa dosaku? Ah, anak jaman sekarang memang tidak tahu hormat sama orangtua! Tidak seperti jaman dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas, Cassie mengamati dua orang yang paling dicintainya dalam diam. Dari jauh. Dari tempat dimana ia tidak akan terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama, Papa, katakan padaku, bagaimana caranya memeluk seekor landak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Disadur dari "Tulang Rusuk", oleh Michael, diadaptasi oleh Ev. Sugeng Wiguno&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-3795268932433406471?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/3795268932433406471/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=3795268932433406471' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/3795268932433406471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/3795268932433406471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2008/02/aku-tak-cinta.html' title='Aku tak cinta'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-8239235505068545795</id><published>2008-01-15T20:16:00.000-08:00</published><updated>2008-01-15T20:17:04.520-08:00</updated><title type='text'>Pejuang di Negeri Seberang</title><content type='html'>Perempuan itu bernama Karmiah. Setiap adzan subuh berkumandang di masjid, ia harus cepat-cepat bangun. Ia memang harus bangun lebih awal ketimbang majikannya dan seisi rumah yang lain. Ia juga harus tidur lebih ahir ketimbang lainnya. Dan ia tidak akan masuk ke kamar peraduan sebelum majikannya tidur terlebih dahulu. Itulah nasib dia, sebagai seorang perempuan yang menjadi pembantu rumah tangga di luar negri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sudah lama mengunci mulutnya. Alias tidak banyak berbicara kecuali yang penting-penting saja. Ia juga dilarang untuk bicara dengan sesama PRT tetangga sebelah. Perempuan itu menurut saja. Sebab ia tidak punya hak untuk melawan walau hanya sepatah katapun. Apa yang dikatakan majikan, harus ia turuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi hari ia jarang makan nasi, seperti kebiasaannya di kampung. Ia hanya minum dan makan roti. Hari-hari ia lalui dengan banyak kerja. Sedikit sekali waktu istirahat yang diberikan majikan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesak. Sesak sekali rasanya. Tapi apa boleh buat. Ibarat akan mengarungi lautan,&lt;br /&gt;layar kapal sudah terkembang. Ia harus berani dan pantang menyerah. Dan akan terus melaju. Melaju menuju pelabuhan yang dituju. Keberhasilan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan 40-an itu banyak bercerita pada saya. Ia mencurahkan segala isi hatinya pada saya tentang apa yang sedang ia alami. Ia yang begitu susah hidup di kampung, di negeri seberangpun ia harus bertemu dengan sosok majikan yang sangat tidak manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia belum satu tahun bekerja di Brunei. Padahal masa kontraknya dua tahun. Masih butuh waktu cukup lama untuk menapaki hari-hari suramnya. Wajahnya makin sayu. Tubuhnya menampakkan ke-tidak segar-an. Hatinya luka. Kedua matanya, makin rabun. Sehingga kalau melihat tulisan seolah huruf-hurufnya berlainan. Mungkin terlalu banyak mengeluarkan air mata. Sehingga, suatu saat dia minta tolong pada saya untuk menuliskan sebuah surat untuk keluarganya di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu. Rupanya perempuan ini masih menjalani ujian berat dari Sang Maha Kasih. Kedua kakinya bengkak sudah beberapa bulan. Sudah ke rumah sakit tiga kali -dengan biaya sendiri-, tapi belum juga sembuh. Sungguh malang ibu dari empat orang anak ini. Melihat keadaan seperti itu, saya menyarankan agar pulang saja. Jangan memaksakan diri di tengah derita yang begitu mencekam. Namun perempuan ini menjawab tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya harus bertahan dulu di sini sebelum anak saya lepas dari sekolah, Mas. Saya tidak ingin anak saya keluar sebelum tamat hanya kekurangan biaya, kasihan. Saya sakit sekali jadi orang bodoh, jadi orang yang tidak sekolah. Saya ingin anak-anak saya tidak seperti bapak dan ibunya yang punya nasib sengsara."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kaget. Luar biasa semangat perempuan ini. Saya malah justru menyesal mengeluarkan kata-kata seperti itu. Saya tidak menyangka sama sekali di balik seorang yang tampak sangat lemah tapi ada kekuatan juang yang luar biasa. Ia punya tujuan sangat mulia. Ingin mengasah empat 'mutiara' nya di kampung menjadi orang-orang yang berilmu. Walaupun ia sendiri harus tertatih-tatih, merangkak mempertahankan hidup di bawah aturan ketat sang majikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya ia sosok yang sangat tabah. Dalam hidupnya, ia tak pernah menyalahkan siapa-siapa. Ia tak pernah menyalahkan suaminya yang hanya seorang buruh tani. Dan ia juga tak pernah peduli dengan negrinya yang sampai saat ini belum bisa memberikan apa arti sebuah kemakmuran dan kesejahteraan. Tapi ia hanya ingin menempa diri agar anak keturunannya punya nasib lebih baik dari dirinya. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, lagi-lagi ia harus terhempas. Mau tidak mau ia harus menuruti kehendak Yang Maha Kuasa. Kedua kakinya makin parah. Ahirnya ia memutuskan untuk pulang, sebelum masa kontraknya habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bandara Sukarno Hatta Jakarta, ia sudah tidak kuat lagi menahan derita sakitnya. Petugas bandara segera melarikan ke rumah sakit. Namun malaikat maut keburu menyambutnya, untuk menghadap Penguasa Alam ini. Semangat juang perempuan itu, hanya sampai di Jakarta, sebelum ia memasuki kampung halamannya di sebuah desa kecil, di bagian barat Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar berita yaang dituturkan majikan perempuan itu, saya terkejut luar biasa. Tubuh ini laksana mau terkulai. Ia bukan saudara saya. Ia bukan kerabat dekat saya. Tapi nasib di perantauan menjadikan saya, seolah ia adalah bagian dari keluarga saya. Saya hanya bisa berucap: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi saya membayangkan sosok dia. Seorang yang tampak lahir berfisik lemah, tapi punya daya juang, daya 'jihad' yang luar biasa. Saya jadi ingat kata-kata sahabat saya, seorang penulis, "Sosok seperti itulah yang paling layak mewarisi kehidupan ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbayang pula bagaimana sedihnya keempat anaknya ketika melihat ibunya sudah terbujur kaku. Bagaimana getirnya sang suami melihat sang istri yang sudah tak bernyawa lagi. Atau bagaimana merananya kerabat keluarganya ketika melihat perempuan itu sudah pulang ke pangkuan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah, maha segalanya. Tentu Dia tidak akan membiarkan sekecil apapun usaha positif mahluknya. "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah pun,&lt;br /&gt;niscaya dia akan melihat balasannya." (Az Zalzalah: 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapannya ingin punya mutiara yang cemerlang, yang 'alat gosok' nya ia cari sampai ke luar negeri, tentunya tidak akan diabaikan begitu saja oleh Yang Maha Perkasa. Tentu perjuangan perempuan itu akan jadi cermin besar bagi ke empat anaknya untuk berjuang lebih keras dan keras lagi. Walaupun saat ini mereka masih tertatih, dalam menyelesaikan pelajarannya di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan Karmiah, selamat jalan pejuang di negeri seberang. Semoga Allah menempatkanmu dalam tempat yang mulia. Amin.**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brunei, Jan 2006&lt;br /&gt;Penulis: Sus Woyo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-8239235505068545795?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/8239235505068545795/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=8239235505068545795' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/8239235505068545795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/8239235505068545795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2008/01/pejuang-di-negeri-seberang.html' title='Pejuang di Negeri Seberang'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-7751032424391261509</id><published>2008-01-15T20:02:00.001-08:00</published><updated>2008-01-15T20:02:31.083-08:00</updated><title type='text'>Kerja Adalah Kehormatan</title><content type='html'>Seorang eksekutif muda sedang beristirahat siang di sebuah kafe terbuka. Sambil sibuk mengetik di laptopnya, saat itu seorang gadis kecil yang membawa beberapa tangkai bunga menghampirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Om beli bunga Om.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak Dik, saya tidak butuh,” ujar eksekutif muda itu tetap sibuk dengan laptopnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Satu saja Om, kan bunganya bisa untuk kekasih atau istri Om,” rayu si gadis kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah kesal dengan nada tinggi karena merasa terganggu keasikannya si pemuda berkata, ”Adik kecil tidak melihat Om sedang sibuk? Kapan-kapan ya kalo Om butuh Om akan beli bunga dari kamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar ucapan si pemuda, gadis kecil itu pun kemudian beralih ke orang-orang yang lalu lalang di sekitar kafe itu. Setelah menyelesaikan istirahat siangnya, si pemuda segera beranjak dari kafe itu. Saat berjalan keluar ia berjumpa lagi dengan si gadis kecil penjual bunga yang kembali mendekatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sudah selesai kerja Om, sekarang beli bunga ini dong Om, murah kok satu tangkai saja.” Bercampur antara jengkel dan kasihan si pemuda mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ini uang 2000 rupiah buat kamu. Om tidak mau bunganya, anggap saja ini sedekah untuk kamu,” ujar si pemuda sambil mengangsurkan uangnya kepada si gadis kecil. Uang itu diambilnya, tetapi bukan untuk disimpan, melainkan ia berikan kepada pengemis tua yang kebetulan lewat di sekitar sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu keheranan dan sedikit tersinggung. ”Kenapa uang tadi tidak kamu ambil, malah kamu berikan kepada pengemis?” Dengan keluguannya si gadis kecil menjawab, ”Maaf Om, saya sudah berjanji dengan ibu saya bahwa saya harus menjual bunga-bunga ini dan bukan mendapatkan uang dari meminta-minta. Ibu saya selalu berpesan walaupun tidak punya uang kita tidak bolah menjadi pengemis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu tertegun, betapa ia mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari seorang anak kecil bahwa kerja adalah sebuah kehormatan, meski hasil tidak seberapa tetapi keringat yang menetes dari hasil kerja keras adalah sebuah kebanggaan. Si pemuda itu pun akhirnya mengeluarkan dompetnya dan membeli semua bunga-bunga itu, bukan karena kasihan, tapi karena semangat kerja dan keyakinan si anak kecil yang memberinya pelajaran berharga hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jarang kita menghargai pekerjaan sebatas pada uang atau upah yang diterima. Kerja akan bernilai lebih jika itu menjadi kebanggaan bagi kita. Sekecil apapun peran dalam sebuah pekerjaan, jika kita kerjakan dengan sungguh-sungguh akan memberi nilai kepada manusia itu sendiri. Dengan begitu, setiap tetes keringat yang mengucur akan menjadi sebuah kehormatan yang pantas kita perjuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Source by: Andrie Wongso)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-7751032424391261509?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/7751032424391261509/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=7751032424391261509' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/7751032424391261509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/7751032424391261509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2008/01/kerja-adalah-kehormatan.html' title='Kerja Adalah Kehormatan'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-8895818094887644231</id><published>2007-08-24T15:11:00.001-07:00</published><updated>2007-08-24T15:11:59.857-07:00</updated><title type='text'>Yu Yuan: aku pernah datang dan aku sangat patuh</title><content type='html'>Yu Yuan: aku pernah datang dan aku sangat patuh&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kisah tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kata terakhir yang ia tinggalkan adalah saya pernah datang dan saya sangat penurut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak ini rela melepasakan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dan membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Dan dia rela melepaskan pengobatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya.&lt;br /&gt;Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya. Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, "saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan". Kemudian papanya memberikan dia nama Yu Yan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada Asi dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.&lt;script&gt;&lt;!-- D(["mb","\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nYu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur\u003cbr\&gt;\nlima tahun, dia sudah membantu papa mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nPada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya di ceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nSetiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nMulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu\u003cbr\&gt;\npagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut. Sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengerluarkan darah dan tidak mau berhenti. Dipahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa. Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri dikursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung",1] );  //--&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur&lt;br /&gt;lima tahun, dia sudah membantu papa mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya di ceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu&lt;br /&gt;pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut. Sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengerluarkan darah dan tidak mau berhenti. Dipahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa. Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri dikursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung&lt;script&gt;&lt;!-- D(["mb","\u003cbr\&gt;\n Yu Yuan.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nDokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar 300.000 $. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang\u003cbr\&gt;\nkesanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit. Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nMelihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir dikala kata-kata belum sempat terlontar. &amp;quot;Papa saya ingin mati&amp;quot;. Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, &amp;quot;Kamu baru berumur 8 tahun kenapa mau mati&amp;quot;. &amp;quot;Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini.&amp;quot;\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nPada tanggal 18 juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri. Hari itu juga setelah pulang kerumah,\u003cbr\&gt;\nYu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya: &amp;quot;Setelah saya tidak ada,\u003cbr\&gt;\nkalau papa merindukan saya lihatlah melihat foto ini&amp;quot;. Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudia memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.",1] );  //--&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt; Yu Yuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar 300.000 $. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang&lt;br /&gt;kesanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit. Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir dikala kata-kata belum sempat terlontar. "Papa saya ingin mati". Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, "Kamu baru berumur 8 tahun kenapa mau mati". "Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 18 juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri. Hari itu juga setelah pulang kerumah,&lt;br /&gt;Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya: "Setelah saya tidak ada,&lt;br /&gt;kalau papa merindukan saya lihatlah melihat foto ini". Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudia memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.&lt;script&gt;&lt;!-- D(["mb","\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nSetelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara\u003cbr\&gt;\ndetail. Cerita tentang anak yg berumur 8 tahun mengatur pemakamakannya\u003cbr\&gt;\nsendiri dan akhirnya menyebar keseluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu Negara bahkan sampai keseluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini&amp;quot;. Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nHanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese didunia saja telah mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nSetelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan tetapi dana terus\u003cbr\&gt;\nmengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nAda seorang teman di-email bahkan menulis: &amp;quot;Yu Yuan anakku yang tercinta saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta.&amp;quot;\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nPada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan\u003cbr\&gt;\nmenunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah\u003cbr\&gt;\nterkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita didalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Yu yuan yang dari dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perermpuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.",1] );  //--&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara&lt;br /&gt;detail. Cerita tentang anak yg berumur 8 tahun mengatur pemakamakannya&lt;br /&gt;sendiri dan akhirnya menyebar keseluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu Negara bahkan sampai keseluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini". Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese didunia saja telah mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan tetapi dana terus&lt;br /&gt;mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang teman di-email bahkan menulis: "Yu Yuan anakku yang tercinta saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan&lt;br /&gt;menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah&lt;br /&gt;terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita didalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Yu yuan yang dari dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perermpuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.&lt;script&gt;&lt;!-- D(["mb","\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nHari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu\u003cbr\&gt;\nmemanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, &amp;quot;Anak yang baik&amp;quot;. Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah\u003cbr\&gt;\nberjuang menerobos sembilan pintu maut. Pernah mengalami pendarahan\u003cbr\&gt;\ndipencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang pun\u003cbr\&gt;\nmenunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nTetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah\u003cbr\&gt;\nmenakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain.\u003cbr\&gt;\nFisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut\u003cbr\&gt;\nfisik Yu Yuan semakin lemah.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nPada tanggal 20 agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan: &amp;quot;Tante kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya? Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut. Wartawan tersebut menjawab, karena mereka semua adalah orang yang baik hati&amp;quot;. Yu Yuan kemudia berkata : &amp;quot;Tante saya juga mau menjadi orang yang baik hati&amp;quot;. Wartawan itupun menjawab, &amp;quot;Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik&amp;quot;. Yu yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. &amp;quot;Tante ini adalah surat wasiat saya.&amp;quot;\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nFu yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu\u003cbr\&gt;\nYuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan diatas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;",1] );  //--&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu&lt;br /&gt;memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, "Anak yang baik". Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah&lt;br /&gt;berjuang menerobos sembilan pintu maut. Pernah mengalami pendarahan&lt;br /&gt;dipencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang pun&lt;br /&gt;menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah&lt;br /&gt;menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain.&lt;br /&gt;Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut&lt;br /&gt;fisik Yu Yuan semakin lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 20 agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan: "Tante kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya? Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut. Wartawan tersebut menjawab, karena mereka semua adalah orang yang baik hati". Yu Yuan kemudia berkata : "Tante saya juga mau menjadi orang yang baik hati". Wartawan itupun menjawab, "Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik". Yu yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. "Tante ini adalah surat wasiat saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fu yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu&lt;br /&gt;Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan diatas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script&gt;&lt;!-- D(["mb","\nDalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada\u003cbr\&gt;\nsembilan sebutan singkat tante wartawan. Dibelakang ada enam belas \u003cbr\&gt;\nsebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Tolong,..... .. Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang- orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar. &amp;quot;Sampai jumpa tante, kita\u003cbr\&gt;\nberjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakana ini juga pada pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh&amp;quot;. Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nSaya pernah datang, saya sangat patuh, demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 agustus, karena pendarahan\u003cbr\&gt;\ndipencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan di pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis. Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa \u003cbr\&gt;\nmembantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut\u003cbr\&gt;\nakhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima\u003cbr\&gt;\nkenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air. Sungguh telah pergi kedunia lain.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nDikecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar\u003cbr\&gt;\nkepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita\u003cbr\&gt;\ndengan karangan bunga yang ditumupuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan &amp;quot;Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil diatas langit, kepakanlah kedua sayapmu. Terbanglah.. ......... ....&amp;quot; demikian kata-kata dari seorang pemuda",1] );  //--&gt;&lt;/script&gt; Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada&lt;br /&gt;sembilan sebutan singkat tante wartawan. Dibelakang ada enam belas&lt;br /&gt;sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Tolong,..... .. Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang- orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar. "Sampai jumpa tante, kita&lt;br /&gt;berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakana ini juga pada pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh". Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah datang, saya sangat patuh, demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 agustus, karena pendarahan&lt;br /&gt;dipencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan di pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis. Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa&lt;br /&gt;membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut&lt;br /&gt;akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima&lt;br /&gt;kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air. Sungguh telah pergi kedunia lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar&lt;br /&gt;kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita&lt;br /&gt;dengan karangan bunga yang ditumupuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan "Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil diatas langit, kepakanlah kedua sayapmu. Terbanglah.. ......... ...." demikian kata-kata dari seorang pemuda&lt;script&gt;&lt;!-- D(["mb","\u003cbr\&gt;\ntersebut.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nPada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nDidepan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa.\u003cbr\&gt;\nDiatas batu nisannya tertulis, &amp;quot;Aku pernah datang dan aku sangat patuh&amp;quot; (30 nov 1996- 22 agus 2005). Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia. Beristirahatlah gadis kecilku, nirwana akan menjadi lebih ceria dengan adanya dirimu.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nSesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nPada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu\u003cbr\&gt;\nYuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang\u003cbr\&gt;\nmengambang pun terlukis diraut wajah anak tersebut. &amp;quot;Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang melihat kami diatas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata &amp;quot;Aku pernah datang dan aku sangat patuh&amp;quot;.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nKesimpulan:\u003cbr\&gt;\nDemikianlah sebuah kisah yang sangat menggugah hati kita. Seorang anak\u003cbr\&gt;\nkecil yang berjuang bertahan hidup dan akhirnya harus menghadapi kematian akibat sakit yang dideritanya. Dengan kepolosan dan ketulusan serta baktinya kepada orang tuanya, akhirnya mendapatkan respon yang luar biasa dari kalangan Dunia. Walaupun hidup serba kekuarangan, Dia bisa memberikan kasihnya terhadap sesama. Inilah contoh yang seharusnya kita pun mampu melakukan hal yang sama, berbuat sesuatu yang bermakna bagi sesama, memberikan sedikit kehangatan dan perhatian kepada orang yang membutuhkan. Pribadi dan hati seperti inilah yang dinamakan pribadi seorang Pengasih.",1] );  //--&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didepan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa.&lt;br /&gt;Diatas batu nisannya tertulis, "Aku pernah datang dan aku sangat patuh" (30 nov 1996- 22 agus 2005). Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia. Beristirahatlah gadis kecilku, nirwana akan menjadi lebih ceria dengan adanya dirimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu&lt;br /&gt;Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang&lt;br /&gt;mengambang pun terlukis diraut wajah anak tersebut. "Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang melihat kami diatas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata "Aku pernah datang dan aku sangat patuh".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan:&lt;br /&gt;Demikianlah sebuah kisah yang sangat menggugah hati kita. Seorang anak&lt;br /&gt;kecil yang berjuang bertahan hidup dan akhirnya harus menghadapi kematian akibat sakit yang dideritanya. Dengan kepolosan dan ketulusan serta baktinya kepada orang tuanya, akhirnya mendapatkan respon yang luar biasa dari kalangan Dunia. Walaupun hidup serba kekuarangan, Dia bisa memberikan kasihnya terhadap sesama. Inilah contoh yang seharusnya kita pun mampu melakukan hal yang sama, berbuat sesuatu yang bermakna bagi sesama, memberikan sedikit kehangatan dan perhatian kepada orang yang membutuhkan. Pribadi dan hati seperti inilah yang dinamakan pribadi seorang Pengasih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-8895818094887644231?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/8895818094887644231/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=8895818094887644231' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/8895818094887644231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/8895818094887644231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/08/yu-yuan-aku-pernah-datang-dan-aku.html' title='Yu Yuan: aku pernah datang dan aku sangat patuh'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-1863475580915360760</id><published>2007-08-24T14:55:00.001-07:00</published><updated>2007-08-24T14:55:45.741-07:00</updated><title type='text'>Kisah Mama Yang Mulia</title><content type='html'>Cintailah Mama kita sebagai mana kita mencitai diri kita sendiri. *_&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Shi Sang Chi You Mama Hau"_ *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria berasal&lt;br /&gt;dari keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota&lt;br /&gt;tersebut. Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba&lt;br /&gt;kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah&lt;br /&gt;yang membuat sang pria jatuh hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah,&lt;br /&gt;dengan membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga,&lt;br /&gt;orang tua sang pria tidak menyukai wanita tsb. Sebagai orang yang&lt;br /&gt;terpandang di kota tsb, latar belakang wanita tsb akan merusak reputasi&lt;br /&gt;keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan&lt;br /&gt;untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia&lt;br /&gt;sudah menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tsb&lt;br /&gt;bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen&lt;br /&gt;dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu&lt;br /&gt;yang belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya&lt;br /&gt;seorang anak sangat tunduk pada orang tuanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orang tuanya agar&lt;br /&gt;menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal&lt;br /&gt;membujuk anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tsb, yang menurut&lt;br /&gt;mereka akan sangat merugikan masa depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kawin lari. Ia memutuskan&lt;br /&gt;untuk meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun&lt;br /&gt;ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang&lt;br /&gt;pria. Maka ketika saatnya tiba, sang ortu mengunci anaknya di dalam&lt;br /&gt;kamar dan dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah ditentukan&lt;br /&gt;sepasang kekasih tsb untuk melarikan diri. Sang wanita sangat terkejut&lt;br /&gt;dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria. Mereka kemudian memohon&lt;br /&gt;pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar,&lt;br /&gt;perkawinan mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota,&lt;br /&gt;reputasi anaknya akan tercemar, orang2 tidak akan menghormatinya lagi.&lt;br /&gt;Akibatnya, bisnis yang akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut&lt;br /&gt;secara perlahan2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan&lt;br /&gt;agar wanita tsb meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya&lt;br /&gt;lagi, dan menggugurkan kandungannya. Uang tsb dapat digunakan untuk&lt;br /&gt;membiayai hidupnya di tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar bahwa&lt;br /&gt;perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak&lt;br /&gt;kesulitan bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini,&lt;br /&gt;tetapi menolak untuk menerima uang tsb. Ia mencintai sang pria, bukan&lt;br /&gt;uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan&lt;br /&gt;sangat sulit?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tsb untuk meninggalkan&lt;br /&gt;sepucuk surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih berpisah&lt;br /&gt;dengan sang pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari&lt;br /&gt;kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. "Walaupun ia&lt;br /&gt;kelak bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang&lt;br /&gt;yang berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua", kata sang ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berat hati, sang wanita menulis surat. Ia menjelaskan bahwa ia&lt;br /&gt;sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa&lt;br /&gt;keberadaannya hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah&lt;br /&gt;melanggar janji setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama&lt;br /&gt;dalam menghadapi penolakan2 akibat perbedaan status sosial mereka. Ia&lt;br /&gt;tidak kuat lagi menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang wanita yang malang tsb tampak tidak punya pilihan lain. Ia terjebak&lt;br /&gt;antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota itu,&lt;br /&gt;sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia&lt;br /&gt;bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;==========0000000000==============&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi seorang&lt;br /&gt;ibu. Anaknya seorang laki2. Sang ibu bekerja keras siang dan malam,&lt;br /&gt;untuk membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di&lt;br /&gt;sebuah industri rumah tangga, malamnya, ia menyuci pakaian2 tetangga dan&lt;br /&gt;menyulam sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua&lt;br /&gt;pekerjaan ini sambil menggendong anak di punggungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun ia cukup berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak&lt;br /&gt;memungkinkan, karena ia harus berada di sisi anaknya setiap saat. Tetapi&lt;br /&gt;sang ibu tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usia tiga tahun, suatu saat, sang anak tiba2 sakit keras. Demamnya&lt;br /&gt;sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tsb harus&lt;br /&gt;menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah&lt;br /&gt;menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini,&lt;br /&gt;dan itupun belum cukup. Ibu tsb akhirnya juga meminjam ke sana-sini,&lt;br /&gt;kepada siapapun yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup&lt;br /&gt;ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tsb terdiri dari&lt;br /&gt;obat2 herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi&lt;br /&gt;sang ibu hanya mampu membeli obat2 herbal tsb, ia tidak punya uang&lt;br /&gt;sepeserpun lagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak&lt;br /&gt;mungkin, karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan&lt;br /&gt;belum terbayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa,&lt;br /&gt;untuk mendapatkan daging. Toko daging di desa tsb telah menolak&lt;br /&gt;permintaannya, untuk bayar di akhir bulan saat gajian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara tangisannya, ia tiba2 mendapatkan ide. Ia mencari alkohol yang&lt;br /&gt;ada di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain. Setelah pisau&lt;br /&gt;dapur dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil sekerat&lt;br /&gt;daging dari pahanya. Agar tidak membangunkan anaknya yang sedang tidur,&lt;br /&gt;ia mengikat mulutnya dengan sepotong kain. Darah berhamburan. Sang ibu&lt;br /&gt;tengah berjuang mengambil dagingnya sendiri, sambil berusaha tidak&lt;br /&gt;mengeluarkan suara kesakitan yang teramat sangat?..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitan sang&lt;br /&gt;ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya sendiri.&lt;br /&gt;Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang&lt;br /&gt;sedang dilakukan oleh sang ibu ............ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;==========0000000000==============&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang&lt;br /&gt;tampan, cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya. Di&lt;br /&gt;hari minggu, mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain&lt;br /&gt;bersama, dan bersama2 menyanyikan lagu "Shi Sang Chi You Mama Hau"&lt;br /&gt;(terjemahannya "Di Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik").&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga&lt;br /&gt;toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari2 mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak&lt;br /&gt;terkadang memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam&lt;br /&gt;hari. Ia tahu ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan&lt;br /&gt;biaya untuk sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat&lt;br /&gt;membelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selama ini.&lt;br /&gt;Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak setelah&lt;br /&gt;pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana, tidak&lt;br /&gt;terlalu mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih banyak&lt;br /&gt;keperluan lain yang perlu dibiayai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang anak segera pergi ke toko tsb, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia&lt;br /&gt;meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tsb, karena&lt;br /&gt;ia akan membelinya bulan depan. "Apakah kamu punya uang?"&lt;br /&gt;tanya sang pemilik toko. "Tidak sekarang, nanti saya akan punya", kata&lt;br /&gt;sang anak dengan serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, bulan depan sang anak benar2 muncul untuk membeli jam tangan&lt;br /&gt;tsb. Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya "Dari mana kamu&lt;br /&gt;mendapatkan uang itu? Bukan mencuri kan?". "Saya tidak mencuri, kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang&lt;br /&gt;pergi ke sekolah. Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang&lt;br /&gt;dari sekolah ke rumah, uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk&lt;br /&gt;beli jam ini. Kakiku sakit, tapi ini semua untuk ibuku. O ya, jangan&lt;br /&gt;beritahu ibuku tentang hal ini. Ia akan marah" kata sang anak. Sang&lt;br /&gt;pemilik toko tampak kagum pada anak tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang anak&lt;br /&gt;segera memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan&lt;br /&gt;tsb. Sang ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam&lt;br /&gt;tangan ini memang adalah impiannya. Tetapi sang ibu tiba2 tersadar, dari&lt;br /&gt;mana uang untuk membeli jam tsb. Sang anak tutup mulut, tidak mau menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah kamu mencuri, Nak?" Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak ingin&lt;br /&gt;ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ditanya berkali2 tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa&lt;br /&gt;anaknya telah mencuri. "Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri.&lt;br /&gt;Bukankah ibu sudah mengajari kamu tentang hal ini?" kata sang ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu sayang&lt;br /&gt;pada anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak menangis,&lt;br /&gt;sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu&lt;br /&gt;perih, karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus&lt;br /&gt;melakukannya, demi kebaikan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju ke rumah&lt;br /&gt;tsb heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya. "Ia&lt;br /&gt;sebenarnya anak yang baik", kata salah satu tetangganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah&lt;br /&gt;satu tetangganya yang merupakan familinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia keluar melihat ke rumah itu, ia segera mengenal anak itu.&lt;br /&gt;Ketika mengetahui persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk&lt;br /&gt;menjelaskan. Tetapi tiba2 sang anak berlari ke arah pemilik toko, memohon&lt;br /&gt;agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak boleh&lt;br /&gt;menyembunyikan sesuatu dari ibunya". Sang anak mengikuti nasehat kakek&lt;br /&gt;itu. Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak&lt;br /&gt;tiba2 muncul di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan&lt;br /&gt;jam tangan tsb, dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul&lt;br /&gt;siang tadi di tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya.&lt;br /&gt;Ia juga menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya&lt;br /&gt;pulang ke rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk&lt;br /&gt;mengumpulkan uang membeli jam tangan kesukaan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal tsb,&lt;br /&gt;begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak&lt;br /&gt;kesayangannya, keduanya menangis dengan tersedu-sedu."Maafkan saya, Nak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak Bu, saya yang bersalah".............. ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;===========000=================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi&lt;br /&gt;istrinya mandul. Mereka tidak punya anak. Sang ortu sangat sedih akan&lt;br /&gt;hal ini, karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sang ibu dan anaknya berjalan2 ke kota, dalam sebuah kesempatan,&lt;br /&gt;mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru menyadari&lt;br /&gt;bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah dagingnya&lt;br /&gt;sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia menanggung&lt;br /&gt;semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami bisa hidup&lt;br /&gt;dengan baik tanpa bantuanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka begitu&lt;br /&gt;ingin melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;===========000==================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter&lt;br /&gt;mengatakan bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang&lt;br /&gt;konsisten. Kalau kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuangan sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan sebelumnya. Tetapi&lt;br /&gt;biaya medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan solusi yang&lt;br /&gt;tepat. Satu2nya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada sang&lt;br /&gt;ayah, karena sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya berkeliling&lt;br /&gt;kota, bermain2 di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali,&lt;br /&gt;menyanyikan lagu "Shi Sang Chi You Mama Hau", lagu kesayangan&lt;br /&gt;mereka. Untuk sejenak, sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia&lt;br /&gt;hanyut dalam kegembiraan bersama sang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak. Sang anak&lt;br /&gt;menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin dengan ibu.&lt;br /&gt;"Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak" kata&lt;br /&gt;ibu. "Tidak apa2 Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila&lt;br /&gt;bisa bersama2 dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak&lt;br /&gt;uang untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu&lt;br /&gt;bekerja lagi, Bu", kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke&lt;br /&gt;rumah sang ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap&lt;br /&gt;saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat&lt;br /&gt;senang melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang&lt;br /&gt;anak meronta2 ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan&lt;br /&gt;mainan kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama&lt;br /&gt;ibunya, sang anak menolak. "Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu",&lt;br /&gt;teriak sang anak dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis,&lt;br /&gt;sang ibu berkata "Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di&lt;br /&gt;sini. Ayah, kakek dan nenek akan bermain bersamamu." "Tidak, aku tidak&lt;br /&gt;mau mereka. Saya hanya mau ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga&lt;br /&gt;sayang saya? Ibu sekarang tidak mau saya lagi", sang anak mulai menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tsb tidak&lt;br /&gt;didengarkan anak kecil tsb. Sang anak menangis tersedu2 "Kalau ibu&lt;br /&gt;sayang padaku, bawalah saya pergi, Bu". Sampai pada akhirnya, ibunya&lt;br /&gt;memaksa dengan mengatakan "Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah&lt;br /&gt;disini", ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tsb. Tampak&lt;br /&gt;anaknya meronta2 dengan ledakan tangis yang memilukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu&lt;br /&gt;menyayat hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan&lt;br /&gt;menjenguk anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan&lt;br /&gt;baik. Diantara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi.&lt;br /&gt;Ia telah kehilangan satu2nya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong urat&lt;br /&gt;nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin&lt;br /&gt;tidak akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk&lt;br /&gt;mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh&lt;br /&gt;diri itu dibatalkan, demi anaknya juga.......... ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;============000=========&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan kerja&lt;br /&gt;yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetap menjalani&lt;br /&gt;perawatan medis secara rutin setiap bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, sang anak ingat akan hari ulang tahun ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah&lt;br /&gt;mengumpulkannya. Maka, pada hari tsb, sepulang dari sekolah, ia tidak&lt;br /&gt;pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal ibunya,&lt;br /&gt;yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah mempersiapkan setangkai&lt;br /&gt;bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari merindukan ibu,&lt;br /&gt;sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang sangat&lt;br /&gt;bagus. Ia akan memberikan semuanya untuk ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju&lt;br /&gt;rumahnya. Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah&lt;br /&gt;kosong. Tetangga mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu&lt;br /&gt;kemana ibunya pergi. Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di&lt;br /&gt;depan rumah tsb, menangis "Ibu benar2 tidak menginginkan saya lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah&lt;br /&gt;terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah&lt;br /&gt;mengatakan semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi&lt;br /&gt;tidak ada kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut.&lt;br /&gt;Polisi pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba2 ia teringat sesuatu. Hari&lt;br /&gt;ini adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya.&lt;br /&gt;Anaknya mungkin pulang ke rumah. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik&lt;br /&gt;mobil menuju rumah tsb. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang&lt;br /&gt;tahun, setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat&lt;br /&gt;anaknya. Sang ibu tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan2&lt;br /&gt;imut anaknya dalam surat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tsb, tanpa&lt;br /&gt;mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu&lt;br /&gt;membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis&lt;br /&gt;ia memohon agar bisa menemukan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba2 ingat bahwa ia dan anaknya&lt;br /&gt;pernah pergi ke sebuah kuil Kuan Im di desa tsb. Ibunya pernah berkata,&lt;br /&gt;bahwa bila kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Dewi Kuan Im&lt;br /&gt;yang welas asih. Dewi Kuan Im pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tsb untuk&lt;br /&gt;memohon agar bisa bertemu dengan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja, ternyata sang anak berada di sana. Tetapi ia pingsan,&lt;br /&gt;demamnya tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk&lt;br /&gt;dilarikan ke rumah sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh&lt;br /&gt;dari tangga, dan berguling2 jatuh ke bawah.......... ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;============000==============&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku&lt;br /&gt;kuliah. Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan ibunya.&lt;br /&gt;Sejak jatuh dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak&lt;br /&gt;telah banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya kemana2, tetapi&lt;br /&gt;hasilnya nihil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama&lt;br /&gt;dengan teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil,&lt;br /&gt;di persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang&lt;br /&gt;mengemis. Ibu tsb terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak&lt;br /&gt;pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak&lt;br /&gt;berkomat-kamit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turun bersama&lt;br /&gt;pacar untuk menghampiri pengemis tua itu. Ternyata sang pengemis tua&lt;br /&gt;sambil mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap dengan&lt;br /&gt;lemah "Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat anakku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segera&lt;br /&gt;menyanyikan lagu "Shi Sang Ci You Mama Hau" dengan suara perlahan, tak&lt;br /&gt;disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah.&lt;br /&gt;Mereka berdua menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang&lt;br /&gt;selalu menyanyikan lagu tsb saat ia kecil, sang anak segera memeluk&lt;br /&gt;pengemis tua itu dan berteriak dengan haru "Ibu? Ini saya ibu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba2 muka sang anak, lalu&lt;br /&gt;bertanya, "Apakah kamu ??..(nama anak itu)?" "Benar bu, saya adalah anak&lt;br /&gt;ibu?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur membasahi&lt;br /&gt;bumi ............... .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadi&lt;br /&gt;hilang ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus mencari&lt;br /&gt;anaknya, tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang&lt;br /&gt;menganggapnya sebagai orang gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;====================000===========================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_Perenungkan untuk kita renungkan bersama-sama:_&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu&lt;br /&gt;bahkan rela mengorbankan nyawanya..&lt;br /&gt;Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut ini, di saat Ibu masih muda,&lt;br /&gt;ataupun disaat Ibu sudah tua :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah&lt;br /&gt;aku sebagai gantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara orang2 disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung&lt;br /&gt;Anda, diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela&lt;br /&gt;mengorbankan nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara&lt;br /&gt;apapun ...........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diragukan lagi "Ibu kita adalah Orang Yang Paling Mulia di dunia ini"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;++++++++++++++++++++++&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin bergabung dalam sebuah MISI MULIA ? Ada sebuah tindakan yang dapat&lt;br /&gt;Anda  lakukan, bila Anda beruntung (Ibu Anda masih ada di dunia ini),&lt;br /&gt;ajaklah ia untuk keluar makan atau jalan2 MALAM INI JUGA. Jangan&lt;br /&gt;ditunda2. Bila Ibu  Anda tinggal di tempat yang terpisah jauh dengan&lt;br /&gt;Anda, telponlah dia malam ini juga, just to say "hello". Catatlah hari&lt;br /&gt;ulang tahunnya,  rayakan, dan bahagiakanlah dia semampu Anda. Hidangkan&lt;br /&gt;makanan favoritnya, dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: milis airputih&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-1863475580915360760?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/1863475580915360760/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=1863475580915360760' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/1863475580915360760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/1863475580915360760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/08/kisah-mama-yang-mulia.html' title='Kisah Mama Yang Mulia'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-7898543343762545534</id><published>2007-08-24T14:37:00.000-07:00</published><updated>2007-08-24T14:54:13.310-07:00</updated><title type='text'>Kekuatan tanpa Kekerasan</title><content type='html'>Berikut ini adalah cerita masa muda Dr. Arun Gandhi (cucu dari&lt;br /&gt;Mahatma Gandhi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu Arun masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tua&lt;br /&gt;disebuah lembaga yang didirikan oleh kakeknya yaitu Mahatma Gandhi,&lt;br /&gt;di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika&lt;br /&gt;selatan. Mereka tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki&lt;br /&gt;tetangga. Tidak heran bila Arun dan dua saudara perempuannya sangat&lt;br /&gt;senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau&lt;br /&gt;menonton bioskop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari ayah Arun meminta Arun untuk mengantarkan ayahnya ke kota&lt;br /&gt;untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan Arun sangat gembira&lt;br /&gt;dengan kesempatan ini. Tahu bahwa Arun akan pergi ke kota, ibunya&lt;br /&gt;memberikan daftar belanjaan untuk keperluan sehari-hari. Selain itu,&lt;br /&gt;ayahnya juga minta untuk mengerjakan pekerjaan yang lama tertunda,&lt;br /&gt;seperti memperbaiki mobil di bengkel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, setiba di tempat konferensi, ayah berkata, "Ayah tunggu kau&lt;br /&gt;disini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama.".&lt;br /&gt;Segera Arun menyelesaikan pekerjaan yang diberikan ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, Arun pergi ke bioskop, dan dia benar-benar terpikat dengan&lt;br /&gt;dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam&lt;br /&gt;menunjukkan pukul 17:30, langsung Arun berlari menuju bengkel mobil&lt;br /&gt;dan terburu-buru menjemput ayahnya yang sudah menunggunya sedari&lt;br /&gt;tadi. Saat itu sudah hampir pukul 18:00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gelisah ayahnya menanyakan Arun "Kenapa kau terlambat?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arun sangat malu untuk mengakui bahwa dia menonton film John Wayne&lt;br /&gt;sehingga dia menjawab "Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus&lt;br /&gt;menunggu". Padahal ternyata tanpa sepengetahuan Arun, ayahnya telah&lt;br /&gt;menelepon bengkel mobil itu. Dan kini ayahnya tahu kalau Arun &lt;script&gt;&lt;!-- D(["mb","\u003cbr\&gt;\nberbohong.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nLalu Ayahnya berkata, &amp;quot;Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kau \u003cbr\&gt;\nsehingga kau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran \u003cbr\&gt;\nkepada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang ke \u003cbr\&gt;\nrumah dengan berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-\u003cbr\&gt;\nbaik.&amp;quot;.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nLalu, Ayahnya dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya mulai \u003cbr\&gt;\nberjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan \u003cbr\&gt;\njalanan sama sekali tidak rata. Arun tidak bisa meninggalkan ayahnya, \u003cbr\&gt;\nmaka selama lima setengah jam, Arun mengendarai mobil pelan-pelan \u003cbr\&gt;\ndibelakang beliau, melihat penderitaan yang dialami oleh ayahnya  \u003cbr\&gt;\nhanya karena kebodohan bodoh yang Arun lakukan.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nSejak itu Arun tidak pernah akan berbohong lagi.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nPernyataan Arun:\u003cbr\&gt;\n&amp;quot;Sering kali saya berpikir mengenai episode ini dan merasa heran. \u003cbr\&gt;\nSeandainya Ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak \u003cbr\&gt;\nkita, maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai \u003cbr\&gt;\ntanpa kekerasan? Saya kira tidak. Saya akan menderita atas hukuman \u003cbr\&gt;\nitu dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu \u003cbr\&gt;\ntindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa \u003cbr\&gt;\nkejadian itu baru saja terjadi kemarin. Itulah kekuatan tanpa \u003cbr\&gt;\nkekerasan.&amp;quot;\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\n\u003c/p\&gt;\n    \u003c/div\&gt;  \n\n    \n    \u003cspan width\u003d\"1\" style\u003d\"color:white\"\&gt;__._,_.___\u003c/span\&gt;\n    \n    \u003cdiv\&gt;\n              \u003cspan\&gt;\n          \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/airputih/message/1061;_ylc\u003dX3oDMTM1cXN1ZXZsBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzExMTcwOTc3BGdycHNwSWQDMTcwNTE3MTQ2NARtc2dJZAMxMDYxBHNlYwNmdHIEc2xrA3Z0cGMEc3RpbWUDMTE4Nzk2OTc0MwR0cGNJZAMxMDYx\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;\n            Messages in this topic          \u003c/a\&gt; (\u003cspan\&gt;1\u003c/span\&gt;)\n        \u003c/span\&gt;\n        \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/airputih/post;_ylc\u003dX3oDMTJxanIwbTUwBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzExMTcwOTc3BGdycHNwSWQDMTcwNTE3MTQ2NARtc2dJZAMxMDYxBHNlYwNmdHIEc2xrA3JwbHkEc3RpbWUDMTE4Nzk2OTc0Mw--?act\u003dreply&amp;messageNum\u003d1061\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;",1] );  //--&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;berbohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Ayahnya berkata, "Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kau&lt;br /&gt;sehingga kau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran&lt;br /&gt;kepada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang ke&lt;br /&gt;rumah dengan berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-&lt;br /&gt;baik.".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, Ayahnya dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya mulai&lt;br /&gt;berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan&lt;br /&gt;jalanan sama sekali tidak rata. Arun tidak bisa meninggalkan ayahnya,&lt;br /&gt;maka selama lima setengah jam, Arun mengendarai mobil pelan-pelan&lt;br /&gt;dibelakang beliau, melihat penderitaan yang dialami oleh ayahnya &lt;br /&gt;hanya karena kebodohan bodoh yang Arun lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu Arun tidak pernah akan berbohong lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Arun:&lt;br /&gt;"Sering kali saya berpikir mengenai episode ini dan merasa heran.&lt;br /&gt;Seandainya Ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak&lt;br /&gt;kita, maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai&lt;br /&gt;tanpa kekerasan? Saya kira tidak. Saya akan menderita atas hukuman&lt;br /&gt;itu dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu&lt;br /&gt;tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa&lt;br /&gt;kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Itulah kekuatan tanpa&lt;br /&gt;kekerasan."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-7898543343762545534?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/7898543343762545534/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=7898543343762545534' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/7898543343762545534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/7898543343762545534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/08/kekuatan-tanpa-kekerasan.html' title='Kekuatan tanpa Kekerasan'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-4549046600548091649</id><published>2007-06-26T20:32:00.001-07:00</published><updated>2007-06-26T20:33:59.344-07:00</updated><title type='text'>KISAH KASIH SEORANG PRAMUGARI</title><content type='html'>Seorang pramugari selain mengenakan pakaian cantik seperti yang&lt;br /&gt;diketahui banyak orang, tentu saja ada kala nya saya menghadapi&lt;br /&gt;saat-saat sulit. Pramugari harus kerja lembur, di dalam pesawat harus&lt;br /&gt;mengantar makanan pada ratusan orang, menjual barang duty free,&lt;br /&gt;melayani tamu, sibuk sekali sampai tidak bisa tersenyum. Dalam keadaan&lt;br /&gt;demikian tetap harus mengingatkan diri bahwa pekerjaanku adalah&lt;br /&gt;pelayanan, harus melayani banyak orang. Walaupun bagaimana memberitahu&lt;br /&gt;diri kadang-kadang ada saat dimana saya kehabisan tenaga, tak bisa&lt;br /&gt;bersabar dan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pada suatu hari teman baik saya bercerita tentang bagaimana dia&lt;br /&gt;melayani seorang kakek tua yang pikun, saya baru bisa mengubah sikap&lt;br /&gt;kerja saya.&lt;br /&gt;Ini adalah sebuah penerbangan dari Taipei ke New York. Pada saat&lt;br /&gt;pesawat terbang take off tak berapa lama, ada seorang kakek yang tidak&lt;br /&gt;bisa mengontrol untuk buang air besar. Dan akhirnya memngeluarkannya&lt;br /&gt;di tempat. Keluarga yang melihat hanya merasa jijik dan memaksa kakek&lt;br /&gt;ini untuk membersihkan diri di toilet sendirian. Orang tua ini tampak&lt;br /&gt;ragu sejenak, lalu kemudian seorang diri berjalan menuju toilet yang&lt;br /&gt;berada di belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat kakek itu keluar dari toilet, walau bagaimana pun ia&lt;br /&gt;mengingat, ia tetap tidak mampu mengingat tempat duduknya sendiri.&lt;br /&gt;Kakek yang berumur 80-an ini menjadi cemas, takut, dan menangis&lt;br /&gt;seorang diri di teras toilet. Seorang pramugari datang membantu kakek&lt;br /&gt;ini, bau yang teramat sangat memenuhi badan kakek. Ternyata kakek ini&lt;br /&gt;tidak mengetahui dengan jelas letak tissue di dalam toilet tersebut&lt;br /&gt;sehingga ia membersihkannya dengan menggunakan bajunya. Toilet yang&lt;br /&gt;digunakannnya tadi jadi kotor dan berantakan sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengantarkan kakek kembali ke tempat duduknya. Para penumpang&lt;br /&gt;di sekitarnya mulai mengeluh bau busuk yang berasal dari badannya.&lt;br /&gt;Pramugari menanyakan kepada saudaranya apakah mereka masih memiliki&lt;br /&gt;baju pengganti yang bisa digunakan oleh kakek ini. Saudaranya&lt;br /&gt;mengatakan, semua pakaian ada di bagasi pesawat, jadi kakek ini tidak&lt;br /&gt;memiliki baju pengganti. Dan saudaranya berkata, "Sekarangkan&lt;br /&gt;penerbangan ini tidak terisi full, saya melihat ada beberapa baris&lt;br /&gt;bagian belakang yang masih kosong, bawa saja kakek ini untuk duduk di&lt;br /&gt;belakang." Pramugari ini hanya bisa mengikuti keinginan dari&lt;br /&gt;saudaranya.dan membawa kakek ini ke barisan belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian mengunci toilet yang telah digunakan oleh kakek ini agar&lt;br /&gt;penumpang lain tidak salah masuk toilet. Akhirnya kakek ini duduk di&lt;br /&gt;bangku belakang seorang diri, menundukan kepala dan tak henti-hentinya&lt;br /&gt;menghapus air matanya yang terus mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa sangka satu jam kemudian, kakek ini sudah berganti pakaian,&lt;br /&gt;dengan badan yang bersih dan tersenyum riang kembali ke tempat&lt;br /&gt;duduknya semula. Di depan mejanya tersaji seporsi makanan baru yang&lt;br /&gt;masih hangat. Semua orang saling bertanya siapa gerangan yang&lt;br /&gt;membantunya?  &lt;br /&gt;   Ternyata teman baik saya ini yang mengorbankan waktu makan&lt;br /&gt;malamnya. Dia menggunakan tissue dan lap basah pelan-pelan&lt;br /&gt;membersihkan badan kakek ini sampai bersih.dan meminjam baju baru dari&lt;br /&gt;co-pilot untuk mengganti baju kakek ini. Terlebih lagi, pramugari ini&lt;br /&gt;membersihkan toilet yang telah digunakan oleh kakek ini hingga bersih&lt;br /&gt;dan menyemprotkan parfumnya sendiri ke dalam toilet tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekan kerjanya mengatakan dia bodoh, harus begitu susah payah membantu&lt;br /&gt;orang lain, bukankah sampai akhirnya tidak akan ada orang yang&lt;br /&gt;mengenang dan berterimah kasih. Sudah lelah, namun tidak mendatangkan&lt;br /&gt;keuntungan apa pun. Dia dengan tenang dan tegas menjawab, "Jam&lt;br /&gt;penerbangan masih belasan jam, kalau saya menjadi orang tua tersebut,&lt;br /&gt;saya pastilah sangat sedih, siapa yang berharap kalau awal dari&lt;br /&gt;perjalanan ini bisa jadi begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi pula tigapuluhan orang harus menggunakan satu toilet, kurang satu&lt;br /&gt;toilet tentu sangat merepotkan. Saya bukan hanya membantu orang tua&lt;br /&gt;itu tapi juga membantu penumpang yang lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengar cerita ini saya sangat menyesali sikap saya. Teman&lt;br /&gt;baikku pernah menyampaikan kepada saya bahwa pekerjaan yang paling&lt;br /&gt;membahagiakan adalah pekerjaan yang mengantarkan orang lain dari satu&lt;br /&gt;tempat ke tempat lain dengan selamat. Sejak mendengar pengalaman indah&lt;br /&gt;dari teman baik ini, saya baru menyadari bahwa pelayanan sungguh&lt;br /&gt;merupakan sebuah berkah yang harus dihargai. Cara terbaik menghargai&lt;br /&gt;berkah adalah dengan membagikan berkah ini kepada orang lain.&lt;br /&gt;Pengalaman teman baikku ini telah mengubah sikapku dalam bertugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Milis Air Putih - airputih@yahoogroups.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-4549046600548091649?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/4549046600548091649/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=4549046600548091649' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/4549046600548091649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/4549046600548091649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/06/kisah-kasih-seorang-pramugari.html' title='KISAH KASIH SEORANG PRAMUGARI'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-1340891491398134323</id><published>2007-06-26T20:15:00.000-07:00</published><updated>2007-06-26T20:17:45.159-07:00</updated><title type='text'>A TASTE OF CHERRY</title><content type='html'>Abbas Khiarostami pernah bikin heboh pemerintah Iran karena membuat&lt;br /&gt;film A Taste of Cherry.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kisahnya tentang seorang Iran paruh baya yang berkeliling mencari&lt;br /&gt;orang yang bisa membantunya untuk bunuh diri. Yang ia minta sederhana&lt;br /&gt;saja. Ia akan menggali tanah kubur di tempat yang telah ia pilih, lalu&lt;br /&gt;malam hari ia akan berbaring di dalam kubur itu, setelah ia minum obat&lt;br /&gt;tidur dalam dosis mematikan. Ia hanya minta orang yang membantunya&lt;br /&gt;untuk datang di pagi hari dan menutup kuburan itu kalau ia memang&lt;br /&gt;telah mati.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Nyaris semua orang menolak. Ada satu guru agama dari Afganistan yang&lt;br /&gt;ia mintai bantuan malah memberinya ceramah tentang betapa bunuh diri&lt;br /&gt;adalah dosa tak terampunikan dalam Islam.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Sang tokoh bilang, saya tak butuh ceramah, saya butuh bantuan. Sang&lt;br /&gt;tokoh merasa bahwa ia tak menemukan makna hidup, bahwa hidup ini&lt;br /&gt;sia-sia belaka.&lt;br /&gt;Betapa hidupnya sunyi, tak ada lagi yang memberinya alasan untuk tetap&lt;br /&gt;hidup. Tak ada agama atau omongan orang yang bisa memuaskannya.&lt;br /&gt;Bukankah adalah haknya sepenuhnya untuk memilih berhenti hidup?&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Akhirnya ada seorang tua yang bersedia menolong sang tokoh bunuh diri.&lt;br /&gt;Orang tua itu sama sekali tak keberatan dengan pilihan sang tokoh.&lt;br /&gt;Tapi orang tua itu bercerita tentang pengalaman hidupnya, suatu&lt;br /&gt;ketika, saat ia merasa ia lebih baik mati saja. Orang tua itu mencoba&lt;br /&gt;bunuh diri, tapi gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pagi setelah kegagalannya bunuh diri, si orang tua merasakan dunia&lt;br /&gt;seakan baru pertama kali. Hangatnya mentari, indahnya semburit cahaya&lt;br /&gt;fajar, kicau bung, segalanya dalam dunia ini begitu indah.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  "Apakah engkau lupa betapa enaknya rasa buah cherry?" Tanya si orang&lt;br /&gt;tua itu kepada sang tokoh. Seakan si tua ingin berkata bahwa,&lt;br /&gt;mengapakah engkau ingin meninggalkan rasa buah cherry, ingin&lt;script&gt;&lt;!-- D(["mb","\u003cbr\&gt;\nmeninggalkan semua keindahan ini?\u003cbr\&gt;\n   \u003cbr\&gt;\n  Ya, mensyukuri buah cherry (mensyukuri segala aspek terkecil alam\u003cbr\&gt;\nhidup ini) mestinya bisa jadi salah satu cara untuk mengobati luka\u003cbr\&gt;\nhati. Alangkah ajaibnya hidup ini, alangkan indahnya!\u003cbr\&gt;\n   \u003cbr\&gt;\n  Tapi manakah yang lebih patut disyukuri, rasa buah cherry itu,\u003cbr\&gt;\nataukah lidah yang membuat kita bisa mengecap rasa buah cherry itu?\u003cbr\&gt;\n   \u003cbr\&gt;\n \u003cbr\&gt;\n----------------------------------------------------------\u003cbr\&gt;\nDikutip dari buku Life Goes On, Hikmat Darmawan olej  Sinta &lt;sinthionk@.....&gt;\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\n\u003c/p\&gt;\n    \u003c/div\&gt;  \n\n    \n    \u003cspan width\u003d\"1\" style\u003d\"color:white\"\&gt;__._,_.___\u003c/span\&gt;\n    \n    \u003cdiv\&gt;\n              \u003cspan\&gt;\n          \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/airputih/message/1027;_ylc\u003dX3oDMTM1dHYwNzIwBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzExMTcwOTc3BGdycHNwSWQDMTcwNTE3MTQ2NARtc2dJZAMxMDI3BHNlYwNmdHIEc2xrA3Z0cGMEc3RpbWUDMTE3OTgzODk1NQR0cGNJZAMxMDI3\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;\n            Messages in this topic          \u003c/a\&gt; (\u003cspan\&gt;1\u003c/span\&gt;)\n        \u003c/span\&gt;\n        \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/airputih/post;_ylc\u003dX3oDMTJxY21sbjNzBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzExMTcwOTc3BGdycHNwSWQDMTcwNTE3MTQ2NARtc2dJZAMxMDI3BHNlYwNmdHIEc2xrA3JwbHkEc3RpbWUDMTE3OTgzODk1NQ--?act\u003dreply&amp;messageNum\u003d1027\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;\n          \u003cspan\&gt;\n            Reply          \u003c/span\&gt; (via web post)\n        \u003c/a\&gt;  | \n        \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/airputih/post;_ylc\u003dX3oDMTJmYm5jNDVlBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzExMTcwOTc3BGdycHNwSWQDMTcwNTE3MTQ2NARzZWMDZnRyBHNsawNudHBjBHN0aW1lAzExNzk4Mzg5NTU-\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;\n          Start a new topic        \u003c/a\&gt;\n          \u003c/div\&gt; \n    \n    \n    \u003cdiv\&gt;\n                \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/airputih/messages;_ylc\u003dX3oDMTJmOHBkaGhzBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzExMTcwOTc3BGdycHNwSWQDMTcwNTE3MTQ2NARzZWMDZnRyBHNsawNtc2dzBHN0aW1lAzExNzk4Mzg5NTU-\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;",1] );  //--&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;meninggalkan semua keindahan ini?&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Ya, mensyukuri buah cherry (mensyukuri segala aspek terkecil alam&lt;br /&gt;hidup ini) mestinya bisa jadi salah satu cara untuk mengobati luka&lt;br /&gt;hati. Alangkah ajaibnya hidup ini, alangkan indahnya!&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Tapi manakah yang lebih patut disyukuri, rasa buah cherry itu,&lt;br /&gt;ataukah lidah yang membuat kita bisa mengecap rasa buah cherry itu?&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Dikutip dari buku Life Goes On&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Milis Air Putih&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-1340891491398134323?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/1340891491398134323/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=1340891491398134323' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/1340891491398134323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/1340891491398134323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/06/taste-of-cherry.html' title='A TASTE OF CHERRY'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-7612011937219154782</id><published>2007-06-26T20:14:00.001-07:00</published><updated>2007-06-26T20:14:37.700-07:00</updated><title type='text'>Mengubah Cacian Jadi Kekaguman</title><content type='html'>MENJADI besar tanpa penderitaan sekaligus cacian orang, itulah&lt;br /&gt;kemauan banyak sekali anak muda. Dan kalau memang kehidupan seperti&lt;br /&gt;itu ada, tentu ada terlalu banyak manusia yang juga menginginkannya.&lt;br /&gt;Sayangnya wajah kehidupan seperti ini tidak pernah ada. Sehingga&lt;br /&gt;jadilah cita-cita menjadi besar tanpa penderitaan hanya sebagai&lt;br /&gt;khayalan manusia malas yang tidak pernah mencoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini serupa dengan khayalan seorang sahabat Amerika yang bertanya:&lt;br /&gt;kenapa Yesus tidak lahir di Amerika di abad ke-21 ini? Rekan lainnya&lt;br /&gt;sesama Amerika menimpali sambil bercanda: memangnya ada wanita&lt;br /&gt;Amerika yang masih perawan? Namanya juga canda, tentu tidak&lt;br /&gt;disarankan untuk memikirkannya terlalu serius. Apalagi tersinggung.&lt;br /&gt;Namun bercanda atau tidak, serius atau sangat serius, kisah-kisah&lt;br /&gt;manusia kuat dan terhormat hampir semuanya berisi kisah-kisah penuh&lt;br /&gt;cacian sekaligus penderitaan. Sebutlah deretan nama-nama mengagumkan&lt;br /&gt;seperti Nelson Mandela, Mahatma Gandhi sampai dengan Dalai Lama.&lt;br /&gt;Semuanya dibikin kuat sekaligus terhormat oleh penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandela menjadi kuat dan terhormat karena puluhan tahun dipenjara,&lt;br /&gt;disakiti serta diasingkan. Sekarang, ia tidak saja dihormati dan&lt;br /&gt;disegani namun juga menjadi modal demokrasi yang mengagumkan bagi&lt;br /&gt;Afrika Selatan. Gandhi besar dan menjulang karena terketuk amat dalam&lt;br /&gt;hatinya oleh kesedihan akibat diskriminasi dan penjajahan. Dan yang&lt;br /&gt;lebih mengagumkan, tatkala perjuangannya berhasil, ia menolak memetik&lt;br /&gt;buah kekuasaan dari hasil perjuangannya yang panjang, lama sekaligus&lt;br /&gt;mengancam nyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalai Lama apa lagi. Di umur belasan tahun kehilangan kebebasan.&lt;br /&gt;Menginjak umur dua puluhan tahun kehilangan negara. Dan sampai&lt;br /&gt;sekarang sudah hidup di pengungsian selama tidak kurang dari empat&lt;br /&gt;puluh lima tahun. Setiap hari menerima surat sekaligus berita&lt;script&gt;&lt;!-- D(["mb","\u003cbr\&gt;\nmenyedihkan tentang Tibet. Lebih dari itu, negaranya Tibet sampai\u003cbr\&gt;\nsekarang kehilangan banyak sekali hal akibat masuknya pemerintah Cina.\u003cbr\&gt;\nNamun sebagaimana sudah dicatat rapi oleh sejarah, daftar-daftar\u003cbr\&gt;\nkesedihan Dalai Lama ini sudah berbuah teramat banyak. Menerima\u003cbr\&gt;\nhadiah nobel perdamaian di tahun 1989. Setiap kali berkunjung ke\u003cbr\&gt;\nnegara-negara maju disambut lebih meriah dari penyanyi rock yang\u003cbr\&gt;\nterkenal. Karya-karyanya mengubah kehidupan demikian banyak orang.\u003cbr\&gt;\nSampai dengan julukan banyak sekali pengagumnya yang menyimpulkan\u003cbr\&gt;\nkalau Dalai Lama hanyalah seorang living Buddha.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nHal serupa juga terjadi dengan tokoh wanita mengagumkan bernama Evita\u003cbr\&gt;\nPeron. Belum berumur sepuluh tahun keluarganya berantakan karena\u003cbr\&gt;\nayahnya meninggal. Kemudian menyambung kehidupan dengan cara menjadi\u003cbr\&gt;\npembantu rumah tangga. Bosan jadi pembantu kemudian menjadi penyanyi\u003cbr\&gt;\nbar. Dan bahkan sempat diisukan miring dalam dunia serba gemerlap\u003cbr\&gt;\nini. Pernikahannya dengan Juan Peron tidak mengakhiri penderitaan,\u003cbr\&gt;\nmalah menambah panjangnya aliran sungai air mata. Namun kehidupan\u003cbr\&gt;\nEvita Peron demikian bercahaya. Tidak saja di Argentina ia bercahaya,\u003cbr\&gt;\ndi dunia ia juga bercahaya.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nSalah satu guru meditasi mengagumkan di Amerika bernama Pema Chodron.\u003cbr\&gt;\nTidak saja bahasanya sederhana, pengungkapan idenya juga mendalam.\u003cbr\&gt;\nNamun kekaguman seperti ini juga berawal dari kesedihan mendalam.\u003cbr\&gt;\nSebagaimana yang ia tuturkan dalam When Things Fall Apart, perjalanan\u003cbr\&gt;\nkejernihan Pema Chodron mulai dengan sebuah kesedihan yang tidak\u003cbr\&gt;\nterduga:\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nsuaminya mengaku jatuh cinta pada wanita lain dan minta segera cerai.\u003cbr\&gt;\nBagi seorang wanita setia, tentu saja ini seperti petir di siang\u003cbr\&gt;\nbolong. Namun betapa menyakitkan pun beritanya, hidup harus tetap\u003cbr\&gt;\nberjalan.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nDari sinilah ia belajar meditasi dari Chogyam Trungpa. Dan ini juga\u003cbr\&gt;\nyang membukakan pintu kehidupan yang mengagumkan belakangan. Sehingga\u003cbr\&gt;\ndi salah satu bagian buku tadi, Chodron secara jujur mengungkapkan",1] );  //--&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;menyedihkan tentang Tibet. Lebih dari itu, negaranya Tibet sampai&lt;br /&gt;sekarang kehilangan banyak sekali hal akibat masuknya pemerintah Cina.&lt;br /&gt;Namun sebagaimana sudah dicatat rapi oleh sejarah, daftar-daftar&lt;br /&gt;kesedihan Dalai Lama ini sudah berbuah teramat banyak. Menerima&lt;br /&gt;hadiah nobel perdamaian di tahun 1989. Setiap kali berkunjung ke&lt;br /&gt;negara-negara maju disambut lebih meriah dari penyanyi rock yang&lt;br /&gt;terkenal. Karya-karyanya mengubah kehidupan demikian banyak orang.&lt;br /&gt;Sampai dengan julukan banyak sekali pengagumnya yang menyimpulkan&lt;br /&gt;kalau Dalai Lama hanyalah seorang living Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal serupa juga terjadi dengan tokoh wanita mengagumkan bernama Evita&lt;br /&gt;Peron. Belum berumur sepuluh tahun keluarganya berantakan karena&lt;br /&gt;ayahnya meninggal. Kemudian menyambung kehidupan dengan cara menjadi&lt;br /&gt;pembantu rumah tangga. Bosan jadi pembantu kemudian menjadi penyanyi&lt;br /&gt;bar. Dan bahkan sempat diisukan miring dalam dunia serba gemerlap&lt;br /&gt;ini. Pernikahannya dengan Juan Peron tidak mengakhiri penderitaan,&lt;br /&gt;malah menambah panjangnya aliran sungai air mata. Namun kehidupan&lt;br /&gt;Evita Peron demikian bercahaya. Tidak saja di Argentina ia bercahaya,&lt;br /&gt;di dunia ia juga bercahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu guru meditasi mengagumkan di Amerika bernama Pema Chodron.&lt;br /&gt;Tidak saja bahasanya sederhana, pengungkapan idenya juga mendalam.&lt;br /&gt;Namun kekaguman seperti ini juga berawal dari kesedihan mendalam.&lt;br /&gt;Sebagaimana yang ia tuturkan dalam When Things Fall Apart, perjalanan&lt;br /&gt;kejernihan Pema Chodron mulai dengan sebuah kesedihan yang tidak&lt;br /&gt;terduga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suaminya mengaku jatuh cinta pada wanita lain dan minta segera cerai.&lt;br /&gt;Bagi seorang wanita setia, tentu saja ini seperti petir di siang&lt;br /&gt;bolong. Namun betapa menyakitkan pun beritanya, hidup harus tetap&lt;br /&gt;berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sinilah ia belajar meditasi dari Chogyam Trungpa. Dan ini juga&lt;br /&gt;yang membukakan pintu kehidupan yang mengagumkan belakangan. Sehingga&lt;br /&gt;di salah satu bagian buku tadi, Chodron secara jujur mengungkapkan&lt;script&gt;&lt;!-- D(["mb","\u003cbr\&gt;\nkalau mantan suaminya yang di awal seperti mencampakkan hidupnya,\u003cbr\&gt;\nternyata seorang pembuka pintu kehidupan yang mengagumkan.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nCerita Thich Nhat Hanh lain lagi. Tokoh perdamaian asli Vietnam ini\u003cbr\&gt;\nmengalami banyak sekali pengalaman getir ketika perang Vietnam. Kalau\u003cbr\&gt;\nsoal hampir mati, atau hampir diterjang peluru panas sudah biasa.\u003cbr\&gt;\nNamun tatkala membawa misi perdamaian ke Amerika, ternyata pemerintah\u003cbr\&gt;\nVietnam melarangnya kembali ke Vietnam. Dan sejak puluhan tahun yang\u003cbr\&gt;\nlalu Thich Nhat Hanh bermukim di Prancis. Dan penderitaan serta\u003cbr\&gt;\nkesedihan-kesedihan yang mendalam ini juga yang membuat nama Hanh\u003cbr\&gt;\ndemikian dikenal dan menjulang. Pernah dinominasikan sebagai pemenang\u003cbr\&gt;\nhadiah Nobel perdamaian, dihormati di banyak sekali negara, dan karya-\u003cbr\&gt;\nkaryanya lebih dari sekadar mengagumkan.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nDaftar panjang tokoh-tokoh kuat sekaligus terhormat, yang dibuat\u003cbr\&gt;\nbesar oleh penderitaan dan cacian orang masih bisa diperpanjang.\u003cbr\&gt;\nNamun semua ini sedang membukakan pintu kehidupan yang amat berguna:\u003cbr\&gt;\npenderitaan dan cacian orang ternyata sejenis vitamin jiwa yang\u003cbr\&gt;\nmembuatnya jadi menyala. Ini mirip sekali dengan judul sebuah buku\u003cbr\&gt;\nindah yang berbunyi: Pain, the Gift that Nobody Want. Rasa sakit,\u003cbr\&gt;\npenderitaan, cacian orang hampir semua manusia tidak menghendakinya.\u003cbr\&gt;\nTidak saja lari jauh-jauh, bahkan sebagian lebih doa manusia memohon\u003cbr\&gt;\nagar dijauhkan dari penderitaan, cacian sekaligus rasa sakit.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nNamun daftar panjang kisah manusia seperti Dalai Lama, Pema Chodron\u003cbr\&gt;\nsampai dengan Thich Nhat Hanh ternyata bertutur berbeda. Hanya\u003cbr\&gt;\nmanusia-manusia yang penuh kesabaran dan ketabahan untuk tersenyum di\u003cbr\&gt;\ntengah cacian dan penderitaan, kemudian jiwanya menyala menerangi\u003cbr\&gt;\nkehidupan banyak sekali orang.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nTernyata, penderitaan dan cacian orang - di tangan manusia-manusia\u003cbr\&gt;\nsabar dan tabah - bisa menjadi bahan-bahan yang memproduksi kekaguman\u003cbr\&gt;\norang kemudian. Persoalannya kemudian, di tengah-tengah sebagian\u003cbr\&gt;\nlebih wajah kehidupan yang serba instant, punyakah kita cukup banyak",1] );  //--&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;kalau mantan suaminya yang di awal seperti mencampakkan hidupnya,&lt;br /&gt;ternyata seorang pembuka pintu kehidupan yang mengagumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita Thich Nhat Hanh lain lagi. Tokoh perdamaian asli Vietnam ini&lt;br /&gt;mengalami banyak sekali pengalaman getir ketika perang Vietnam. Kalau&lt;br /&gt;soal hampir mati, atau hampir diterjang peluru panas sudah biasa.&lt;br /&gt;Namun tatkala membawa misi perdamaian ke Amerika, ternyata pemerintah&lt;br /&gt;Vietnam melarangnya kembali ke Vietnam. Dan sejak puluhan tahun yang&lt;br /&gt;lalu Thich Nhat Hanh bermukim di Prancis. Dan penderitaan serta&lt;br /&gt;kesedihan-kesedihan yang mendalam ini juga yang membuat nama Hanh&lt;br /&gt;demikian dikenal dan menjulang. Pernah dinominasikan sebagai pemenang&lt;br /&gt;hadiah Nobel perdamaian, dihormati di banyak sekali negara, dan karya-&lt;br /&gt;karyanya lebih dari sekadar mengagumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar panjang tokoh-tokoh kuat sekaligus terhormat, yang dibuat&lt;br /&gt;besar oleh penderitaan dan cacian orang masih bisa diperpanjang.&lt;br /&gt;Namun semua ini sedang membukakan pintu kehidupan yang amat berguna:&lt;br /&gt;penderitaan dan cacian orang ternyata sejenis vitamin jiwa yang&lt;br /&gt;membuatnya jadi menyala. Ini mirip sekali dengan judul sebuah buku&lt;br /&gt;indah yang berbunyi: Pain, the Gift that Nobody Want. Rasa sakit,&lt;br /&gt;penderitaan, cacian orang hampir semua manusia tidak menghendakinya.&lt;br /&gt;Tidak saja lari jauh-jauh, bahkan sebagian lebih doa manusia memohon&lt;br /&gt;agar dijauhkan dari penderitaan, cacian sekaligus rasa sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun daftar panjang kisah manusia seperti Dalai Lama, Pema Chodron&lt;br /&gt;sampai dengan Thich Nhat Hanh ternyata bertutur berbeda. Hanya&lt;br /&gt;manusia-manusia yang penuh kesabaran dan ketabahan untuk tersenyum di&lt;br /&gt;tengah cacian dan penderitaan, kemudian jiwanya menyala menerangi&lt;br /&gt;kehidupan banyak sekali orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, penderitaan dan cacian orang - di tangan manusia-manusia&lt;br /&gt;sabar dan tabah - bisa menjadi bahan-bahan yang memproduksi kekaguman&lt;br /&gt;orang kemudian. Persoalannya kemudian, di tengah-tengah sebagian&lt;br /&gt;lebih wajah kehidupan yang serba instant, punyakah kita cukup banyak&lt;script&gt;&lt;!-- D(["mb","\u003cbr\&gt;\nkesabaran dan ketabahan?\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nSumber: Mengubah Cacian Jadi Kekaguman oleh Gede Prama\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\n\u003c/p\&gt;\n    \u003c/div\&gt;  \n\n    \n    \u003cspan width\u003d\"1\" style\u003d\"color:white\"\&gt;__._,_.___\u003c/span\&gt;\n    \n    \u003cdiv\&gt;\n              \u003cspan\&gt;\n          \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/airputih/message/1033;_ylc\u003dX3oDMTM1am5jaGo2BF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzExMTcwOTc3BGdycHNwSWQDMTcwNTE3MTQ2NARtc2dJZAMxMDMzBHNlYwNmdHIEc2xrA3Z0cGMEc3RpbWUDMTE4MTUzMjIzMQR0cGNJZAMxMDMz\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;\n            Messages in this topic          \u003c/a\&gt; (\u003cspan\&gt;1\u003c/span\&gt;)\n        \u003c/span\&gt;\n        \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/airputih/post;_ylc\u003dX3oDMTJxZ2I5Mms3BF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzExMTcwOTc3BGdycHNwSWQDMTcwNTE3MTQ2NARtc2dJZAMxMDMzBHNlYwNmdHIEc2xrA3JwbHkEc3RpbWUDMTE4MTUzMjIzMQ--?act\u003dreply&amp;messageNum\u003d1033\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;\n          \u003cspan\&gt;\n            Reply          \u003c/span\&gt; (via web post)\n        \u003c/a\&gt;  | \n        \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/airputih/post;_ylc\u003dX3oDMTJmZ3U4aHRmBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzExMTcwOTc3BGdycHNwSWQDMTcwNTE3MTQ2NARzZWMDZnRyBHNsawNudHBjBHN0aW1lAzExODE1MzIyMzE-\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;\n          Start a new topic        \u003c/a\&gt;\n          \u003c/div\&gt; \n    \n    \n    \u003cdiv\&gt;\n                \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/airputih/messages;_ylc\u003dX3oDMTJmYWN0bzkwBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzExMTcwOTc3BGdycHNwSWQDMTcwNTE3MTQ2NARzZWMDZnRyBHNsawNtc2dzBHN0aW1lAzExODE1MzIyMzE-\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;Messages\u003c/a\&gt;  \n        \n        \n        \n        \n        \n        \n        \n    \u003c/div\&gt;  \n    \n\n    \n    \u003cdiv\&gt;\n              \n\n\n        &lt;-~------------------------ \u003ca href\u003d\"http://www.AirPutih.tk\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;www.AirPutih.tk\u003c/a\&gt; ----------------------------~-&gt;\u003cbr\&gt;\nSegelas air putih, untuk kesegaran jiwa. Simak catatan lengkapnya, liat \u003cbr\&gt;\nphoto member, dan download arsip di ",1] );  //--&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;kesabaran dan ketabahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Mengubah Cacian Jadi Kekaguman oleh Gede Prama&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-7612011937219154782?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/7612011937219154782/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=7612011937219154782' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/7612011937219154782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/7612011937219154782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/06/mengubah-cacian-jadi-kekaguman.html' title='Mengubah Cacian Jadi Kekaguman'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-7852046054648693386</id><published>2007-06-26T20:12:00.000-07:00</published><updated>2007-06-26T20:13:34.741-07:00</updated><title type='text'>DYING INSIDE</title><content type='html'>Puluhan tahun yang lalu, di sebuah desa di California ada seorang&lt;br /&gt;tua, pekerjaan beliau adalah tukang asah pisau keliling. Setiap hari&lt;br /&gt;orang tua tersebut berkeliling dari rumah ke rumah untuk menawarkan&lt;br /&gt;jasanya. Beliau berkeliling sambil membunyikan lonceng kecil, untuk&lt;br /&gt;menarik perhatian orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, banyak sekali orang yang memanfaatkan jasa beliau.&lt;br /&gt;Setiap hari selalu ada saja orang yang mengasahkan pisau ataupun&lt;br /&gt;gunting mereka ke orang tua tersebut. Dengan pekerjaan mengasah&lt;br /&gt;pisau, orang tua tersebut bisa menghidupi keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun demi tahun berlalu, jaman semakin modern dan membuat segalanya&lt;br /&gt;menjadi praktis. Demikian juga, pisau-pisau maupun gunting-gunting&lt;br /&gt;yang ada di pasaran semakin berkualitas dan murah. Sehingga perlahan-&lt;br /&gt;lahan tidak ada lagi orang yang mengasahkan pisau atau guntingnya.&lt;br /&gt;Mereka lebih memilih untuk membeli yang baru daripada mengasahkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, tidak ada lagi orang yang membutuhkan jasa orang tua si&lt;br /&gt;pengasah pisau tersebut. Tetapi setiap hari orang tua tersebut tetap&lt;br /&gt;berkeliling seperti biasa, dengan harapan masih ada orang yang mau&lt;br /&gt;memanfaatkan jasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, orang tua tersebut masih bersemangat. Tapi lama-kelamaan,&lt;br /&gt;semangatnya semakin kendur karena dia merasa tidak ada lagi orang&lt;br /&gt;yang membutuhkan dia. Waktu berlalu, akhirnya tidak lama, orang tua&lt;br /&gt;tersebut meninggal. Ada yang mengatakan bahwa orang tua tersebut&lt;br /&gt;meninggal karena kanker. Tapi sebenarnya apa yang menyebabkan orang&lt;br /&gt;tua tersebut meninggal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang akan Anda rasakan bila tidak ada lagi orang yang membutuhkan&lt;br /&gt;Anda?&lt;br /&gt;Anda akan merasa "dying inside!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut teori kebutuhan Abraham Maslow, kebutuhan manusia yang paling&lt;br /&gt;tinggi adalah aktualisasi diri. Anda akan merasa sangat berarti bila&lt;br /&gt;&lt;script&gt;&lt;!-- D(["mb","\nAnda dibutuhkan oleh banyak orang. Oleh karena itu, buatlah sesuatu \u003cbr\&gt;\nyang dapat membuat diri Anda dibutuhkan, kembangkan potensi diri Anda!\u003cbr\&gt;\n\u003c/p\&gt;\n    \u003c/div\&gt;  \n\n    \n    \u003cspan width\u003d\"1\" style\u003d\"color:white\"\&gt;__._,_.___\u003c/span\&gt;\n    \n    \u003cdiv\&gt;\n              \u003cspan\&gt;\n          \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/airputih/message/1031;_ylc\u003dX3oDMTM1bDMyam02BF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzExMTcwOTc3BGdycHNwSWQDMTcwNTE3MTQ2NARtc2dJZAMxMDMxBHNlYwNmdHIEc2xrA3Z0cGMEc3RpbWUDMTE4MDkyNjkzMgR0cGNJZAMxMDMx\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;\n            Messages in this topic          \u003c/a\&gt; (\u003cspan\&gt;1\u003c/span\&gt;)\n        \u003c/span\&gt;\n        \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/airputih/post;_ylc\u003dX3oDMTJxNDZybnZqBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzExMTcwOTc3BGdycHNwSWQDMTcwNTE3MTQ2NARtc2dJZAMxMDMxBHNlYwNmdHIEc2xrA3JwbHkEc3RpbWUDMTE4MDkyNjkzMg--?act\u003dreply&amp;messageNum\u003d1031\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;\n          \u003cspan\&gt;\n            Reply          \u003c/span\&gt; (via web post)\n        \u003c/a\&gt;  | \n        \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/airputih/post;_ylc\u003dX3oDMTJmYzNmZWFvBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzExMTcwOTc3BGdycHNwSWQDMTcwNTE3MTQ2NARzZWMDZnRyBHNsawNudHBjBHN0aW1lAzExODA5MjY5MzI-\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;\n          Start a new topic        \u003c/a\&gt;\n          \u003c/div\&gt; \n    \n    \n    \u003cdiv\&gt;\n                \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/airputih/messages;_ylc\u003dX3oDMTJma2ZwMDk2BF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzExMTcwOTc3BGdycHNwSWQDMTcwNTE3MTQ2NARzZWMDZnRyBHNsawNtc2dzBHN0aW1lAzExODA5MjY5MzI-\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;Messages\u003c/a\&gt;  \n        \n        \n        \n        \n        \n        \n        \n    \u003c/div\&gt;  \n    \n\n    \n    \u003cdiv\&gt;\n              \n\n\n        &lt;-~------------------------ \u003ca href\u003d\"http://www.AirPutih.tk\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;www.AirPutih.tk\u003c/a\&gt; ----------------------------~-&gt;\u003cbr\&gt;\nSegelas air putih, untuk kesegaran jiwa. Simak catatan lengkapnya, liat ",1] );  //--&gt;&lt;/script&gt; Anda dibutuhkan oleh banyak orang. Oleh karena itu, buatlah sesuatu&lt;br /&gt;yang dapat membuat diri Anda dibutuhkan, kembangkan potensi diri Anda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Milis Air Putih&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-7852046054648693386?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/7852046054648693386/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=7852046054648693386' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/7852046054648693386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/7852046054648693386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/06/dying-inside.html' title='DYING INSIDE'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-2099700045990827201</id><published>2007-06-26T19:52:00.000-07:00</published><updated>2007-06-26T20:11:23.065-07:00</updated><title type='text'>SEMUA JUGA DARI BAWAH - KISAH SANG PENGGAGAS UPS</title><content type='html'>James, biasa dipanggil. Dia terpaksa berhenti dari sekolah ketika berusia 11 tahun, guna membantu keluarganya karena ayahnya tidak sehat.&lt;br /&gt;Pekerjaan pertama yang diperolehnya adalah mengantar pembungkus ke sebuah gudang serba ada dengan gaji sebulannya sebesar US$2,50.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dia juga bekerja sebagai pengantar telegraf di sebuah&lt;br /&gt;perusahaan telegraf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berusia 15 tahun, James dan 2 orang rekannya yang bekerja&lt;br /&gt;sebagai pengantar telegraf, memulai usaha sendiri yang kemudian&lt;br /&gt;ternyata menjadi berhasil. Dari pengantar yang berjalan kaki, naik&lt;br /&gt;sepeda, dan sepeda motor, akhirnya mereka berkembang dengan&lt;br /&gt;menggunakan truk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama lengkapnya James E.Casey, seorang penggagas UPS (United Parcel&lt;br /&gt;Service). Sebuah perusahaan kurir yang mempunyai lebih dari 340.000&lt;br /&gt;karyawan di seluruh dunia dengan omset per tahun lebih dariUS$22 milyar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-2099700045990827201?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/2099700045990827201/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=2099700045990827201' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/2099700045990827201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/2099700045990827201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/06/semua-juga-dari-bawah-kisah-sang.html' title='SEMUA JUGA DARI BAWAH - KISAH SANG PENGGAGAS UPS'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-3138364138638276012</id><published>2007-06-26T19:50:00.000-07:00</published><updated>2007-06-26T19:51:50.201-07:00</updated><title type='text'>BELAJAR BERSYUKUR</title><content type='html'>Lalai. Manusia selalu begitu. Kadang begitu luput. Ya, atas udara yang setiap hari kita hirup untuk nafas hidup kita. Tentang sehatnya tubuh kita hingga mudah untuk melakukan serangkaian aktivitas apa saja. Pun, tentang betapa rejeki Allah SWT yang telah mengalir dalam setiap detik kehidupan kita. Sungguh, sebuah kenikmatan yang semestinya tak boleh kita lupakan. Namun, lagi-lagi kita lalai. Jarang untuk bisa bersyukur atas apa yang ada. Atas apa yang kita punya dan nikmati. Maka, hari ini kita bisa belajar kepada seorang teman…&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kang Dayat namanya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Sore. Sehari yang lalu, dalam perbincangan yang akrab, keping-keping hikmah mengalir dalam setiap cerita yang disampaikannya. Larut, saya menyimak dengan tenang. Tentu, dengan harap, rahasia tentang kehidupan yang mungkin masih tersembunyi bisa saya petik, agar saya bisa lebih memaknai warna-warni kehidupan yang hanya sementara ini.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Bermula dari hidupnya yang sederhana. Lantas, menikmati pekerjaannya sebagai cleaning service pada sebuah institusi pendidikan tinggi. Gajinya, tidak banyak. Maklum, masih menjadi honorer. Diapun tak tahu, entah kapan menjadi PNS. Yang dia tahu, bekerja dengan sebaik-baiknya atas amanah yang dibebankannya. Keluhan, sesekali memang muncul. Namun, dia lebih banyak untuk tidak terlalu membesar-besarkannya. Tiada guna, lebih baik nikmati saja. Bekerja dengan aroma kebahagiaan dalam kesehariannya. Begitulah, hari-hari berjalan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Walaupun begitu. Dalam hidupnya yang pas-pasan, kini telah mempunyai seorang anak. Sedang masuk TK. Rupanya, memang skenario Allah itu selalu baik. Tinggal kitanya saja, bagaimana mensikapinya. Mungkin, tak ada yang percaya kalau dulu, waktu menikah, hanya bermodalkan RP 75 ribu, itu gajinya sebulan. Waktu itu di tahun 2001.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Begitulah, dengan modal itu, berniat melamar seorang gadis yang dicintainya. Indahnya, sang gadis mau-mau saja. Saya tak tahu. Mungkin perempuan yang kini menjadi istrinya itu juga percaya pada garis nasib dan rejeki yang akan diperoleh asalkan mau usaha. Entahlah, yang pasti ceritanya begitu. Sekarang saja, kalau mau tahu, gaji Kang dayat tak lebih dari Rp 300 ribu. Heran saya. Kok cukup ya. Tapi realitasnya memang begitu.&lt;script&gt;&lt;!-- D(["mb","\u003cbr\&gt;\n   \u003cbr\&gt;\nSetelah saya tanyakan kepadanya, tentang bagaimana memanajemen uang yang sedikit itu, baru saya tahu, resepnya memang bersyukur. Ya, dia selalu mensyukuri saja setiap harta yang diperolehnya. Kadang, hutang memang tak terelakkan. Itu romantika. Hanya saja, selama ini bisa tetap mempertahankan hidup bersama istri dan anaknya. Istrinya pun sama. Tak pernah menuntut lebih. \u003cbr\&gt;\n   \u003cbr\&gt;\nDia memahami betul, gaji segitu memang mepet untuk hidup sebulan. Tapi dia lebih memilih menghargai suaminya yang telah bekerja. Ada sedikit penghasilan, daripada menganggur. Apalagi, suaminya juga pasti memberikan semua gaji dan rejeki yang diterima. Kalau ada keperluan, Kang Dayat  ijin kepada istrinya untuk meminta uang demi keperluannya itu.\u003cbr\&gt;\n   \u003cbr\&gt;\nKalau dipikir-pikir, mereka  kok bisa hidup dan bertahan sampai kini. Ah, memang rasa syukur itu sebuah “keajaiban”. Seperti adanya dalam ajaran Islam. Kalau kita mau bersyukur atas apa yang ada, maka Allah SWT akan menambahkan rejeki kita. Begitulah, sebuah ajaran yang bisa menjadi prinsip hidup kita.\u003cbr\&gt;\n   \u003cbr\&gt;\nKini, kita bisa bercermin. Saya percaya, banyak diantara kita yang punya penghasilan, punya harta yang lebih dari Kang Dayat, tapi masih saja selalu menggerutu, merasa kekurangan. Nah, inilah saatnya kita belajar tentang rasa syukur kepada beliau, sosok lelaki sederhana yang juga menjadi ketua RT untuk 40-an warga itu. \u003cbr\&gt;\n   \u003cbr\&gt;\nIni bukan berarti kita tak mau berusaha lebih. Justru, kita mesti berpacu, bersemangat untuk menyongsong  datangnya rejeki. Setelahnya, baru kita mensyukuri atas apa yang kita peroleh itu. Bukannya mengutuk diri sendiri  lantas terus menerus merasa kekurangan. Bersyukur, inilah resepnya. Kalau sifat semacam ini bisa ada dalam diri kita. Insyallah, hidup senantiasa damai dan indah. Percayalah !.(yr)\u003cbr\&gt;\n   \u003cbr\&gt;\n        \u003cbr\&gt;\nRumah Kelana, Akhir Juni 2007.\u003cbr\&gt;\n  \u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\n\u003d\u003d\u003d\u003d\u003d\u003d\u003d\u003d\u003d\u003d\u003d\u003d\u003d\u003d\u003d\u003d\u003d\u003d\u003d\u003d\u003d\u003d\u003d\u003d\u003d\u003d\u003d\u003cbr\&gt;\n~Berikan Sesuatu Pada Kehidupan\u003cbr\&gt;\nMaka Kehidupan Akan Mencukupimu~\u003cbr\&gt;\n\u003ca href\u003d\"http://penakayu.blogspot.com\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;",1] );  //--&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Setelah saya tanyakan kepadanya, tentang bagaimana memanajemen uang yang sedikit itu, baru saya tahu, resepnya memang bersyukur. Ya, dia selalu mensyukuri saja setiap harta yang diperolehnya. Kadang, hutang memang tak terelakkan. Itu romantika. Hanya saja, selama ini bisa tetap mempertahankan hidup bersama istri dan anaknya. Istrinya pun sama. Tak pernah menuntut lebih.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Dia memahami betul, gaji segitu memang mepet untuk hidup sebulan. Tapi dia lebih memilih menghargai suaminya yang telah bekerja. Ada sedikit penghasilan, daripada menganggur. Apalagi, suaminya juga pasti memberikan semua gaji dan rejeki yang diterima. Kalau ada keperluan, Kang Dayat ijin kepada istrinya untuk meminta uang demi keperluannya itu.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kalau dipikir-pikir, mereka kok bisa hidup dan bertahan sampai kini. Ah, memang rasa syukur itu sebuah “keajaiban”. Seperti adanya dalam ajaran Islam. Kalau kita mau bersyukur atas apa yang ada, maka Allah SWT akan menambahkan rejeki kita. Begitulah, sebuah ajaran yang bisa menjadi prinsip hidup kita.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kini, kita bisa bercermin. Saya percaya, banyak diantara kita yang punya penghasilan, punya harta yang lebih dari Kang Dayat, tapi masih saja selalu menggerutu, merasa kekurangan. Nah, inilah saatnya kita belajar tentang rasa syukur kepada beliau, sosok lelaki sederhana yang juga menjadi ketua RT untuk 40-an warga itu.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Ini bukan berarti kita tak mau berusaha lebih. Justru, kita mesti berpacu, bersemangat untuk menyongsong datangnya rejeki. Setelahnya, baru kita mensyukuri atas apa yang kita peroleh itu. Bukannya mengutuk diri sendiri lantas terus menerus merasa kekurangan. Bersyukur, inilah resepnya. Kalau sifat semacam ini bisa ada dalam diri kita. Insyallah, hidup senantiasa damai dan indah. Percayalah !.(yr)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Rumah Kelana, Akhir Juni 2007.&lt;br /&gt;Oleh Yon’s Revolta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Milis Airputih&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-3138364138638276012?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/3138364138638276012/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=3138364138638276012' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/3138364138638276012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/3138364138638276012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/06/belajar-bersyukur.html' title='BELAJAR BERSYUKUR'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-393446210567710745</id><published>2007-06-26T19:42:00.000-07:00</published><updated>2007-06-26T19:48:11.654-07:00</updated><title type='text'>GEMURUH HATI</title><content type='html'>Malam itu, belum genap pukul delapan malam. Usai sholat berjamaah bersama seluruh anggota keluarganya, seorang lelaki paruh baya memanggil keempat anaknya. Ia menatap nanar satu persatu wajah anaknya, dari yang paling besar hingga si kecil. Lelaki itu tak sanggup bertemu mata dengan tatapan anak-anaknya yang menunggu gerangan apa yang hendak disampaikan Bapaknya. Sementara di sudut ruangan sempit berdinding batako tak berplester itu, ibu keempat anak itu tertunduk menahan gelembung di sudut mata yang mendesak-desak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak, mulai besok kalian tidak usah sekolah lagi ya? Bapak sudah tidak punya uang untuk biaya sekolah kalian…” suara parau itu pun akhirnya keluar juga. Sebenarnya, lelaki itu tak pernah sanggup untuk mengungkapkannya. Selama hampir empat bulan kalimat itu selalu dijaganya, namun hati dan pikirannya sudah tak mampu lagi menampung semua beban itu. Dan nyatanya, memang ia tak lagi sanggup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik dinding rumah lainnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ibu yang telah lama ditinggal suaminya terpaksa menyuruh tidur tiga anaknya lebih dini. Usai sholat isya, semua anak-anaknya yang masih kecil dipaksa tidur agar bisa melupakan lapar yang dirasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak suaminya meninggal dunia setahun lalu, ia memeras keringat sendirian membesarkan tiga anaknya dengan bekerja sebagai tukang cuci di beberapa rumah tetangganya. Jangankan untuk bisa bersekolah, penghasilannya sangatlah tidak mencukupi bahkan untuk makan sehari-hari. Sehingga dengan sangat terpaksa ia mengatur jadwal makan ia dan ketiga anaknya hanya sehari sekali. Setiap pagi anak-anaknya hanya diberi air putih. Memasuki siang hari barulah mereka melahap nasi dengan lauk seadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap menjelang maghrib, ibu tiga anak itu harus menjerit dalam hati mendengar perih kesakitan anak-anaknya yang menahan lapar. Ia hanya mampu berkata, “sabar nak…” untuk menenangkan anak-anaknya. Dan memang tidak pernah ada yang bisa disantap lagi hingga besok pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah kamar tidur di rumah yang lain lagi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang suami mendekati isterinya perlahan dan penuh hati-hati. Ia bertanya, “apakah anak-anak sudah tidur?” “sudah” jawab sang isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, “bagaimana mungkin mereka bisa tidur dengan perut lapar setelah seharian tidak makan?” tanya sang suami lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu janjikan akan ada makan enak besok pagi saat mereka bangun, maka mereka pun segera tidur” jelas isterinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap malam, dialog itu terus berlangsung. Dan setiap pagi, tidak pernah ada makanan enak seperti yang dijanjikan sang ibu kepada anak-anaknya. Sungguh, boleh jadi di pagi-pagi yang akan datang, akan ada satu-dua anak dari keluarga itu yang tak pernah lagi terbangun lantaran kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di sebuah rumah kontrakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang isteri berkata kepada suaminya, “pak, besok saya malu keluar rumah. Takut ketemu Pak Sofyan pemilik kontrakan ini. Kita sudah lima bulan tidak membayar kontrakan. Dan sebenarnya Pak Sofyan sudah mengusir kita”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang suami hanya mampu menghela nafas panjang. Sungguh, jika bisa ia tak ingin kalimat itu keluar dari mulut isterinya. Jika pun mampu, ia tak mau membuat isteri tercintanya malu bergaul bersama para tetangga lantaran terlalu banyak sudah hutang-hutang mereka yang belum sanggup terbayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi, di sebuah ruang keluarga rumah yang lainnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang bapak membawa sejumlah uang cukup banyak dan bungkusan makanan yang nikmat untuk isteri dan anak-anaknya. Inginnya ia berteriak sekeras-kerasnya saat isteri dan anak-anaknya tertawa bahagia menyambut bingkisan yang dibawanya. Tetapi ia pun tak ingin membuyarkan kegembiraan di ruang keluarga itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking bahagianya, sang isteri terlupa bertanya dari mana suaminya mendapatkan uang segitu banyak dan bisa membeli makanan enak. Sehingga setelah larut dan setelah semua anak-anaknya terlelap, teringatlah sang isteri bertanya. Apa jawab sang suami? “Siang tadi bapak terpaksa mencopet…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh teramat banyak hal yang membuat hati ini lebih bergemuruh jika kita mau mendekat, melihat dan mendengarnya dari balik dinding-dinding rumah saudara-saudara kita. Lihat di sekitar kita, banyak suara-suara yang tak sanggup telinga ini mendengarnya, banyak tangis yang mengiris-iris hati, dan banyak pemandangan yang membuat terenyuh. Sayangnya, kita sering terlupa melihat dan mendekat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaw, yang tengah bergemuruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Blognya Mas Gaw &lt;a href="http://gawtama.blogspot.com/"&gt;http://gawtama.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-393446210567710745?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/393446210567710745/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=393446210567710745' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/393446210567710745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/393446210567710745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/06/gemuruh-hati.html' title='GEMURUH HATI'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-578033792600419345</id><published>2007-05-15T14:47:00.000-07:00</published><updated>2007-05-15T14:49:26.322-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hikmah'/><title type='text'>Terimakasih Ayah, telah menunjukkan kepada saya betapa miskinnya kita</title><content type='html'>Suatu ketika seseorang yang sangat kaya mengajak anaknya mengunjungi sebuah&lt;br /&gt;kampung dengan tujuan utama memperlihatkan kepada anaknya betapa&lt;br /&gt;orang-orang bisa sangat miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menginap beberapa hari di sebuah daerah pertanian yang sangat&lt;br /&gt;miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perjalanan pulang, sang Ayah bertanya kepada anaknya. "Bagaimana&lt;br /&gt;perjalanan kali ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, sangat luar biasa Ayah"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau lihatkan betapa manusia bisa sangat miskin" kata ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh iya" kata anaknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, pelajaran apa yang dapat kamu ambil?" tanya ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian si anak menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya saksikan bahwa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hanya punya satu anjing, mereka punya empat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita punya kolam renang yang luasnya sampai ke&lt;br /&gt;tengah taman kita dan mereka memiliki telaga yang&lt;br /&gt;tidak ada batasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mengimpor lentera-lentera di taman kita dan&lt;br /&gt;mereka memiliki bintang-bintang pada malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memiliki patio sampai ke halaman depan,&lt;br /&gt;dan mereka memiliki cakrawala secara utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memiliki sebidang tanah untuk tempat tinggal&lt;br /&gt;dan mereka memiliki ladang yang melampaui&lt;br /&gt;pandangan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita punya pelayan-pelayan untuk melayani kita,&lt;br /&gt;tapi mereka melayani sesamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita membeli untuk makanan kita,&lt;br /&gt;mereka menumbuhkannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mempunyai tembok untuk melindungi kekayaan&lt;br /&gt;kita dan mereka memiliki sahabat-sahabat&lt;br /&gt;untuk saling melindungi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar hal ini sang Ayah tak dapat berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sang anak menambahkan "Terimakasih Ayah, telah menunjukkan&lt;br /&gt;kepada saya betapa miskinnya kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa seringnya kita melupakan apa yang kita miliki dan terus&lt;br /&gt;memikirkan apa yang tidak kita punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dianggap tidak berharga oleh seseorang ternyata merupakan&lt;br /&gt;dambaan bagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini berdasarkan kepada cara pandang seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat kita bertanya apakah yang akan terjadi jika kita semua&lt;br /&gt;bersyukur kepada Tuhan sebagai rasa terima kasih kita atas semua yang&lt;br /&gt;telah disediakan untuk kita daripada kita terus menerus khawatir untuk&lt;br /&gt;meminta lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;sumber: milis st3&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-578033792600419345?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/578033792600419345/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=578033792600419345' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/578033792600419345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/578033792600419345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/05/terimakasih-ayah-telah-menunjukkan.html' title='Terimakasih Ayah, telah menunjukkan kepada saya betapa miskinnya kita'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-3295426924706414124</id><published>2007-05-12T15:53:00.000-07:00</published><updated>2007-05-14T14:02:08.574-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tokoh'/><title type='text'>AHMADINEJAD</title><content type='html'>&lt;span id="st" name="st" class="st"&gt;AHMADINEJAD&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini, seperti biasa, setelah sholat Subuh saya menarik sebuah&lt;br /&gt;buku&lt;br /&gt;dari rak dan mulai melakukan ritual keluarga, membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa buku baru yang saya beli beberapa waktu yang lalu dan&lt;br /&gt;beberapa bahkan masih dalam plastik. Melihat judulnya saja saya sudah&lt;br /&gt;tertarik. Salah satunya adalah "&lt;span id="st" name="st" class="st"&gt;Ahmadinejad&lt;/span&gt;, David di Tengah Angkara&lt;br /&gt;Goliath Dunia" terbitan Himah Teladan, kelompok Mizan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah agak lama saya tertarik dengan tokoh satu ini. Sepak terjangnya&lt;br /&gt;melawan tekanan Barat dalam masalah nuklir benar-benar membuat saya&lt;br /&gt;penasaran dengan tokoh ini. Salah satu anggota milis CBE juga pernah&lt;br /&gt;menayangkan foto-foto tentang kesederhanaan beliau meski ada yang&lt;br /&gt;meragukan keasliannya. Telah lama rasanya dunia tidak memiliki tokoh&lt;br /&gt;'David' macam &lt;span id="st" name="st" class="st"&gt;Ahmadinejad&lt;/span&gt; ini. Dunia kita ini sekarang dipenuhi oleh&lt;br /&gt;para pengecut dan tidak memiliki pendirian. Sosok &lt;span id="st" name="st" class="st"&gt;Ahmadinejad&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;benar-benar seperti seteguk air di tengah sahara. Ketika baru saja&lt;br /&gt;membaca Pengantar yang dituliskan oleh Rosiana Silalahi dari SCTV dan&lt;br /&gt;Bab I tentang awal-awal kiprah &lt;span id="st" name="st" class="st"&gt;Ahmadinejad&lt;/span&gt; dalam dunia politik di&lt;br /&gt;Iran&lt;br /&gt;tanpa terasa  mata saya terasa hangat dan tanpa bisa saya kendalikan&lt;br /&gt;air mata saya mengalir. Saya sungguh tidak dapat menahan keharuan&lt;br /&gt;saya&lt;br /&gt;membaca dan mengetahui betapa sederhananya tokoh dunia satu ini.&lt;br /&gt;Saya&lt;br /&gt;terpaksa harus menghentikan membaca buku ini agar tidak larut dalam&lt;br /&gt;emosi saya. I'm such a sentimental person. Tapi terus terang saya&lt;br /&gt;memang hidup dalam kerinduan akan tokoh sederhana macam&lt;br /&gt;Nabi Muhammad, Umar bin Chattab, Umar bin Abdul Aziz, Mahatma Gandhi,&lt;br /&gt;Muhammad Hatta, Hidayat Nurwahid (saya pernah bertemu dengannya dan&lt;script&gt;&lt;!-- D(["mb","\u003cbr\&gt;\nnampaknya ia sama sentimentalnya dengan saya).\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nDan kini ada Ahmadinejad, seorang tokoh in reality! Seberapa\u003cbr\&gt;\nsederhanakah beliau ini? Let me tell you. Berikut ini saya kutipkan\u003cbr\&gt;\nsebagian dari yang saya baca dari buku tersebut. Konon ketika beliau\u003cbr\&gt;\nsudah menjabat sebagai walikota Teheran yang memiliki populasi lebih\u003cbr\&gt;\nbesar daripada Jakarta ia masih tampil dengan sepatu yang\u003cbr\&gt;\nbolong-bolong. Ia menyapu jalanan Teheran dan bangga dengan itu.\u003cbr\&gt;\nSampai\u003cbr\&gt;\nsekarang pun ia masih tampil dengan kemeja lengan panjang sederhana\u003cbr\&gt;\nsehingga jika kita tidak mengenalnya dan bertemu dengannya kita tidak\u003cbr\&gt;\nakan pernah mengira bahwa beliau adalah seorang presiden. Ya presiden\u003cbr\&gt;\ndari sebuah negara besar. Di Balikpapan di mana saya tinggal bahkan\u003cbr\&gt;\nhampir semua guru rasanya punya jas.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nSebelum menjabat sebagai presiden Iran beliau adalah walikota \u003cbr\&gt;\nTeheran,\u003cbr\&gt;\nperiode 2003-2005. Teheran, ibukota Iran, kota dengan sejuta \u003cbr\&gt;\nparadoks,\u003cbr\&gt;\nmemiliki populasi hampir dua kali lipat dari Jakarta, yaitu sebesar \u003cbr\&gt;\n16\u003cbr\&gt;\njuta penduduk. Untuk bisa menjadi walikota dari ibukota negara tentu\u003cbr\&gt;\nsudah merupakan prestasi tersendiri mengingat betapa Iran adalah\u003cbr\&gt;\nnegara yang dikuasai oleh para mullah. Ia bukanlah ulama bersorban,\u003cbr\&gt;\ntokoh revolusi, dan karir birokrasinya kurang dari 10 tahun. Beliau\u003cbr\&gt;\ntinggal di gang buntu, maniak bola, tak punya sofa di rumahnya, dan\u003cbr\&gt;\nkemana-mana dengan mobil Peugeot tahun 1977. Penampilannya sendiri\u003cbr\&gt;\njauh dari menarik untuk dijadikan gosip, apalagi jadi selebriti.\u003cbr\&gt;\nRambutnya kusam seperti tidak pernah merasakan sampo dan sepatunya\u003cbr\&gt;\nitu-itu terus, bolong disana-sini, mirip alas kaki tukang sapu \u003cbr\&gt;\njalanan\u003cbr\&gt;\ndi belanatara Jakarta. Nah! Kira-kira dengan modal dan penampilan\u003cbr\&gt;\nbegini apakah ia memiliki kemungkinan untuk menjabat sebagai walikota\u003cbr\&gt;\nDepok saja, umpamanya?\u003cbr\&gt;\nDalam tempo setahun pertanyaan tentang kemampuannya memimpin \u003cbr\&gt;\nterjawab.\u003cbr\&gt;\nWarga Teheran menemukan bahwa walikotanya sebagai pejabat yang bangga\u003cbr\&gt;\nbisa menyapu sendiri jalan-jalan kota, gatal tangannya jika ada",1] );  //--&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;nampaknya ia sama sentimentalnya dengan saya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini ada &lt;span id="st" name="st" class="st"&gt;Ahmadinejad&lt;/span&gt;, seorang tokoh in reality! Seberapa&lt;br /&gt;sederhanakah beliau ini? Let me tell you. Berikut ini saya kutipkan&lt;br /&gt;sebagian dari yang saya baca dari buku tersebut. Konon ketika beliau&lt;br /&gt;sudah menjabat sebagai walikota Teheran yang memiliki populasi lebih&lt;br /&gt;besar daripada Jakarta ia masih tampil dengan sepatu yang&lt;br /&gt;bolong-bolong. Ia menyapu jalanan Teheran dan bangga dengan itu.&lt;br /&gt;Sampai&lt;br /&gt;sekarang pun ia masih tampil dengan kemeja lengan panjang sederhana&lt;br /&gt;sehingga jika kita tidak mengenalnya dan bertemu dengannya kita tidak&lt;br /&gt;akan pernah mengira bahwa beliau adalah seorang presiden. Ya presiden&lt;br /&gt;dari sebuah negara besar. Di Balikpapan di mana saya tinggal bahkan&lt;br /&gt;hampir semua guru rasanya punya jas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menjabat sebagai presiden Iran beliau adalah walikota&lt;br /&gt;Teheran,&lt;br /&gt;periode 2003-2005. Teheran, ibukota Iran, kota dengan sejuta&lt;br /&gt;paradoks,&lt;br /&gt;memiliki populasi hampir dua kali lipat dari Jakarta, yaitu sebesar&lt;br /&gt;16&lt;br /&gt;juta penduduk. Untuk bisa menjadi walikota dari ibukota negara tentu&lt;br /&gt;sudah merupakan prestasi tersendiri mengingat betapa Iran adalah&lt;br /&gt;negara yang dikuasai oleh para mullah. Ia bukanlah ulama bersorban,&lt;br /&gt;tokoh revolusi, dan karir birokrasinya kurang dari 10 tahun. Beliau&lt;br /&gt;tinggal di gang buntu, maniak bola, tak punya sofa di rumahnya, dan&lt;br /&gt;kemana-mana dengan mobil Peugeot tahun 1977. Penampilannya sendiri&lt;br /&gt;jauh dari menarik untuk dijadikan gosip, apalagi jadi selebriti.&lt;br /&gt;Rambutnya kusam seperti tidak pernah merasakan sampo dan sepatunya&lt;br /&gt;itu-itu terus, bolong disana-sini, mirip alas kaki tukang sapu&lt;br /&gt;jalanan&lt;br /&gt;di belanatara Jakarta. Nah! Kira-kira dengan modal dan penampilan&lt;br /&gt;begini apakah ia memiliki kemungkinan untuk menjabat sebagai walikota&lt;br /&gt;Depok saja, umpamanya?&lt;br /&gt;Dalam tempo setahun pertanyaan tentang kemampuannya memimpin&lt;br /&gt;terjawab.&lt;br /&gt;Warga Teheran menemukan bahwa walikotanya sebagai pejabat yang bangga&lt;br /&gt;bisa menyapu sendiri jalan-jalan kota, gatal tangannya jika ada&lt;script&gt;&lt;!-- D(["mb","\u003cbr\&gt;\nselokan\u003cbr\&gt;\nyang mampet dan turun tangan untuk membersihkannya sendiri, menyetir\u003cbr\&gt;\nsendiri mobilnya ke kantor dan bekerja hingga dini hari sekedar untuk\u003cbr\&gt;\nmemastikan bahwa Teheran dapat mejadi lebih nyaman untuk ditinggali.\u003cbr\&gt;\n&amp;quot;Saya bangga bisa menyapu jalanan di Teheran.&amp;quot; Katanya tanpa berusaha\u003cbr\&gt;\nuntuk tampil sok sederhana. Di belahan dunia lain sosoknya mungkin\u003cbr\&gt;\ndapat dijadikan reality show atau bahkan aliran kepercayaan baru.\u003cbr\&gt;\nSejak hari pertama menjabat ia langsung mengadakan kebijakan yang\u003cbr\&gt;\nbersifat religius seperti memisahkan lift bagi laki-laki dan \u003cbr\&gt;\nperempuan\u003cbr\&gt;\n(ini tentu menarik hati para wanita di Teheran), menggandakan \u003cbr\&gt;\npinjaman\u003cbr\&gt;\nlunak bagi pasangan muda yang hendak menikah dari 6 juta rial menjadi\u003cbr\&gt;\n12 juta rial, pembagian sup gratis bagi orang miskin setiap pekan,\u003cbr\&gt;\ndan...\u003cbr\&gt;\nmenjadikan rumah dinas walikota sebagai museum publik!  Ia sendiri\u003cbr\&gt;\nmemilih tinggal di rumah pribadinya di kawasan Narmak yang miskin \u003cbr\&gt;\nyang\u003cbr\&gt;\nhanya berukuran luas 170 m persegi. Ia bahkan melarang pemberian\u003cbr\&gt;\nsajian pisang bagi tamu walikota mengingat pisang merupakan buah yang\u003cbr\&gt;\nsangat mahal dan bisa berharga 6000 rupiah per bijinya. Ia juga\u003cbr\&gt;\nmenunjukkan dirinya sebagai pekerja keras yang sengaja memperpanjang\u003cbr\&gt;\njam kerjanya agar dapat menerima warga kota yang ingin mengadu.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nNamun salah satu keberhasilannya yang dirasakan oleh warga kota\u003cbr\&gt;\nTeheran adalah spesialisasinya sebagai seorang doktor di bidang\u003cbr\&gt;\nmanajemen transportasi dan lalu lintas perkotaan. Sekedar untuk\u003cbr\&gt;\ndiketahui, kemacetan kota Teheran begitu parahnya sehingga saya \u003cbr\&gt;\npernah\u003cbr\&gt;\ndikirimi salah satu foto lelucon dari berbagai belahan dunia dengan\u003cbr\&gt;\njudul &amp;quot;Only in ...&amp;quot; . salah satunya dari Teheran dengan judul &amp;quot;Only \u003cbr\&gt;\nin\u003cbr\&gt;\nTeheran&amp;quot; dengan foto kemacetan lalu lintasnya yang  bisa bikin\u003cbr\&gt;\npenduduk Jakarta menertawakan kemacetan lalu lintas di kotanya. \u003cbr\&gt;\nSecara\u003cbr\&gt;\ndramatis ia berhasil menekan tingkat kemacetan di Teheran dengan\u003cbr\&gt;\nmencopot lampu-lampu diperempatan jalan besar dan mengubahnya menjadi",1] );  //--&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;selokan&lt;br /&gt;yang mampet dan turun tangan untuk membersihkannya sendiri, menyetir&lt;br /&gt;sendiri mobilnya ke kantor dan bekerja hingga dini hari sekedar untuk&lt;br /&gt;memastikan bahwa Teheran dapat mejadi lebih nyaman untuk ditinggali.&lt;br /&gt;"Saya bangga bisa menyapu jalanan di Teheran." Katanya tanpa berusaha&lt;br /&gt;untuk tampil sok sederhana. Di belahan dunia lain sosoknya mungkin&lt;br /&gt;dapat dijadikan reality show atau bahkan aliran kepercayaan baru.&lt;br /&gt;Sejak hari pertama menjabat ia langsung mengadakan kebijakan yang&lt;br /&gt;bersifat religius seperti memisahkan lift bagi laki-laki dan&lt;br /&gt;perempuan&lt;br /&gt;(ini tentu menarik hati para wanita di Teheran), menggandakan&lt;br /&gt;pinjaman&lt;br /&gt;lunak bagi pasangan muda yang hendak menikah dari 6 juta rial menjadi&lt;br /&gt;12 juta rial, pembagian sup gratis bagi orang miskin setiap pekan,&lt;br /&gt;dan...&lt;br /&gt;menjadikan rumah dinas walikota sebagai museum publik!  Ia sendiri&lt;br /&gt;memilih tinggal di rumah pribadinya di kawasan Narmak yang miskin&lt;br /&gt;yang&lt;br /&gt;hanya berukuran luas 170 m persegi. Ia bahkan melarang pemberian&lt;br /&gt;sajian pisang bagi tamu walikota mengingat pisang merupakan buah yang&lt;br /&gt;sangat mahal dan bisa berharga 6000 rupiah per bijinya. Ia juga&lt;br /&gt;menunjukkan dirinya sebagai pekerja keras yang sengaja memperpanjang&lt;br /&gt;jam kerjanya agar dapat menerima warga kota yang ingin mengadu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun salah satu keberhasilannya yang dirasakan oleh warga kota&lt;br /&gt;Teheran adalah spesialisasinya sebagai seorang doktor di bidang&lt;br /&gt;manajemen transportasi dan lalu lintas perkotaan. Sekedar untuk&lt;br /&gt;diketahui, kemacetan kota Teheran begitu parahnya sehingga saya&lt;br /&gt;pernah&lt;br /&gt;dikirimi salah satu foto lelucon dari berbagai belahan dunia dengan&lt;br /&gt;judul "Only in ..." . salah satunya dari Teheran dengan judul "Only&lt;br /&gt;in&lt;br /&gt;Teheran" dengan foto kemacetan lalu lintasnya yang  bisa bikin&lt;br /&gt;penduduk Jakarta menertawakan kemacetan lalu lintas di kotanya.&lt;br /&gt;Secara&lt;br /&gt;dramatis ia berhasil menekan tingkat kemacetan di Teheran dengan&lt;br /&gt;mencopot lampu-lampu diperempatan jalan besar dan mengubahnya menjadi&lt;script&gt;&lt;!-- D(["mb","\u003cbr\&gt;\njalur putar balik yang sangat efektif.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nSetalah menjabat dua tahun sebagai walikota Teheran ia masuk dalam\u003cbr\&gt;\nfinalis pemilihan walikota terbaik dunia World Mayor 2005 dari 550\u003cbr\&gt;\nwalikota yang masuk nominasi. Hanya sembilan yang dari Asia , \u003cbr\&gt;\ntermasuk\u003cbr\&gt;\nAhamdinejad.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nTapi itu baru awal cerita. Pada tangagl 24 Juni 2005 ia menjadi bahan\u003cbr\&gt;\npembicaraan seluruh dunia karena berhasil menjadi presiden Iran\u003cbr\&gt;\nsetelah mengkanvaskan ulama-cum-mlliter Ali Hashemi Rafsanjani dalam\u003cbr\&gt;\npemilihan umum. Bagaimana mungkin padahal pada awal kampanye namanya\u003cbr\&gt;\nbahkan tidak masuk hitungan karena yang maju adalah para tokoh yang\u003cbr\&gt;\nmemiliki hampir segalanya dibandingkan dengannya?  Dalam jajak\u003cbr\&gt;\npendapat awal kampanye dari delapan calon presiden yang bersaing,\u003cbr\&gt;\nAkbar hasyemi Rafsanjani,\u003cbr\&gt;\nAli Larijani, Ahmadinejad, Mehdi Karrubi, Mohammed Bhager Galibaf,\u003cbr\&gt;\nMohsen Meharalizadeh, Mohsen Rezai, dan Mostafa Min, popularitas\u003cbr\&gt;\nAhmadinejad paling buncit.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nPada masa kampanye ketika para kontestan mengorek sakunya dalam-dalam\u003cbr\&gt;\nuntuk menarik perhatian massa , Ahmadinejad bahkan tidak sanggup \u003cbr\&gt;\nuntuk\u003cbr\&gt;\nmencetak foto-foto dan atributnya sebagai calon presiden. Sebagai\u003cbr\&gt;\nwalikota ia menyumbangkan semua gajinya dan hidup dengan gajinya\u003cbr\&gt;\nsebagai dosen. Ia tidak mampu untuk mengeluarkan uang sepeser pun\u003cbr\&gt;\nuntuk\u003cbr\&gt;\nkampanye! Sebaliknya ia justru menghantam para calon presiden yang\u003cbr\&gt;\nmenggunakan dana ratusan milyar untuk berkampanye atau yang bagi-bagi\u003cbr\&gt;\nuang untuk menarik simpati rakyat.\u003cbr\&gt;\nPada pemilu putaran pertama keanehan terjadi, Nama Ahmadinejad\u003cbr\&gt;\nmenyodok ke tempat ketiga. Di atasnya dua dedengkot politik yang jauh\u003cbr\&gt;\nlebih senior di atasnya, Akbar Hashemi Rafsanjani dan Mahdi Karrubi.\u003cbr\&gt;\nRafsanjani tetap menjadi favorit untuk memenangi pemilu ini mengingat\u003cbr\&gt;\nreputasi dan tangguhnya mesin politiknya. Tapi rakyat Iran punya\u003cbr\&gt;\nrencana dan harapan lain, Ahmadinejad memenangi pemilu dengan 61 %\u003cbr\&gt;\nsedangkan Rafsanjani hanya 35%. Logika real politik dibikin jungkir",1] );  //--&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;jalur putar balik yang sangat efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setalah menjabat dua tahun sebagai walikota Teheran ia masuk dalam&lt;br /&gt;finalis pemilihan walikota terbaik dunia World Mayor 2005 dari 550&lt;br /&gt;walikota yang masuk nominasi. Hanya sembilan yang dari Asia ,&lt;br /&gt;termasuk&lt;br /&gt;Ahamdinejad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu baru awal cerita. Pada tangagl 24 Juni 2005 ia menjadi bahan&lt;br /&gt;pembicaraan seluruh dunia karena berhasil menjadi presiden Iran&lt;br /&gt;setelah mengkanvaskan ulama-cum-mlliter Ali Hashemi Rafsanjani dalam&lt;br /&gt;pemilihan umum. Bagaimana mungkin padahal pada awal kampanye namanya&lt;br /&gt;bahkan tidak masuk hitungan karena yang maju adalah para tokoh yang&lt;br /&gt;memiliki hampir segalanya dibandingkan dengannya?  Dalam jajak&lt;br /&gt;pendapat awal kampanye dari delapan calon presiden yang bersaing,&lt;br /&gt;Akbar hasyemi Rafsanjani,&lt;br /&gt;Ali Larijani, &lt;span id="st" name="st" class="st"&gt;Ahmadinejad&lt;/span&gt;, Mehdi Karrubi, Mohammed Bhager Galibaf,&lt;br /&gt;Mohsen Meharalizadeh, Mohsen Rezai, dan Mostafa Min, popularitas&lt;br /&gt;&lt;span id="st" name="st" class="st"&gt;Ahmadinejad&lt;/span&gt; paling buncit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa kampanye ketika para kontestan mengorek sakunya dalam-dalam&lt;br /&gt;untuk menarik perhatian massa , &lt;span id="st" name="st" class="st"&gt;Ahmadinejad&lt;/span&gt; bahkan tidak sanggup&lt;br /&gt;untuk&lt;br /&gt;mencetak foto-foto dan atributnya sebagai calon presiden. Sebagai&lt;br /&gt;walikota ia menyumbangkan semua gajinya dan hidup dengan gajinya&lt;br /&gt;sebagai dosen. Ia tidak mampu untuk mengeluarkan uang sepeser pun&lt;br /&gt;untuk&lt;br /&gt;kampanye! Sebaliknya ia justru menghantam para calon presiden yang&lt;br /&gt;menggunakan dana ratusan milyar untuk berkampanye atau yang bagi-bagi&lt;br /&gt;uang untuk menarik simpati rakyat.&lt;br /&gt;Pada pemilu putaran pertama keanehan terjadi, Nama &lt;span id="st" name="st" class="st"&gt;Ahmadinejad&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;menyodok ke tempat ketiga. Di atasnya dua dedengkot politik yang jauh&lt;br /&gt;lebih senior di atasnya, Akbar Hashemi Rafsanjani dan Mahdi Karrubi.&lt;br /&gt;Rafsanjani tetap menjadi favorit untuk memenangi pemilu ini mengingat&lt;br /&gt;reputasi dan tangguhnya mesin politiknya. Tapi rakyat Iran punya&lt;br /&gt;rencana dan harapan lain, &lt;span id="st" name="st" class="st"&gt;Ahmadinejad&lt;/span&gt; memenangi pemilu dengan 61 %&lt;br /&gt;sedangkan Rafsanjani hanya 35%. Logika real politik dibikin jungkir&lt;script&gt;&lt;!-- D(["mb","\u003cbr\&gt;\nbalik olehnya.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nAhmadinejad memang penuh dengan kontroversi. Ia presiden yang tidak\u003cbr\&gt;\nberasal dari mullah yang selama puluhan tahun telah mendominasi \u003cbr\&gt;\nhampir\u003cbr\&gt;\nsemua pos kekuasaan di Iran , status quo yang sangat dominan. Ia juga\u003cbr\&gt;\nbukan berasal dari elit yang dekat dengan kekuasaan, tidak memiliki\u003cbr\&gt;\ntrack-record sebagai politisi, dan hanya memiliki modal asketisme,\u003cbr\&gt;\nyang untuk standar Iran pun sudah menyolok. Ia seorang revolusioner\u003cbr\&gt;\nsejati sebagaimana halnya dengan Imam Khomeini dengan kedahsyatan \u003cbr\&gt;\naura\u003cbr\&gt;\nyang berbeda. Jika Imam Khomeini tampil mistis dan sufistis,\u003cbr\&gt;\nAhamdinejad justru tampil sangat merakyat, mudah dijangkau siapapun,\u003cbr\&gt;\nmudah dipahami dan diteladani. Ia adalah sosok Khomeini yang jauh\u003cbr\&gt;\nlebih mudah untuk\u003cbr\&gt;\ndipahami dan diteladani. Ia adalah figur idola dalam kehidupan nyata.\u003cbr\&gt;\nSeorang &amp;#39;satria piningit&amp;#39; yang mewujud dalam sosok nyata.\u003cbr\&gt;\nSebagaimana mentornya, ia tidak terpengaruh oleh kekuasaan. Kekuasaan\u003cbr\&gt;\nseolah tidak menyentuh karakter-karakter terdalamnya. Ia seolah\u003cbr\&gt;\nmemiliki &amp;#39;kepribadian ganda&amp;#39;, di satu sisi ia bisa bertarung keras\u003cbr\&gt;\nuntuk merebut dan mengelola kekuasaan, dan di sisi lain ia bertarung\u003cbr\&gt;\nsama kerasnya menolak segenap pengaruh kekuasaan agar tidak\u003cbr\&gt;\nmempengaruhi batinnya. Tidak bisa tidak, dengan karakter yang \u003cbr\&gt;\ndemikian\u003cbr\&gt;\nkompleks itu seorang revolusioner macam Ahmadinejad memang \u003cbr\&gt;\nditakdirkan\u003cbr\&gt;\nuntuk membuat banyak kejutan dan drama pada dunia.\u003cbr\&gt;\nIa memangkas semua biaya dan fasilitas kedinasan yang tidak\u003cbr\&gt;\nsine-qua-non terutama dengan urusan pribadi. Dalam pandangannya, \u003cbr\&gt;\nuntuk\u003cbr\&gt;\nmewujudkan masyarakat Islam yang maju dan sejahtera, pejabat negara\u003cbr\&gt;\nharuslah memiliki standar hidup yang sama dengan rakyat kebanyakan.,\u003cbr\&gt;\nmencerminkan kehidupan nyata dari masyarakatnya, dan tidak hidup di\u003cbr\&gt;\nmenara gading. Ia menetapkan PPN baru bagi orang-orang kaya dan\u003cbr\&gt;\nmengunakan dananya untuk membangun perumahan bagi rakyat miskin. Ia\u003cbr\&gt;\nmembawa &amp;#39;uang minyak ke piring-piring orang miskin&amp;#39; dengan program",1] );  //--&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;balik olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="st" name="st" class="st"&gt;Ahmadinejad&lt;/span&gt; memang penuh dengan kontroversi. Ia presiden yang tidak&lt;br /&gt;berasal dari mullah yang selama puluhan tahun telah mendominasi&lt;br /&gt;hampir&lt;br /&gt;semua pos kekuasaan di Iran , status quo yang sangat dominan. Ia juga&lt;br /&gt;bukan berasal dari elit yang dekat dengan kekuasaan, tidak memiliki&lt;br /&gt;track-record sebagai politisi, dan hanya memiliki modal asketisme,&lt;br /&gt;yang untuk standar Iran pun sudah menyolok. Ia seorang revolusioner&lt;br /&gt;sejati sebagaimana halnya dengan Imam Khomeini dengan kedahsyatan&lt;br /&gt;aura&lt;br /&gt;yang berbeda. Jika Imam Khomeini tampil mistis dan sufistis,&lt;br /&gt;Ahamdinejad justru tampil sangat merakyat, mudah dijangkau siapapun,&lt;br /&gt;mudah dipahami dan diteladani. Ia adalah sosok Khomeini yang jauh&lt;br /&gt;lebih mudah untuk&lt;br /&gt;dipahami dan diteladani. Ia adalah figur idola dalam kehidupan nyata.&lt;br /&gt;Seorang 'satria piningit' yang mewujud dalam sosok nyata.&lt;br /&gt;Sebagaimana mentornya, ia tidak terpengaruh oleh kekuasaan. Kekuasaan&lt;br /&gt;seolah tidak menyentuh karakter-karakter terdalamnya. Ia seolah&lt;br /&gt;memiliki 'kepribadian ganda', di satu sisi ia bisa bertarung keras&lt;br /&gt;untuk merebut dan mengelola kekuasaan, dan di sisi lain ia bertarung&lt;br /&gt;sama kerasnya menolak segenap pengaruh kekuasaan agar tidak&lt;br /&gt;mempengaruhi batinnya. Tidak bisa tidak, dengan karakter yang&lt;br /&gt;demikian&lt;br /&gt;kompleks itu seorang revolusioner macam &lt;span id="st" name="st" class="st"&gt;Ahmadinejad&lt;/span&gt; memang&lt;br /&gt;ditakdirkan&lt;br /&gt;untuk membuat banyak kejutan dan drama pada dunia.&lt;br /&gt;Ia memangkas semua biaya dan fasilitas kedinasan yang tidak&lt;br /&gt;sine-qua-non terutama dengan urusan pribadi. Dalam pandangannya,&lt;br /&gt;untuk&lt;br /&gt;mewujudkan masyarakat Islam yang maju dan sejahtera, pejabat negara&lt;br /&gt;haruslah memiliki standar hidup yang sama dengan rakyat kebanyakan.,&lt;br /&gt;mencerminkan kehidupan nyata dari masyarakatnya, dan tidak hidup di&lt;br /&gt;menara gading. Ia menetapkan PPN baru bagi orang-orang kaya dan&lt;br /&gt;mengunakan dananya untuk membangun perumahan bagi rakyat miskin. Ia&lt;br /&gt;membawa 'uang minyak ke piring-piring orang miskin' dengan program&lt;script&gt;&lt;!-- D(["mb","\u003cbr\&gt;\n&amp;quot;Reza Love Fund&amp;quot; (Reza adalah Imam ke delapan kaum Syiah) dengan\u003cbr\&gt;\nmengalokasikan 1,3 milyar dollar untuk program bantuan bagi kalangan\u003cbr\&gt;\nmuda untuk menikah, memulai usaha baru, dan membeli rumah.\u003cbr\&gt;\nMeski mengagumi Imam Khomeini dan hidup asketis tidak berarti ia\u003cbr\&gt;\nkonservatif. Ia bahkan tampil moderat. Ketika ditanya apakah ia akan\u003cbr\&gt;\nmengekang penggunaan jilbab yang kurang Islami di kalangan remaja\u003cbr\&gt;\nTeheran, ia menjawab,: &amp;quot;Orang cenderung berpikir bahwa kembali ke\u003cbr\&gt;\nnilai-nilai revolusioner itu hanya urusan memakai jilbab yang baik.\u003cbr\&gt;\nMasalah sejati bangsa ini adalah lapangan kerja dan perumahan untuk\u003cbr\&gt;\nsemua, bukan apa yang harus dipakai.&amp;quot;\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nMeski telah terpilih menjadi presiden ia sama sekali tidak mengubah\u003cbr\&gt;\npenampilannya. Ia tetap tampil bersahaja dan jauh dari pamor\u003cbr\&gt;\nkepresidenan. Pada salah satu acara dengan kalangan mahasiswa  salah\u003cbr\&gt;\nsatu peserta menanyakan penampilannya yang tidak menunjukkan tampang\u003cbr\&gt;\npresiden tersebut. Dengan lugas ia menjawab,: &amp;quot;Tapi saya punya \u003cbr\&gt;\ntampang\u003cbr\&gt;\npelayan. Dan saya hanya ingin menjadi pelayan rakyat.&amp;quot; Air mata saya\u003cbr\&gt;\nmengalir membaca ini. Subhanallah! Alangkah rendah hatinya pemimpin\u003cbr\&gt;\nsatu ini. Tak salah jika ia dicintai oleh bagitu banyak mahluk Tuhan\u003cbr\&gt;\ndi\u003cbr\&gt;\nseluruh muka bumi.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\nSaya tidak ingin menulis lebih panjang tentang tokoh satu ini. Saya\u003cbr\&gt;\nmenganjurkan setiap orang untuk membeli bukunya dan membacanya \u003cbr\&gt;\nsendiri\u003cbr\&gt;\ndan menikmatinya sebagaimana saya menikmatinya. Belikan satu buku\u003cbr\&gt;\nuntuk anak Anda dan biarkan ia mengenal satu tokoh besar dunia yang\u003cbr\&gt;\nmasih hidup dan mudah-mudahan kelak dapat mengikuti jejaknya. Saya\u003cbr\&gt;\nhanya ingin menutup tulisan ini dengan pendapatnya mengapa ia\u003cbr\&gt;\nbersikeras agar Iran memiliki teknologi nuklir. Katanya,:&amp;quot;Jika nuklir\u003cbr\&gt;\nini dinilai jelek\u003cbr\&gt;\ndan kami tidak boleh menguasai dan memilikinya mengapa kalian sebagai\u003cbr\&gt;\nnegara adikuasa boleh memilikinya? Sebaliknya, jika teknonuklir ini\u003cbr\&gt;\nbaik untuk kalian, mengapa kami tidak boleh juga memakainya?&amp;quot; Suatu",1] );  //--&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;"Reza Love Fund" (Reza adalah Imam ke delapan kaum Syiah) dengan&lt;br /&gt;mengalokasikan 1,3 milyar dollar untuk program bantuan bagi kalangan&lt;br /&gt;muda untuk menikah, memulai usaha baru, dan membeli rumah.&lt;br /&gt;Meski mengagumi Imam Khomeini dan hidup asketis tidak berarti ia&lt;br /&gt;konservatif. Ia bahkan tampil moderat. Ketika ditanya apakah ia akan&lt;br /&gt;mengekang penggunaan jilbab yang kurang Islami di kalangan remaja&lt;br /&gt;Teheran, ia menjawab,: "Orang cenderung berpikir bahwa kembali ke&lt;br /&gt;nilai-nilai revolusioner itu hanya urusan memakai jilbab yang baik.&lt;br /&gt;Masalah sejati bangsa ini adalah lapangan kerja dan perumahan untuk&lt;br /&gt;semua, bukan apa yang harus dipakai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski telah terpilih menjadi presiden ia sama sekali tidak mengubah&lt;br /&gt;penampilannya. Ia tetap tampil bersahaja dan jauh dari pamor&lt;br /&gt;kepresidenan. Pada salah satu acara dengan kalangan mahasiswa  salah&lt;br /&gt;satu peserta menanyakan penampilannya yang tidak menunjukkan tampang&lt;br /&gt;presiden tersebut. Dengan lugas ia menjawab,: "Tapi saya punya&lt;br /&gt;tampang&lt;br /&gt;pelayan. Dan saya hanya ingin menjadi pelayan rakyat." Air mata saya&lt;br /&gt;mengalir membaca ini. Subhanallah! Alangkah rendah hatinya pemimpin&lt;br /&gt;satu ini. Tak salah jika ia dicintai oleh bagitu banyak mahluk Tuhan&lt;br /&gt;di&lt;br /&gt;seluruh muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak ingin menulis lebih panjang tentang tokoh satu ini. Saya&lt;br /&gt;menganjurkan setiap orang untuk membeli bukunya dan membacanya&lt;br /&gt;sendiri&lt;br /&gt;dan menikmatinya sebagaimana saya menikmatinya. Belikan satu buku&lt;br /&gt;untuk anak Anda dan biarkan ia mengenal satu tokoh besar dunia yang&lt;br /&gt;masih hidup dan mudah-mudahan kelak dapat mengikuti jejaknya. Saya&lt;br /&gt;hanya ingin menutup tulisan ini dengan pendapatnya mengapa ia&lt;br /&gt;bersikeras agar Iran memiliki teknologi nuklir. Katanya,:"Jika nuklir&lt;br /&gt;ini dinilai jelek&lt;br /&gt;dan kami tidak boleh menguasai dan memilikinya mengapa kalian sebagai&lt;br /&gt;negara adikuasa boleh memilikinya? Sebaliknya, jika teknonuklir ini&lt;br /&gt;baik untuk kalian, mengapa kami tidak boleh juga memakainya?" Suatu&lt;script&gt;&lt;!-- D(["mb","\u003cbr\&gt;\nargumen sederhana yang tidak mampu dijawab oleh negara-negara Barat.\u003cbr\&gt;\nItu sebabnya Bush tidak bersedia meladeninya dalam suatu tantangan\u003cbr\&gt;\ndebat di PB\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\n--- End forwarded message ---\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\n\u003c/p\&gt;\n    \u003c/div\&gt;  \n\n    \n    \u003cspan width\u003d\"1\" style\u003d\"color:white\"\&gt;__._,_.___\u003c/span\&gt;\n    \n    \u003cdiv\&gt;\n              \u003cspan\&gt;\n          \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/te-xi-stttelkom/message/8243;_ylc\u003dX3oDMTM0bm5uNjlhBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzE0NzkwODAEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MDc3NjI0BG1zZ0lkAzgyNDMEc2VjA2Z0cgRzbGsDdnRwYwRzdGltZQMxMTYzMTgxMTE5BHRwY0lkAzgyNDM-\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;\n            Messages in this topic          \u003c/a\&gt; (\u003cspan\&gt;1\u003c/span\&gt;)\n        \u003c/span\&gt;\n        \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/te-xi-stttelkom/post;_ylc\u003dX3oDMTJwbW1wM3QzBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzE0NzkwODAEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MDc3NjI0BG1zZ0lkAzgyNDMEc2VjA2Z0cgRzbGsDcnBseQRzdGltZQMxMTYzMTgxMTE5?act\u003dreply&amp;messageNum\u003d8243\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;\n          \u003cspan\&gt;\n            Reply          \u003c/span\&gt; (via web post)\n        \u003c/a\&gt;  | \n        \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/te-xi-stttelkom/post;_ylc\u003dX3oDMTJlZDAzN2doBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzE0NzkwODAEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MDc3NjI0BHNlYwNmdHIEc2xrA250cGMEc3RpbWUDMTE2MzE4MTExOQ--\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;\n          Start a new topic        \u003c/a\&gt;\n          \u003c/div\&gt; \n    \n    \n    \u003cdiv\&gt;\n                \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/te-xi-stttelkom/messages;_ylc\u003dX3oDMTJldGZwaWd2BF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzE0NzkwODAEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MDc3NjI0BHNlYwNmdHIEc2xrA21zZ3MEc3RpbWUDMTE2MzE4MTExOQ--\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;Messages\u003c/a\&gt;  \n            |    \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/te-xi-stttelkom/files;_ylc\u003dX3oDMTJma2lndDFvBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzE0NzkwODAEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MDc3NjI0BHNlYwNmdHIEc2xrA2ZpbGVzBHN0aW1lAzExNjMxODExMTk-\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;Files\u003c/a\&gt;",1] );  //--&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;argumen sederhana yang tidak mampu dijawab oleh negara-negara Barat.&lt;br /&gt;Itu sebabnya Bush tidak bersedia meladeninya dalam suatu tantangan&lt;br /&gt;debat di PB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: milis st3&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-3295426924706414124?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/3295426924706414124/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=3295426924706414124' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/3295426924706414124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/3295426924706414124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/05/ahmadinejad.html' title='AHMADINEJAD'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-2586844221196244459</id><published>2007-04-03T06:55:00.000-07:00</published><updated>2007-04-03T06:55:16.719-07:00</updated><title type='text'>KETIKA DERITA MENGABADIKAN CINTA</title><content type='html'>"Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk&lt;br /&gt;kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr.&lt;br /&gt;Mamduh Hasan Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo&lt;br /&gt;dan Dikrektur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf&lt;br /&gt;terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua&lt;br /&gt;mempelai. Kepada Professor dipersilahkan..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan&lt;br /&gt;resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di&lt;br /&gt;tepi sungai Nil, Kairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan&lt;br /&gt;disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-&lt;br /&gt;nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan&lt;br /&gt;dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering&lt;br /&gt;nongol di televisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih&lt;br /&gt;melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya&lt;br /&gt;memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa&lt;br /&gt;ia memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan&lt;br /&gt;kuat, mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium,&lt;br /&gt;kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat&lt;br /&gt;sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu'ala Rasulillah, amma&lt;br /&gt;ba'du. Sebelumnya saya mohon ma'af , saya tidak bisa memberi nasihat&lt;br /&gt;lazimnya para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada&lt;br /&gt;kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan&lt;br /&gt;bukan cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai&lt;br /&gt;harganya, yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya.&lt;br /&gt;harapan saya, mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan&lt;br /&gt;Allah bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambilah&lt;br /&gt;mutiaranya dan buanglah lumpurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras,&lt;br /&gt;melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan&lt;br /&gt;kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga puluh tahun yang lalu ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan&lt;br /&gt;menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira tinggi,&lt;br /&gt;keturunan "Pasha" yang terhormat di negeri ini. Ibu saya tak kalah&lt;br /&gt;terhormatnya, seorang lady dari keluarga aristokrat terkemuka di&lt;br /&gt;Ma'adi, ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan Sorbonne yang&lt;br /&gt;memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan elit politik&lt;br /&gt;di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup&lt;br /&gt;dalam suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan&lt;br /&gt;hidup sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat.&lt;br /&gt;Keluarga besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan&lt;br /&gt;aristokrat atau kalangan high class yang sepadan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini.&lt;br /&gt;Saya merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang&lt;br /&gt;didewa-dewakan keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya&lt;br /&gt;cari. Saya lebih merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman&lt;br /&gt;dari kalangan bawah yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan&lt;br /&gt;perjuangan. Hal ini ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka&lt;br /&gt;menganggap saya ceroboh dan tidak bisa menjaga status sosial&lt;br /&gt;keluarga. Pergaulan saya dengan orang yang selalu basah keringat&lt;br /&gt;dalam mencari pengganjal perut dianggap memalukan keluarga. Namun&lt;br /&gt;saya tidak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ayah memperoleh warisan yan sangat besar dari kakek, dan ibu&lt;br /&gt;mampu mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewah&lt;br /&gt;dengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke&lt;br /&gt;luar negri, ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya.&lt;br /&gt;Jika berlibur di dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan&lt;br /&gt;keluarga kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza&lt;br /&gt;yang berdekatan dengan istana Raja Faruq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil mewah.&lt;br /&gt;Berkali-kali saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil&lt;br /&gt;biasa saja, agar lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para&lt;br /&gt;dosen. Tetapi beliau menolak mentah-mentah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja" tegas&lt;br /&gt;ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah&lt;br /&gt;habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di&lt;br /&gt;hati, saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang&lt;br /&gt;penuh pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan,&lt;br /&gt;kesahajaan, dan kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya&lt;br /&gt;menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan&lt;br /&gt;tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya sangat menajubkan. Ia gadis&lt;br /&gt;yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa&lt;br /&gt;telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk&lt;br /&gt;menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu&lt;br /&gt;ikatan pernikahan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi&lt;br /&gt;di fakultas. Maka datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua&lt;br /&gt;menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan&lt;br /&gt;yang lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan&lt;br /&gt;hati pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu,&lt;br /&gt;dan saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan,&lt;br /&gt;kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam&lt;br /&gt;memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu&lt;br /&gt;saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan&lt;br /&gt;membanting gelas yang ada di dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum:&lt;br /&gt;Pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan&lt;br /&gt;dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak&lt;br /&gt;saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin&lt;br /&gt;yang tak terkira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku&lt;br /&gt;sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang&lt;br /&gt;cukur....tukang cukur, ya... sekali lagi tukang cukur! Saya katakan&lt;br /&gt;dengan bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki&lt;br /&gt;sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya&lt;br /&gt;dengan baik kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi&lt;br /&gt;yang tak banyak dilakukan para bangsawan "Pasha". Lewat tangannya ia&lt;br /&gt;lahirkan tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun&lt;br /&gt;dia sama sekali tidak mengecap bangku pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri&lt;br /&gt;sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya&lt;br /&gt;membawa pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui.&lt;br /&gt;Ayah ibu langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya&lt;br /&gt;sebesar 500 ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada&lt;br /&gt;perlakuan tidak adil seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di&lt;br /&gt;jalan yang lurus tidak direstui, sedangkan adik saya yang jelas-&lt;br /&gt;jelas telah berzina, bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili&lt;br /&gt;pacarnya yang entah yang ke berapa di luar akad nikah malah direstui&lt;br /&gt;dan diberi fasilitas maha besar? Dengan enteng ayah&lt;br /&gt;menjawab. "Karena kamu memilih pasangan hidup dari strata yang salah&lt;br /&gt;dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar adik kamu&lt;br /&gt;yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat keluarga&lt;br /&gt;besar Al Ganzouri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan&lt;br /&gt;ayah saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda&lt;br /&gt;kiamat sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah&lt;br /&gt;dihalangi, namun yang jelas berzina justru difasilitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan&lt;br /&gt;hidup saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan&lt;br /&gt;pasangan bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-&lt;br /&gt;apa selain menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci&lt;br /&gt;yang saya yakini kebenarannya. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya.&lt;br /&gt;Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi,&lt;br /&gt;dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la&lt;br /&gt;haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau&lt;br /&gt;setelah mengetahui penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah-&lt;br /&gt;mentah untuk mengawinkan putrinya dengan saya. Ternyata beliau&lt;br /&gt;menjawabnya dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya&lt;br /&gt;sebagai anak jika tetap nekad menikah dengan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak&lt;br /&gt;pernikahan ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan&lt;br /&gt;keluarga dia menolak karena alasan membela kehormatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan&lt;br /&gt;bertanya kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri&lt;br /&gt;penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke&lt;br /&gt;kantor ma'dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang&lt;br /&gt;sahabat karibku. Kami berikan identitas kami dan kami minta ma'dzun&lt;br /&gt;untuk melaksanakan akad nikah kami secara syari'ah mengikuti mahzab&lt;br /&gt;imam Hanafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Ma'dzun menuntun saya, "Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya&lt;br /&gt;terima nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan&lt;br /&gt;mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam&lt;br /&gt;Abu Hanifah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata&lt;br /&gt;3 sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah&lt;br /&gt;itu. Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah&lt;br /&gt;di mata Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar&lt;br /&gt;menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum&lt;br /&gt;berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah&lt;br /&gt;kami membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan&lt;br /&gt;mata. Begitu mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari&lt;br /&gt;rumah. Mobil dan segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari&lt;br /&gt;rumah tanpa membawa apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa&lt;br /&gt;potong pakaian dan uang sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang&lt;br /&gt;saya miliki sehabis membayar ongkos akad nikah di kantor ma'dzun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih&lt;br /&gt;tragis lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang&lt;br /&gt;sebanyak 2 pound, tak lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound&lt;br /&gt;atau 2 dolar!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua&lt;br /&gt;bertemu di jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan&lt;br /&gt;Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil, rasa&lt;br /&gt;cemas, takut, sedih dan sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya&lt;br /&gt;saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan&lt;br /&gt;jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang , rasa berdaya dan hidup&lt;br /&gt;menjalari sukma kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti&lt;br /&gt;ini. Maafkan Kanda!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak... Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita&lt;br /&gt;telah berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak&lt;br /&gt;bisa menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berpikir&lt;br /&gt;anak kecil. Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan&lt;br /&gt;tindakan mereka salah. Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita&lt;br /&gt;tempuh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama&lt;br /&gt;kanda tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan&lt;br /&gt;buktikan kepada mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan&lt;br /&gt;keyakinan cinta kita. Suatu ketika saat kita gapai kejayaan itu kita&lt;br /&gt;ulurkan tangan kita dan kita berikan senyum kita pada mereka dan&lt;br /&gt;mereka akan menangis haru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita&lt;br /&gt;kita saat ini," jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah&lt;br /&gt;rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika.&lt;br /&gt;Apalagi teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi&lt;br /&gt;dokter. Dan sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan&lt;br /&gt;menerima penghargaan dan uang sebanyak 40 pound.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk&lt;br /&gt;di emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa.&lt;br /&gt;Dalam kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak&lt;br /&gt;mungkin kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang&lt;br /&gt;juga. Dengan sisa uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah&lt;br /&gt;toko selama 24 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman&lt;br /&gt;sebanyak 50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala&lt;br /&gt;kadarnya yang murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan&lt;br /&gt;kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus&lt;br /&gt;mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta,&lt;br /&gt;kasih sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami&lt;br /&gt;berhasil menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra&lt;br /&gt;Khaimah. Bagi kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin&lt;br /&gt;dipandang sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan&lt;br /&gt;mereka. Bahkan rumah binatang kesayangan mereka mungkin lebih bagus&lt;br /&gt;dari rumah kontrakan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu,&lt;br /&gt;jika seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia&lt;br /&gt;bagai mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah&lt;br /&gt;sedang membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang&lt;br /&gt;jaminan dan uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari&lt;br /&gt;25 pound saja untuk 3 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu&lt;br /&gt;kami pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih&lt;br /&gt;dari sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu&lt;br /&gt;kecil, dua kursi dan satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua&lt;br /&gt;cangkir dari tanah, itu saja... tak lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa&lt;br /&gt;tetap bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini&lt;br /&gt;kebahagiaan melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta?&lt;br /&gt;Hidup bahagia adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-&lt;br /&gt;orang di dunia merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah&lt;br /&gt;menjanjikan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya&lt;br /&gt;persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah&lt;br /&gt;untuk memberikan gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah&lt;br /&gt;di surga. Jika percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh&lt;br /&gt;lebih nikmat dari semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa&lt;br /&gt;dibayangkan. Yang paling nikmat adalah cinta yang diberikan oleh&lt;br /&gt;Allah kepada penghuni surga , saat Allah memperlihatkan wajah-Nya.&lt;br /&gt;Dan tidak semua penghuni surga berhak menikmati indahnya wajah Allah&lt;br /&gt;SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur'an&lt;br /&gt;dan Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang&lt;br /&gt;berhak memperoleh segala cinta di surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus&lt;br /&gt;mendekatkan diri kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur'an, lalu memakai jilbab, dan&lt;br /&gt;tiada putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi'ah&lt;br /&gt;Adawiyah yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu&lt;br /&gt;siang ia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia&lt;br /&gt;memang wanita yang berkarakter dan berkepribadian kuat, ia bertekad&lt;br /&gt;untuk hidup berdua tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia&lt;br /&gt;juga seorang wanita yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa&lt;br /&gt;sebanyak 25 poud yang tersisa setelah membayar sewa rumah cukup&lt;br /&gt;untuk makan dan transportasi selama sebulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan&lt;br /&gt;kamipun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan&lt;br /&gt;dan derita hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-&lt;br /&gt;sampai ada yang bilang tanpa disengaja,"Ah, kami kira para dokter&lt;br /&gt;itu pasti kaya semua, ternyata ada juga yang melarat sengsara&lt;br /&gt;seperti Mamduh dan isterinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi&lt;br /&gt;nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan&lt;br /&gt;kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri&lt;br /&gt;agar menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami&lt;br /&gt;memang dokter yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada&lt;br /&gt;yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan&lt;br /&gt;pertolongan-pertolongan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan&lt;br /&gt;yang kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan&lt;br /&gt;tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami.&lt;br /&gt;Yang lebih menyakitkan mereka tidak membiarkan kami hidup tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami&lt;br /&gt;digedor dan didobrak oleh 4 ..::makhluk yang lucu::.. kiriman ayah&lt;br /&gt;saya. Mereka merusak segala perkakas yang ada. Meja kayu satu-&lt;br /&gt;satunya, mereka patah-patahkan, begitu juga dengan kursi. Kasur&lt;br /&gt;tempat kami tidur satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam&lt;br /&gt;dan memaki kami dengan kata-kata kasar. Lalu mereka keluar dengan&lt;br /&gt;ancaman, "Kalian tak akan hidup tenang, karena berani menentang Tuan&lt;br /&gt;Pasha."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mereka maksudkan dengan Tuan "Pasha" adalah ayah saya yang kala&lt;br /&gt;itu pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat ..::makhluk yang&lt;br /&gt;lucu::.. itu pergi. Kami berdua berpelukan, menangis bareng berbagi&lt;br /&gt;nestapa dan membangun kekuatan. Lalu kami tata kembali rumah yang&lt;br /&gt;hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas yang berserakan, kami&lt;br /&gt;masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang sobek-sobek&lt;br /&gt;tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang berantakan. Meja dan&lt;br /&gt;kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur&lt;br /&gt;kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya genggaman&lt;br /&gt;inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan intimidasi&lt;br /&gt;hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup&lt;br /&gt;tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah&lt;br /&gt;merancang skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan&lt;br /&gt;tuduhan wanita tuna susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen&lt;br /&gt;militer di negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan&lt;br /&gt;undang-undang berada di telapak kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah&lt;br /&gt;total kepada Allah mendengar hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak&lt;br /&gt;mengurungkan niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman&lt;br /&gt;karibku berhasil memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil&lt;br /&gt;membujuk saya agar menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk&lt;br /&gt;bersabar dan tidak menjalankan skenario itu , sebab kalau itu&lt;br /&gt;terjadi pasti pemberontakan saya akan menjadi lebih keras dan bisa&lt;br /&gt;berbuat lebih nekad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil&lt;br /&gt;meminta beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai&lt;br /&gt;isteriku. Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu,&lt;br /&gt;sampai ayah turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara&lt;br /&gt;saya bisa mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu&lt;br /&gt;tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya&lt;br /&gt;takutkan, tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6&lt;br /&gt;pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang&lt;br /&gt;sangat saya cintai. Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur&lt;br /&gt;karena memikirkan keselamatan isteri tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan&lt;br /&gt;hamba-hamba-Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia&lt;br /&gt;mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah&lt;br /&gt;kami. Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan&lt;br /&gt;rahmat Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu&lt;br /&gt;kepada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan&lt;br /&gt;keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang&lt;br /&gt;putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya&lt;br /&gt;teringat puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup&lt;br /&gt;bahagia dengan pendamping setia &amp; lepas dari belenggu derita:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menatap kaki langit&lt;br /&gt;Kukatakan kepadanya&lt;br /&gt;Di sana... di atas lautan pasir kita akan berbaring&lt;br /&gt;Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba&lt;br /&gt;Bukan karna ketiadaan kata-kata&lt;br /&gt;Tapi karena kupu-kupu kelelahan&lt;br /&gt;Akan tidur di atas bibir kita&lt;br /&gt;Besok, oh cintaku... besok&lt;br /&gt;Kita akan bangun pagi sekali&lt;br /&gt;Dengan para pelaut dan perahu layar mereka&lt;br /&gt;Dan akan terbang bersama angin&lt;br /&gt;Seperti burung-burung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah... saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari&lt;br /&gt;nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta.&lt;br /&gt;Namun dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras&lt;br /&gt;untuk masuk program Magister bersama!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gila... ide gila!!!" pikirku saat itu. Bagaimana tidak...ini adalah&lt;br /&gt;saat paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari&lt;br /&gt;pekerjaan sebagai dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan&lt;br /&gt;keluarga yang tidak berperasaan. Tetapi istri saya tetap bersikukuh&lt;br /&gt;untuk meraih gelar Magister dan menjawab logika yang saya tolak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat&lt;br /&gt;tawaran dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya,&lt;br /&gt;kita harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian&lt;br /&gt;cinta dalam kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa&lt;br /&gt;tidak sekalian kita rengguk sum-sum penderitaan ini. Kita&lt;br /&gt;sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah&lt;br /&gt;kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau&lt;br /&gt;ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku&lt;br /&gt;pun luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran&lt;br /&gt;dan kekuatan jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami&lt;br /&gt;memasuki hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan,&lt;br /&gt;sementara kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek,&lt;br /&gt;buku, dll. Nyaris kami hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan&lt;br /&gt;roti dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari&lt;br /&gt;awal pernikahan kami. Malam hari kami lalui bersama dengan perut&lt;br /&gt;kosong, teman setia kami adalah air keran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama&lt;br /&gt;dalam suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami&lt;br /&gt;obati dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa&lt;br /&gt;uang untuk beli buku kami ambil untuk pengganjal perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang hari, jangan tanya... kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan&lt;br /&gt;itu, terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah&lt;br /&gt;menyesal atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri&lt;br /&gt;saya mengeluh, menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab.&lt;br /&gt;Kalaupun dia menangis, itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi&lt;br /&gt;dia malah lebih kasihan kepada saya. Dia kasihan melihat keadaan&lt;br /&gt;saya yang asalnya terbiasa hidup mewah, tiba-tiba harus hidup&lt;br /&gt;sengsara layaknya gelandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang&lt;br /&gt;asalnya hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di&lt;br /&gt;rumah kontrakan yang kumuh dan makan ala kadarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timbal balik perasaan ini ternya menciptakan suasana mawaddah yang&lt;br /&gt;luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan&lt;br /&gt;rasa sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya&lt;br /&gt;adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya&lt;br /&gt;dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan,&lt;br /&gt;dia akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh&lt;br /&gt;cinta dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan&lt;br /&gt;terlupakan semua. Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di&lt;br /&gt;dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang..." bisiknya mesra&lt;br /&gt;sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih&lt;br /&gt;gelar Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja!&lt;br /&gt;Namun, kami belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister&lt;br /&gt;pun kami masih hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada&lt;br /&gt;istilah makan enak dalam hidup kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami&lt;br /&gt;berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan&lt;br /&gt;untuk pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka,&lt;br /&gt;kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang&lt;br /&gt;mewah, merasakan kembali tidur di kasur empuk dan kembali mengenal&lt;br /&gt;masakan lezat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di&lt;br /&gt;Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir&lt;br /&gt;setelah memiliki rumah yang layak. Tetapi istriku memang 'edan'. Ia&lt;br /&gt;kembali mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program&lt;br /&gt;Doktor Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita&lt;br /&gt;lalui, dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar&lt;br /&gt;Doktor di London. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak&lt;br /&gt;ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil&lt;br /&gt;merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah&lt;br /&gt;menyediakan dana tambahan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucium kening istriku, dan bismillah... kami berangkat ke London.&lt;br /&gt;Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol&lt;br /&gt;gelar Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya&lt;br /&gt;spesialis jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak&lt;br /&gt;kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya&lt;br /&gt;diangkat sebagai direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai&lt;br /&gt;wakilnya! Kami juga mengajar di Universitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai&lt;br /&gt;dia dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam&lt;br /&gt;suka dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah&lt;br /&gt;sebelumnya menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali&lt;br /&gt;laksana raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling&lt;br /&gt;dunia. Kini kami hidup bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah&lt;br /&gt;lebih dari 9 tahun hidup menderita, melarat dan sengsara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah&lt;br /&gt;swt dan bertambahlan rasa cinta kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika&lt;br /&gt;hadirin sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan&lt;br /&gt;mencurahkan cintanya dengan tulus, tanpa pernah surut sejak&lt;br /&gt;pertemuan pertama sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka&lt;br /&gt;lihatlah wanita berjilbab biru yang menunduk di barisan depan kaum&lt;br /&gt;ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda Sulthan. Dialah&lt;br /&gt;istri saya tercinta yang mengajarkan bahwa penderitaan bisa&lt;br /&gt;mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok&lt;br /&gt;perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru.&lt;br /&gt;Perempuan itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga&lt;br /&gt;merekam mata Huda Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru&lt;br /&gt;kedua mempelai, dan segenap hadirin yang menghayati cerita ini&lt;br /&gt;dengan seksama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari milis Airputih (airputih@yahoogroups.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-2586844221196244459?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/2586844221196244459/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=2586844221196244459' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/2586844221196244459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/2586844221196244459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/04/ketika-derita-mengabadikan-cinta.html' title='KETIKA DERITA MENGABADIKAN CINTA'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-5925761411996670163</id><published>2007-04-03T06:23:00.000-07:00</published><updated>2007-04-03T06:24:23.738-07:00</updated><title type='text'>SELEMBAR TIKET KERETA</title><content type='html'>Semenjak kecil, saya takut untuk memperingati hari ibu karena tak&lt;br /&gt;berapa lama setelah saya lahir, saya dibuang oleh ibu saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali peringatan hari ibu, saya selalu merasa tidak leluasa&lt;br /&gt;karena selama peringatan hari ibu semua acara televisi menayangkan&lt;br /&gt;lagu tentang kasih ibu, begitu juga dengan radio dan bahkan iklan&lt;br /&gt;biskuit pun juga menggunakan lagu tentang hari ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bisa meresapi lagu-lagu seperti itu. Setelah sebulan lebih&lt;br /&gt;saya dilahirkan, saya ditemukan oleh seseorang di stasiun kereta api&lt;br /&gt;Xin Zhu. Para polisi yang berada di sekitar stasiun itu kebinggungan&lt;br /&gt;untuk menyusui saya. Tapi pada akhirnya, mereka bisa menemukan seorang&lt;br /&gt;ibu yang bisa menyusui saya. Kalau bukan karena dia, saya pasti sudah&lt;br /&gt;menanggis dan sakit. Setelah saya selesai disusui dan tertidur dengan&lt;br /&gt;tenang, para polisi pelan-pelan membawa saya ke De Lan Center di&lt;br /&gt;kecamatan Bao Shan kabupaten Xin Zhu. Hal ini membuat para biarawati&lt;br /&gt;yang sepanjang hari tertawa ria akhirnya pusing tujuh keliling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak pernah melihat ibu saya. Semasa kecil saya hanya tahu kalau&lt;br /&gt;saya dibesarkan oleh para biarawati. Pada malam hari, di saat&lt;br /&gt;anak-anak yang lain sedang belajar, saya yang tidak ada kerjaan hanya&lt;br /&gt;bisa menggangu para biarawati. Pada saat mereka masuk ke altar untuk&lt;br /&gt;mengikuti kelas malam, saya juga akan ikut masuk kedalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang saya bermain di bawah meja altar, mengganggu biarawati yang&lt;br /&gt;sedang berdoa dengan membuat wajah-wajah yang aneh. Dan lebih sering&lt;br /&gt;lagi ketiduran sambil bersandar di samping biarawati. Biarawati yang&lt;br /&gt;baik hati itu tidak menunggu kelas berakhir terlebih dahulu, tetapi&lt;br /&gt;dia langsung menggendong saya naik untuk tidur. Saya curiga apakah&lt;br /&gt;mereka menyukai saya karena mereka bisa memanfaatkan kesempatan ini&lt;br /&gt;untuk keluar dari altar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun kami adalah anak-anak yang terbuang, tetapi sebagian besar&lt;br /&gt;dari kami masih memiliki keluarga. Pada saat tahun baru ataupun hari&lt;br /&gt;raya, banyak sanak saudara yang datang menjemput. Sedangkan saya,&lt;br /&gt;dimana rumah saya pun saya tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga karena inilah para biarawati sangat memperhatikan anak-anak yang&lt;br /&gt;tidak memiliki sanak saudara sehingga mereka tidak memperbolehkan&lt;br /&gt;anak-anak lain menggangu kami. Sejak kecil prestasi saya cukup bagus&lt;br /&gt;dan para biarawati mencarikan banyak pekerja sosial untuk menjadi guru&lt;br /&gt;saya. Kalau dihitung-hitung sudah cukup banyak yang menjadi pengajar&lt;br /&gt;saya. Mereka adalah lulusan dan dosen dari universitas Jiao dan&lt;br /&gt;universitas Qing, lembaga penelitian, dan insinyur. Guru yang&lt;br /&gt;mengajarkan saya IPA pada tahun sebelumnya adalah seorang mahasiswa&lt;br /&gt;dan sekarang dia telah menjadi asisten dosen. Guru yang mengajari saya&lt;br /&gt;Bahasa Inggris adalah seorang yang jenius. Tidak heran sejak kecil&lt;br /&gt;kemampuan saya dalam berbahasa Inggris sudah bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para biarawati juga memaksa saya untuk belajar piano. Semenjak kelas 4&lt;br /&gt;SD, saya telah menjadi pianis di gereja dan pada saat misa saya yang&lt;br /&gt;bertanggung jawab untuk bermain piano. Karena didikan yang saya&lt;br /&gt;dapatkan di gereja, kemampuan berbicara saya pun juga bagus. Di&lt;br /&gt;sekolah saya sering mengikuti lomba berpidato, pernah juga menjadi&lt;br /&gt;perwakilan alumni untuk mengikuti debat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi saya sama sekali tidak pernah mendapatkan peran yang penting&lt;br /&gt;dalam acara peringatan hari ibu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun saya suka memainkan piano tetapi saya mempunyai satu prinsip.&lt;br /&gt;Saya tidak akan memainkan lagu-lagu yang berhubungan dengan hari ibu,&lt;br /&gt;kecuali jika ada orang yang memaksa saya. Tetapi tetap saja saya tidak&lt;br /&gt;akan memainkan lagu-lagu tersebut atas dasar keinginan saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang saya pernah berpikir, siapakah ibu saya? Saat membaca novel,&lt;br /&gt;saya menebak bahwa saya adalah anak haram, ayah meninggalkan ibu dan&lt;br /&gt;ibu yang masih muda akhirnya membuang saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena kepintaran saya yang cukup bagus, ditambah lagi dengan&lt;br /&gt;adanya bantuan dari pengajar yang sepenuh hati membantu, saya dengan&lt;br /&gt;lancar bisa lolos ujian masuk jurusan arsitektur di Universitas Xin&lt;br /&gt;Zhu. Saya menyelesaikan kuliah sambil bekerja sambilan. Biarawati Sun&lt;br /&gt;yang membesarkan saya terkadang datang mengunjungi saya. Jika&lt;br /&gt;teman-teman kuliah saya yang bandel-bandel itu melihat biarawati Sun,&lt;br /&gt;mereka akan langsung berubah menjadi kalem. Banyak teman-teman saya&lt;br /&gt;yang setelah mengetahui latar belakang saya, datang menghibur saya.&lt;br /&gt;Mereka juga mengakui, bahwa saya mempunyai pembawaan yang baik,&lt;br /&gt;dikarenakan saya dibesarkan oleh para biarawati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat wisuda, orang tua dari mahasiswa lain semua berdatangan,&lt;br /&gt;sedangkan keluarga saya satu-satunya yang hadir hanya biarawati Sun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala jurusan saya bahkan meminta biarawati Sun untuk foto bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa wajib militer, saya kembali ke De Lan Center. Tiba-tiba saja&lt;br /&gt;di hari itu biarawati Sun ingin membicarakan hal yang serius dengan&lt;br /&gt;saya. Dia mengambil sebuah amplop surat dari raknya dan dia&lt;br /&gt;mempersilahkan saya untuk melihat isi-isi dari amplop surat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam amplop surat itu, terdapat dua lembar tiket kereta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarawati Sun berkata pada saya bahwa pada saat polisi mengantar saya&lt;br /&gt;ke tempat ini, dalam baju saya terselip dua lembar tiket perjalanan&lt;br /&gt;dari tempat tinggal asal ibu saya menuju stasiun Xin Zhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiket pertama adalah tiket bus dari salah satu tempat di bagian&lt;br /&gt;selatan menuju ke Ping Dong. Dan tiket yang satunya lagi adalah tiket&lt;br /&gt;kereta api dari Ping Dong ke Xin Zhu. Ini adalah tiket kereta api yang&lt;br /&gt;lambat. Dari situ saya baru tahu bahwa ibu kandung saya bukanlah orang&lt;br /&gt;yang berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarawati Sun mengatakan pada saya bahwa mereka biasanya tidak suka&lt;br /&gt;mencari latar belakang dari bayi-bayi yang telah ditinggalkan. Oleh&lt;br /&gt;karena itu, mereka menyimpan dua tiket kereta ini dan memutuskan untuk&lt;br /&gt;memberikannya pada saat saya sudah dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka telah lama mengamati saya dan pada akhirnya mereka menyimpulkan&lt;br /&gt;bahwa saya adalah orang yang rasional. Jadi seharusnya saya mempunyai&lt;br /&gt;kemampuan untuk mengatasi masalah ini. Mereka pernah pergi ke kota&lt;br /&gt;kecil ini dan menemukan bahwa jumlah penduduk kota kecil itu tidak&lt;br /&gt;banyak. Jadi jika saya benar-benar ingin mencari keluarga saya,&lt;br /&gt;seharusnya saya tidak akan menemui kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu terpikir untuk bertemu dengan orang tua saya. Tetapi&lt;br /&gt;setelah memegang dua tiket ini, mulai timbul keraguan dalam hati saya.&lt;br /&gt;Saya sekarang hidup dengan baik, mempunyai ijazah lulusan S1, dan&lt;br /&gt;bahkan memiliki seorang teman wanita akan menjadi teman hidup saya.&lt;br /&gt;Mengapa saya harus melihat ke masa lalu? Mencari masa lalu yang&lt;br /&gt;benar-benar asing bagi saya. Lagi pula besar kemungkinan kenyataan&lt;br /&gt;yang didapatkan adalah hal yang tidak menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarawati Sun justru mendukung saya untuk pergi ke kota asal ibu saya.&lt;br /&gt;Dia menggangap kalau saya akan memiliki masa depan yang cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika teka-teki tentang asal-usul kelahiran saya tidak dijadikan alasan&lt;br /&gt;sebagai bayangan gelap dalam diri saya, dia terus membujuk diri saya&lt;br /&gt;untuk memikirkan kemungkinan terburuk yang akan saya hadapi, yang&lt;br /&gt;seharusnya tidak akan menggoyahkan kepercayaan diri saya terhadap masa&lt;br /&gt;depan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akhirnya berangkat ke kota yang berada di daerah pegunungan, yang&lt;br /&gt;bahkan tidak pernah saya dengar namanya. Dari kota Ping Dong saya&lt;br /&gt;harus naik kereta api selama satu jam lebih untuk tiba di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat musim dingin, walaupun berada di daerah selatan, di kota ini&lt;br /&gt;hanya terdapat satu kantor polisi, satu pos kota, satu Sekolah Dasar,&lt;br /&gt;dan satu Sekolah Menengah Pertama, selain itu tidak ada lagi gedung&lt;br /&gt;yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bolak-balik ke kantor polisi dan pos kota untuk mencari data&lt;br /&gt;kelahiran saya. Akhirnya saya menemukan dua dokumen yang berhubungan&lt;br /&gt;dengan diri saya. Dokumen pertama adalah data mengenai kelahiran&lt;br /&gt;seorang anak laki-laki. Dokumen kedua adalah data laporan kehilangan&lt;br /&gt;anak. Hilangnya anak itu adalah di saat hari kedua saya dibuang satu&lt;br /&gt;bulan lebih setelah saya dilahirkan. Menurut keterangan dari&lt;br /&gt;biarawati, saya ditemukan di stasiun Xin Zhu. Sepertinya saya sudah&lt;br /&gt;menemukan data-data kelahiran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang masalahnya adalah ayah saya telah meninggal dunia dan ibu&lt;br /&gt;saya juga telah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu. Saya&lt;br /&gt;mempunyai seorang kakak laki-laki. Kakak saya telah meninggalkan kota&lt;br /&gt;dan tidak tahu ke mana perginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ini adalah kota kecil, maka semua orang saling mengenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang polisi tua di kantor polisi memberitahu saya, bahwa ibu saya&lt;br /&gt;selalu bekerja di SMP. Dia lalu membawa saya menemui kepala SMP itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala sekolah itu adalah seorang wanita dan beliau menyambut saya&lt;br /&gt;dengan ramah. Dia membenarkan bahwa ibu saya pernah bekerja di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan beliau sangat baik hati, sedangkan ayah saya adalah orang yang&lt;br /&gt;sangat malas. Saat pria yang lain pergi ke kota untuk mencari&lt;br /&gt;pekerjaan, hanya ayah yang tidak mau pergi. Di kota kecil, ayah hanya&lt;br /&gt;bekerja sebagai pekerja musiman. Padahal di dalam kota sama sekali&lt;br /&gt;tidak ada pekerjaan yang bisa dia kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, seumur hidup dia hanya mengandalkan ibu saya yang&lt;br /&gt;bekerja sebagai pekerja kasar. Karena tidak memiliki pekerjaan,&lt;br /&gt;suasana hatinya menjadi sangat tidak baik. Jadi seringkali dia mabuk-&lt;br /&gt;mabukan. Dan setelah mabuk, terkadang ayah memukul ibu atau kakak&lt;br /&gt;saya. Walaupun setelah itu ayah merasa menyesal, kebiasaan buruk ini&lt;br /&gt;sangat susah untuk diubah. Ibu dan saudara saya terusik seumur hidup&lt;br /&gt;olehnya. Pada saat kakak duduk di kelas dua SMP, dia kabur dari rumah&lt;br /&gt;dan semenjak saat itu ayah tidak pernah kembali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepengetahuan ibu kepala sekolah, ibu itu memiliki anak kedua. Namun&lt;br /&gt;setelah berumur satu bulan lebih, secara misterius anak itu menghilang&lt;br /&gt;begitu saja. Saat ibu kepala sekolah tahu bahwa saya dibesarkan di&lt;br /&gt;sebuah panti asuhan di daerah utara, beliau mulai menanyakan banyak&lt;br /&gt;hal kepada saya dan saya menjelaskannya satu per satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mulai tergerak hatinya dan kemudian mengeluarkan selembar&lt;br /&gt;amplop surat. Amplop ini ditinggalkan ibu saya sebelum ibu meninggal&lt;br /&gt;dan ditemukan di samping bantalnya. Kepala sekolah berpikir bahwa di&lt;br /&gt;dalamnya pasti terdapat barang-barang yang bermakna. Oleh karena itu,&lt;br /&gt;dia menyimpannya dan menunggu sampai ada keluarganya yang datang&lt;br /&gt;mengambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tangan yang gemetar, saya membuka amplop itu. Dalam amplop itu&lt;br /&gt;berisi tiket kereta api. Semua itu adalah tiket-tiket perjalanan dari&lt;br /&gt;kota kecil di bagian selatan ini menuju kecamatan Bao Shan kabupaten&lt;br /&gt;Xin Zhu, dan semuanya disimpan dengan baik. Kepala sekolah memberitahu&lt;br /&gt;saya bahwa setiap setengah tahun sekali, ibu saya pergi ke daerah di&lt;br /&gt;bagian utara untuk menemui salah satu saudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tidak ada satu orangpun yang mengenal siapa saudara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka hanya merasa bahwa setiap ibu saya kembali dari sana, suasana&lt;br /&gt;hatinya menjadi sangat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu saya menganut agama Budha di hari tuanya. Hal yang paling&lt;br /&gt;membanggakan baginya adalah ia berhasil membujuk beberapa orang kaya&lt;br /&gt;beragama Budha untuk mengumpulkan dana sebesar NT 1.000.000 yang&lt;br /&gt;disumbangkan ke panti asuhan yang dikelola oleh agama Katolik. Pada&lt;br /&gt;hari penyerahan dana, ibu saya juga ikut hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa merinding seketika. Pada suatu kali, ada satu bus&lt;br /&gt;pariwisata yang membawa para penganut agama Budha yang berasal dari&lt;br /&gt;daerah selatan. Mereka membawa selembar cek bernilai NT 1.000.000&lt;br /&gt;untuk disumbangkan ke De Lan Center.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para biarawati sangat berterimakasih dan mereka mengumpulkan semua&lt;br /&gt;anak-anak untuk berfoto bersama para penyumbang. Pada saat itu, saya&lt;br /&gt;yang sedang bermain basket. Saya juga ikut dipanggil dan dengan tidak&lt;br /&gt;rela, saya pun ikut berfoto bersama mereka. Sekarang saya menemukan&lt;br /&gt;foto itu di dalam amplop ini. Saya meminta orang untuk menunjukkan&lt;br /&gt;yang mana ibu saya. Saya tersentak seketika. Yang lebih membuat saya&lt;br /&gt;terharu adalah di dalamnya terdapat foto kenangan- kenangan wisuda&lt;br /&gt;saya yang telah difotokopi. Foto itu adalah foto saya bersama&lt;br /&gt;teman-teman saya yang sedang mengenakan topi toga. Saya juga termasuk&lt;br /&gt;di dalam foto itu. Ibu saya, walaupun telah membuang saya, tetap&lt;br /&gt;datang mengunjungi saya. Mungkin saja dia juga menghadiri acara wisuda&lt;br /&gt;saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan suara tenang, kepala sekolah berkata, "Kamu seharusnya&lt;br /&gt;berterima kasih pada ibumu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia membuangmu demi mencarikanmu lingkungan hidup yang lebih baik.&lt;br /&gt;Jika kamu tetap tinggal di sini, bisa-bisa kamu hanya lulus SMP, lalu&lt;br /&gt;pergi ke kota mencari kerja. Di sini hampir tidak ada orang yang&lt;br /&gt;mengecap pendidikan SMU. Lebih gawatnya lagi, jika kamu tidak tahan&lt;br /&gt;terhadap pukulan dan amarah ayahmu setiap hari, bisa-bisa kamu seperti&lt;br /&gt;kakakmu yang kabur dari rumah dan tidak pernah kembali lagi." Kepala&lt;br /&gt;sekolah kemudian memanggil guru yang lain untuk menceritakan hal-hal&lt;br /&gt;tentang saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya mengucapkan selamat karena saya bisa lulus dari Universitas&lt;br /&gt;Guo Li. Ada seorang guru yang berkata, bahwa di sini belum ada murid&lt;br /&gt;yang berhasil masuk ke Universitas Guo Li.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tiba-tiba tergerak untuk melakukan sesuatu. Saya bertanya kepada&lt;br /&gt;kepala sekolah apakah di dalam sekolah ada piano. Beliau berkata bahwa&lt;br /&gt;pianonya bukan piano yang cukup bagus, tetapi terdapat organ yang&lt;br /&gt;masih baru. Saya membuka tutup piano dan menghadap matahari di luar&lt;br /&gt;jendela dan saya memainkan satu per satu lagu tentang ibu. Saya ingin&lt;br /&gt;orang-orang tahu, walaupun saya dibesarkan di panti asuhan tetapi saya&lt;br /&gt;bukanlah yatim piatu karena saya memiliki para biarawati yang baik&lt;br /&gt;hati dan senantiasa mendidik saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bagaikan ibu yang membesarkan saya, mengapa saya tidak bisa&lt;br /&gt;menganggap mereka selayaknya ibu saya sendiri? Dan juga ibu saya&lt;br /&gt;selalu memperhatikan saya. Ketegasan dan pengorbanannya lah yang&lt;br /&gt;membuat saya memiliki lingkungan hidup yang baik dan masa depan yang&lt;br /&gt;gemilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip yang saya tetapkan telah dilenyapkan. Saya bukan saja bisa&lt;br /&gt;memainkan lagu peringatan hari ibu, tetapi saya juga bisa&lt;br /&gt;menyanyikannya. Kepala sekolah dan para guru juga ikut bernyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara piano juga tersebar ke seluruh sekolah dan suara piano saya&lt;br /&gt;pasti berkumandang sampai ke lembah. Di senja hari ini, penduduk-&lt;br /&gt;penduduk di kota kecil akan bertanya, "Kenapa ada orang yang memainkan&lt;br /&gt;lagu tentang ibu?" Bagi saya hari ini adalah hari ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah amplop yang dipenuhi tiket kereta api membuat saya untuk&lt;br /&gt;selamanya tidak takut untuk memperingati hari ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah sebuah kisah nyata dari rektor Universitas Ji Nan yang&lt;br /&gt;bernama Li Jia Tong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Milis Airputih (airputih@yahoogroups.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-5925761411996670163?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/5925761411996670163/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=5925761411996670163' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/5925761411996670163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/5925761411996670163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/04/selembar-tiket-kereta.html' title='SELEMBAR TIKET KERETA'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-2617391013192010477</id><published>2007-04-03T06:04:00.001-07:00</published><updated>2007-04-03T06:04:53.966-07:00</updated><title type='text'>KESOMBONGAN KITA</title><content type='html'>Di tengah-tengah sebuah training yang saya ikuti, sang trainer memberikan arahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Letakkan kedua tangan kalian di dada kalian masing-masing!" seorang trainer memulai instruksinya.&lt;br /&gt;"Letakkan, trus, dan rapat hingga kalian merasakan detak jantung kalian masing-masing!" lanjut beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun menuruti kata-katanya, kuletakkan kedua tanganku perlahan ke atas dadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucari-cari sebentar, dan akhirnya terasalah detak jantungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun menunggu instruksi selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Letakkan dan rasakan detak jantung Anda..!!" begitu instruksi beliau, "Jika sudah terasa, sekarang katakan kepada jantung Anda, Berhenti..!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun agak bingung dengan instruksi tersebut namun tak urung kulakukan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katakan, dan perintahkan kepada jantung Anda untuk berhenti!, katakan pada ia untuk berhenti!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak mungkin!!' teriakku dalam hati, "Tidak mungkin bisa!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;entah, apakah trainer tersebut mendengar apa yang kami rasakan, ia pun melanjutkan kata-katanya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lihatlah.. rasakanlah..!! bahkan jantung kita pun bukan milik kita...!!",&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu pula, Degg, diri ini kontan tersadar apa maksud dari semua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabb,begitu sering diri ini lupa, bahkan jantung, apa yang ada di dalam diri kita ini sekalipun.. bukan milik kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, padahal begitu sering kita merasa bahwa kita ada diatas segala-galanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali manusia memandang orang lain lebih rendah, lebih buruk, lebih jelek, ataupun pandangan-pandangan yang semacamnya.&lt;br /&gt;Sering kali pula manusia merasa sangat berkuasa, seolah-olah hidup dan mati orang lain berada di tangannya, tanpa sadar bahwa hidupnya sendiri sekalipun, atau bahkan tubuh nya sendiri pun, bukanlah miliknya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman bercerita tentang dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia seorang mahasiswa di Ilmu komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika, ia sedang menyelesaikan sebuah tugas program yang dirasa cukup sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking sulitnya seolah-olah tak banyak dari teman sekelasnya yang bisa mengerjakan.&lt;br /&gt;Ketika ia benar-benar selesai mengerjakan program tersebut, entah karena gembira atau apa, ia pun langsung ber pekik, "Saya Pintar..!!"&lt;br /&gt;Kontan teman disebelahnya langsung menepuk teman ini dengan keras. `Pak!!'&lt;br /&gt;Teman yang memukul ini pun berkata, "Kamu jangan sombong, apa yang kamu miliki ini tidak ada apa-apanya..!, ini semata-mata dari Allah SWT"&lt;br /&gt;Kontan teman yang satu ini pun terdiam, ia beristighfar...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman, akankah kita menunggu sebuah pukulan keras dari sang Pencipta untuk menyadarkan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, sekali-kali kita tidak akan dibiarkan dengan kesombongan kita..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titanic, kapal terbesar di era awal abad ke 20. mampu mengangkut 3000 penumpang dari Inggris ke Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memiliki teknologi tercanggih saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah contoh kesombongan ummat manusia dari perkataan pemiliknya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangankan tujuh samudera, bahkan Tuhan pun tidak akan mampu menenggelamkan kapal ini!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka di sebuah malam yang dingin, di pelayaran perdananya, kapal ini menabrak sebuah gunung Es.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapal besar ini pun tenggelam membawa ribuan penumpangnya, beserta kesombongan yang dibawanya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah ketika sang pencipta ingin menunjukkan kekuasaanNya atas manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyadarkan bahwa betapa kecil sebenarnya manusia.&lt;br /&gt;Betapa lemah dan tak berdaya-nya seorang manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas jika begini, sampai kapan kita harus menunggu kehancuran karena kesombongan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akankah kita menunggu datangnya adzab untuk menyadarkan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paman saya pernah mengatakan, bahwa kehancuran manusia ada pada saat ia mulai sombong dengan apa yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika manusia berada pada titik tersebut, maka Allah akan membalik keadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Milis Airputih (airputih@yahoogroups.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-2617391013192010477?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/2617391013192010477/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=2617391013192010477' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/2617391013192010477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/2617391013192010477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/04/kesombongan-kita.html' title='KESOMBONGAN KITA'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-1362988154442862194</id><published>2007-04-03T05:52:00.000-07:00</published><updated>2007-04-03T06:05:13.674-07:00</updated><title type='text'>KADO BAGI KEHIDUPAN</title><content type='html'>Kepuasan terbesar dalam hidup adalah&lt;br /&gt;berhasil melakukan sesuatu yang orang lain&lt;br /&gt;kira Anda tak mampu melakukannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walter Bagehot&lt;br /&gt;Penulis, jurnalis Inggris&lt;br /&gt;(1826-1877)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia kita di dunia ini tak panjang. Orang jaman sekarang, tak banyak yang bisa hidup sampai seratus tahun. Dari sedikit waktu itu, sejarah kehidupan kita di dunia terukir. Kelak, orang akan mengenangkan kita setelah mati dengan prestasi-prestasi yang pernah kita capai. Atau bisa pula banyak orang justru akan mengenang keburukan perilaku kita semasa hidup di dunia ini. Semua itu tergantung dari apa yang kita perbuat, apa yang kita lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan hidup memang bukan untuk dikenangkan, bukan pula untuk menjadi seorang pahlawan. Tetapi, ketika kita melakukan sesuatu, sekecil apapun untuk kebaikan dunia ini, kebaikan alam, kebaikan sesama manusia, disitulah sejarah kepahlawanan muncul dengan sendirinya. Orang akan mencatat dalam ingatan, bahkan dalam buku-buku yang nantinya menjadi pembelajaran anak-anak cucu kita di sekolah-sekolah. Kepahlawanan akan datang secara otomatis ketika orang berbuat kebaikan yang langka, ketika orang lain tak mampu dan tak mampu mengerjakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita, memang tak perlu terlalu berambisi mencari identitas kepahlawanan. Ia akan datang seiring dengan ketulusan sikap serta ketulusan perilaku manusia untuk rela berkorban kepada sesamanya. Naluri kemanusiaan yang akan menuntunnya. Memberikan yang terbaik dari yang ia punyai, entah berupa harta, tenaga maupun pikiran untuk sebuah kehidupan, ya kehidupan di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang dilakukan oleh lelaki yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengenalnya sekitar satu tahun lamanya. Riwayat hidupnya cukup unik. Setamat STM, ia bekerja sebagai tukang las, kemudian tukang cetak. Karena tak punya cukup uang untuk meneruskan kuliah, sementara semangat belajarnya tinggi, ia masuk ke Universitas Terbuka. Dengan ijasah S1 UT, nekat mengikuti program S2 di luar negeri. Empat kali gagal, baru kali kelima berhasil yang kemudian mengantarkannya belajar manajemen pendidikan di Inggris. Sepulang dari sana, bekerja menjadi karyawan sebuah instansi pendidikan, menjadi PNS pada sebuah Universitas. Karena punya cukup kapasitas secara keilmuan, kemudian diperbantukan untuk mengajar di program studi Bisnis Internasional. Sejak itu, nasib hidupnya mulai berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga suka menulis. Tiga buku pengembangan diri berhasil ditulisanya. Atas pengalaman tersebut, saya dan beberapa kawan dari Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Purwokerto mengundangnya untuk memotivasi anggota untuk lebih giat menulis lagi. Dari forum itulah saya mendapatkan banyak pelajaran darinya. Seperti pendapatnya tentang seorang penulis sukses. Menurutnya, penulis sukses adalah ketika “Hari ini menulis”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara saya juga terkesan dengan kata-katanya “Berikan sesuatu pada kehidupan, niscaya kehidupan akan mencukupimu”. Kata-kata itu berawal ketika ia sudah menulis banyak artikel di koran lokal sementara satu rupiahpun tak pernah dibayarkan. Ia menerima dengan ikhlas saja, walau sebenarnya tak etis sebuah perusahaan media tak membayarkan honor kepada penulis. Yang ada dalam pikirannya, hanya ilmu yang ia punyai, maka diapun berikan ilmunya kepada orang lain. Alhamdulillah, dengan ketulusan dan itikat baik memberikan sesuatu pada kehidupan, akhirnya dari dua bukunya saja hasilnya melebihi gajinya selama satu tahun. Kini menyusul buku ketiga dan keempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam, saya salut terhadapnya&lt;br /&gt;Dan, mulai berpikir tentang kado terbaik&lt;br /&gt;yang bisa saya berikan bagi kehidupan ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Milis Airputih (airputih@yahoogroups.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-1362988154442862194?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/1362988154442862194/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=1362988154442862194' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/1362988154442862194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/1362988154442862194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/04/kado-bagi-kehidupan.html' title='KADO BAGI KEHIDUPAN'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-708780209683589452</id><published>2007-04-03T05:43:00.000-07:00</published><updated>2007-04-03T05:52:17.562-07:00</updated><title type='text'>KISAH LELAKI TUA DI AMERIKA</title><content type='html'>Ada laki-laki tua, seorang Muslim Amerika yang tinggal di sebuah tanah pertanian di pegunungan sebelah Timur Kentucky. Dia tinggal besama seorang cucu laki-lakinya yang masih muda.&lt;br /&gt;Setiap pagi-pagi sekali, Sang Kakek duduk di meja dapur sambil membaca Al Qur'an.&lt;br /&gt;Cucu lelakinya sangat ingin menjadi seperti Kakeknya dan mencoba meniru segala yang dilakukannya.&lt;br /&gt;Suatu hari cucunya bertanya, "Kakek, aku mencoba untuk membaca Qur'an seperti dirimu. Tetapi aku tidak memahaminya, dan seringkali apa yang harus kumengerti langsung terlupa begitu aku menutup buku (Qur'an) itu.&lt;br /&gt;Apa yang sebaiknya kulakukan, ketika aku membaca Qur'an?"&lt;br /&gt;Sang kakek terdiam sambil memindahkan bongkahan batubara dari keranjang ke dalam kompornya, dan mulai menjawab,&lt;br /&gt;"Bawalah keranjang batubara ini turun ke sungai dan bawakan aku sekeranjang air."&lt;br /&gt;Anak lelaki itu melakukan perintahnya, tetapi tentu saja air yang dibawanya bocor keluar sebelum ia sempat kembali ke rumah.&lt;br /&gt;Sang Kakek tertawa dan berkata, " Lain kali kamu harus bergerak agak cepat," dan menyuruh cucunya kembali ke sungai untuk mencoba kembali membawa air dalam keranjang.&lt;br /&gt;Sekali ini sang cucu berlari dengan cepat, tetapi lagi-lagi keranjangnya telah kosong sebelum dia kembali ke rumah.&lt;br /&gt;Sambil terenggah-enggah ia berkata kepada kakeknya bahwa tidak mungkin membawa air dalam keranjang, dan lalu dia malah pergi untuk mengambil ember.&lt;br /&gt;Kakeknya berkata," Aku tidak ingin seember air, aku menginginkan sekeranjang air."&lt;br /&gt;Kamu hanya tidak berusaha lebih keras." Lalu Dia pergi ke jendela untuk melihat cucunya mencoba lagi.&lt;br /&gt;Saat ini cucunya tahu bahwa hal itu tidak masuk akal, tetapi dia ingin menunjukkan kepada kakeknya bahwa walaupun ia berlari secepat yang dia bisa, airnya akan selalu bocor keluar sebelum ia sampai kembali di rumah.&lt;br /&gt;Anak laki-laki itu kembali mengisi keranjang dengan air sungai dan berlari kencang, tetapi ketika ia mencapai kakeknya, keranjang itu telah kosong lagi. Demikianlah yang terjadi berkali-kali.&lt;br /&gt;Sambil terenggah-enggah ia berkata, " Lihatlah Kek, ini sama sekali tidak ada gunanya!"&lt;br /&gt;"Kamu pikir itu tidak ada gunanya?" kata kakeknya, "Lihatlah keranjang itu."&lt;br /&gt;Anak itu melihat keranjangnya dan untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa keranjangnya tampak berbeda.&lt;br /&gt;Keranjangnya berganti rupa dari keranjang tua yang sangat kotor menjadi keranjang yang bersih, di luar dan di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cucuku, itulah yang terjadi ketika kau membaca Al Qur'an.&lt;br /&gt;Kau tidak memiliki kemampuan untuk mengingat semuanya, tetapi ketika kau membacanya, engkau akan menjadi berubah, di luar dan di dalam.&lt;br /&gt;Itulah perbuatan/kehendak Allah SWT dalam kehidupan kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Milis Air Putih&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-708780209683589452?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/708780209683589452/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=708780209683589452' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/708780209683589452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/708780209683589452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/04/kisah-lelaki-tua-di-amerika.html' title='KISAH LELAKI TUA DI AMERIKA'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-7852260089277277397</id><published>2007-04-01T21:00:00.001-07:00</published><updated>2007-04-01T21:03:17.370-07:00</updated><title type='text'>YANG JUARA ADIKKU</title><content type='html'>"Juara pertama kita berikan kepada adik kecil kita, Tita Maharani !" , demikian  Pengumuman juri lomba lukis kelompok umur balita. Pengumuman itu serta merta menyemburatkan kebahagiaan kepada sepasang suami isteri yang tidak menyangka putrinya berhasil meraih penghargaan tertinggi perlombaan hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kebahagiaan itu hanya sebentar, tiba-tiba raut muka sang ayah menjadi muram. Si isteri pun bertanya, " Tidakkah Abi bahagia, Tita memenangkan lomba ?". , " Abi bahagia sekali ummi, jawab sang ayah, namun tidakkah umi ingat …… Tati, kakak kembarnya juga ikut dalam lomba ini dan sama sekali tidak menang ?, Abi tidak ingin Tati sedih melihat adiknya membawa piala itu." , tambah sang ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perasaan gembira yang berkurang setengahnya, suami isteri itu mencium kedua putri kembarnya. "Selamat  yah dik, Kakak., Abi dan Umi bangga sama kalian". Lalu, berempat mereka melangkah ke podium untuk menerima piala. Dua putri kecil itu terlihat bahagia memegang piala milik sang adik tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai menuruni podium, sang suami membawa piala tersebut entah kemana. Sementara sang istri menuntun dua putri kembar mereka kembali ke tempat duduknya. Perlahan tapi pasti, sang isteri mencoba merangkai kata  " Hari ini Adik juara lomba, percayalah, kakak juga akan dapat piala yang sama. Karena selama ini kakak sayang sama Adik. Kakak mengerti sayang ?" , tanya sang ibu kepada anaknya tersebut. Rasa haru pun menjalar di sisi hatinya. "Iya Mi, Kakak ngerti, jawab sang kakak, Adik jadi juara tapi Kakak juga dapat piala, karena sayang sama Adek." , ujar sang kakak sambil menyungingkan senyum di bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, sang suami pun datang membawa dua piala yang sama persis bentuknya. Keduanya menghambur dengan ceria.  Entahlah, apakah mereka mengerti arti sebuah JUARA atau tidak ? namun, kita yakin kearifan sang bapak akan menumbuhkan rasa percaya diri dan rasa saling menghargai kepada dua orang putri kembarnya, melebihi arti JUARA itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang juara adikku ! ,  Aku dapat piala karena aku sayang sama adikku." , Kata-kata itu selalu terlontar dari bibir sang Kakak setiap kali orang-orang bertanya dan memuji piala yang mereka bawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga cerita ini membuahkan hikmah bagi kita semua. Karena biasanya kecerdasan anak kembar tidak selalu sama.  Jika tidak arif menyikapinya, bisa menyebabkan salah satunya rendah diri. Wallaahu a'lam (patra)© 2003 www.manajemenqolbu.com***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vila Sekpim, 17 April 2003 - ManajemenQolbu.Com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-7852260089277277397?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/7852260089277277397/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=7852260089277277397' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/7852260089277277397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/7852260089277277397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/04/yang-juara-adikku.html' title='YANG JUARA ADIKKU'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-9019283116653994994</id><published>2007-04-01T21:00:00.000-07:00</published><updated>2007-04-01T21:04:35.559-07:00</updated><title type='text'>YANG HANYA TERPIKIRKAN</title><content type='html'>Sore itu cuaca Bandung terasa agak panas. Dalam perjalanan, saya berhenti di depan sebuah plaza, ingin membeli jajanan sekedar pelepas lapar dan dahaga. Sambil menunggu pesanan datang, tiba-tiba ada sekelompok ABG yang menarik perhatian. Biasa&amp;#8230; dengan segala kelincahan dan keriangan remaja seumur mereka, tertawa, berteriak dan saling dorong. Bahagia sekali. Dan saya yakin, saat ini memori anda juga sedang bermain mengingat tingkah polah ketika masa-masa itu terlewati, ya kan ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukan sorak-sorainya yang menarik&amp;#8230; setelah dilihat dengan seksama, ternyata kebahagiaan itu berasal dari seorang bocah jalanan yang berada di antara mereka. Jika disesuaikan dengan postur tubuhnya, diperirakan berusia kurang lebih empat tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah, apa yang mereka lakukan hanya pernah mampir di pikiran saya dan sama sekali tidak menyangka hal itu akan dilakukan oleh mereka (yang kata orang, dunia mereka penuh hura-hura dan buang waktu). Mereka tertawa geli karena baju baru yang mereka belikan lebih besar dari ukuran anak tersebut, tubuhnya jadi tenggelam sampai sebatas lutut. Sementara baju kumal yang tadi dipakai mereka buang ke tong sampah yang berdekatan. Tidak hanya sampai di situ, anak kecil itu digendong beramai-ramai dan dielus-elus penuh kehangatan, tidak sedikitpun terlihat kesan jijik ketika melakukan itu semua. Terakhir, bergantian mereka menggendong dan berpose ceria di setiap bidikan kamera yang ditujukan. Maha Kaya Engkau ya Rabb dengan kasih sayang-Mu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, pemandangan yang indah itu harus berakhir karena jajanan yang dipesan sudah datang dan masih banyak antrean di belakang mobil yang saya kemudikan. Ya Allah, ampuni hamba-Mu ini yang masih saja tidak peka dengan kebutuhan saudara-saudaranya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai adik-adik yang telah memberiku pelajaran berharga ini, semoga Allah memuliakan kalian. Terimakasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;#8220;Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya&amp;#8221;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo Sahabat-sahabat, masih banyak kesempatan buat kita !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Patra Rina Dewi&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : ManajemenQolbu.Com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-9019283116653994994?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/9019283116653994994/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=9019283116653994994' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/9019283116653994994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/9019283116653994994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/04/yang-hanya-terpikirkan.html' title='YANG HANYA TERPIKIRKAN'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-2922108912384318610</id><published>2007-04-01T20:58:00.001-07:00</published><updated>2007-04-01T21:07:09.148-07:00</updated><title type='text'>SEBUAH KISAH IRONIS DI IRLANDIA UTARA</title><content type='html'>Saya ibu terburuk di dunia ini. Oh Tuhan biarlah aku menceritakan hal ini  sebelum ajal menjemput.......&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki,  wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam memberi ia nama Eric. Semakin berkembang semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak/pelayan, namun suami saya Sam mencegah niat buruk saya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Di tahun yang kedua setelah melahirkan Eric, saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil, saya menamakannya Angelica. Saya sangat menyanyangi Angelica demikian juga Sam,&lt;br /&gt;seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian&lt;br /&gt;anak yang indah-indah..... tapi tidak demikian dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya melarangnya dengan dalih menghemat keuangan keluarga dan Sam selalu menuruti perkataan saya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di saat Angelica berumur 2 tahun Sam meninggal dunia  dan pada saat itu Eric sudah berumur 4 tahun. Keluarga kami semakin miskin disertai hutang yang semakin menumpuk. Saya mengambil sebuah keputusan yang membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya itu beserta Eric yang masih tertidur lelap, di gubuk yang terpaksa kami tinggali. Setelah saya menjual rumah untuk melunasi hutang-hutang........&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun.....2 tahun.........5 tahun..... 10 tahun ...... telah berlalu. sejak kejadian itu ...Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Ia seorang pendeta di gereja St. Maria. 5 tahun lamanya umur pernikahan kami, dan berkatnya sifat2 saya yang semula pemarah, egois dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit. Saya menjadi lebih sabar&lt;br /&gt;dan penyanyang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami sekolahkan dia di asrama putri perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu malam..........&lt;br /&gt;Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak.  wajahnya agak tampan, ia tampak pucat sekali..... ia melihat ke arah saya sambil tersenyum ia berkata, "Tante, tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada mommy" Setelah mengatakan itu ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya. "Tunggu... sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?" "Nama saya elic tante" Eric......??? Eric....... ya Tuhan kau benar-benar Eric ????? Saya langsung tersentak dan bangun. rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba teirngat kembali kisah ironis yang telah&lt;br /&gt;terjadi dulu kala, seperti pemutaran film lama di kepala saya. Namun baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu. Dan saya mengambil keputusan untuk mati saja saat itu, yah saya harus mati, mati,  mati..........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Se inchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke urat nadi saya, saat itu saya teringat kembali dengan Eric, yah Eric... Eric mommy akan menjemputmu Eric.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu saya memarkirkan mobil Civic biru saya di samping sebuah gubuk dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. "Mary apa yang yang sebenarnya terjadi Mary???" "Oh Brad .. kau pasti akan membenci saya setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu kala". Tapi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak......... Tapi ternyata Tuhan sungguh berbaik hati pada saya, ia memberikan suami yang begitu baik dan pengertian kepada saya......... Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti Brad dari belakang, mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang 2 meter di hadapan&lt;br /&gt;saya. Dan saya mulai ingat betapa gubuk tersebut pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric.......sa.......saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu............&lt;br /&gt;dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka&lt;br /&gt;pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap........ Tidak terlihat apapun juga!!&lt;br /&gt;Perlahan-lahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan&lt;br /&gt;kecil itu, dan saya tidak melihat siapapun di dalamnya......... Hanya sepotong kain butut di atas tanah. Saya mengambilnya dan mengamatinya... air mata saya kembali mengalir, karena saya mengenali potongan kain itu adalah baju butut yang dulu dikenakan Eric&lt;br /&gt;sehari-harinya...........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian dengan perasaan yang sulit dilukiskan saya pun keluar dari ruangan itu..... air mata saya mengalir dengan deras dan saat itu saya hanya diam saja. Saat saya dan Brad mulai naik ke mobil, meninggalkan tempat tersebut, saya melihat seseorang di belakang mobil kami dan saya  sempat kaget karena keadaan saat itu sudah gelap, dan terlihat wajah orang itu begitu kotor, ternyata seorang wanita tua..... kembali saya&lt;br /&gt;tersentak kaget ketika ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.... "Hei!!  siapa kamu, dan mau apa kamu kemari!" Dengan memberanikan diri sayapun bertanya, "Bibi apa kamu kenal dengan seorang anak bernama Eric, ia dulu tinggal di sini!" Ia  ,"kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk." "Tahukah kamu 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini. Ia terus menunggu dan memanggil  mommy...... mommy, karena tidak tega saya terkadang memberinya makanan dan mengajaknya tinggal bersama saya.  Meskipun saya orang miskin dan pekerjaan saya mengumpulkan sampah namun saya tidak akan  meninggalkan anak saya seperti itu. Sampai tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini, ia belajar menulis setiap harinya selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu ..................."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayapun membaca kertas itu..."Mommy mengapa mommy tidak pernah kembali lagi..... mommy marah sama eric yah... mom biarlah eric yang pergi saja, tapi mommy harus berjanji kalau mommy tidak akan marah sama eric lagi. Bye Mom..."&lt;br /&gt;Saya menjerit histeris membaca surat itu. "Bu, tolong katakan di mana dia sekarang??? Saya akan sangat menyanyanginya sekarang. saya tidak akan meninggalkannya lagi bu... tolong katakan!! Brad memeluk saya yang bergetar keras..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nyonya semua sudah terlambat, (dengan nada melembut), sehari sebelum nyonya datang&lt;br /&gt; eric telah meninggal dunia. ia meninggal di belakang gubuk ini".  "Tubuhnya sangat kurus , ia sangat lemah. hanya demi menunggumu ia terus bertahan di belakang gubuk ini,&lt;br /&gt; tanpa berani masuk ke dalam gubuk ini. Ia takut apabila mommy-nya datang akan pergi lagi bila melihat ia disana ... Ia hanya berharap dapat melihat mommy-nya dari belakang gubuk&lt;br /&gt;ini...... meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia  terus bersikeras menunggu nyonya di sana". "Nyonya dosa anda tidak terampunkan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya langsung pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi...!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-2922108912384318610?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/2922108912384318610/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=2922108912384318610' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/2922108912384318610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/2922108912384318610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/04/sebuah-kisah-ironis-di-irlandia-utara.html' title='SEBUAH KISAH IRONIS DI IRLANDIA UTARA'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-4350542853432880188</id><published>2007-04-01T20:58:00.000-07:00</published><updated>2007-05-14T14:01:36.561-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;title&gt;SEBENING KACA&lt;/title&gt;Sebening Kaca                 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Puspa Thea, dimana dikau Mba'?, kenapa tak ada khabar beritanya?". Nisa bertanya-tanya dalam hati seraya mencermati surat-surat sahabatnya. Sudah hampir tiga bulan ini Mba' Pupu tak pernah lagi mengiriminya e-mail. Perlahan dibacanya surat terakhir wanita lembut itu sebagai pelepas rindu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Date: Sat, 13 Oct 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu'alaikum Wr. Wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pa khabar Sa? Mba' kangen banget dech. Semoga Allah yang Maha Penyayang selalu melimpahkan kasih sayang-Nya buat Nisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa.. pedih.. perih.. sakit.. rasanya kalau Mba' baca berita tentang saudara-saudara kita di Afghan, rasanya Mba' ingin sekali berbuat sesuatu untuk mereka, tapi..&lt;br /&gt;Mba' cuma bisa berdo'a agar Allah yang Maha Kuasa menolong saudara-saudara kita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha lain yang bisa Mba' lakukan sekarang mempersiapkan putra-putri Mba' jadi hamba Allah yang di hati mereka nggak ada cinta kecuali cinta pada Allah, do'akan Mba' yach.., biar Mba' bisa jadi ibu yang baik, dan Allah berkenan menitipkan anak-anak yang kelak jadi mujahid / mujahidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa sehat, kan?. Salam sayang Mba' selalu buat Nisa Semoga rasa saling menyayangi ini mengantarkan kita jadi hamba yang dicintai Allah, amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.&lt;br /&gt;Mba'mu.. yang selalu kangen padamu, kapan yach Allah mempertemukan kita?..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisa menatap lekat e-mail tersebut, terbayang dalam benaknya hanya menjawab singkat surat itu. Ia bermaksud hendak mereplay kembali, namun tiba-tiba Ayu datang menjemputnya. Mereka janjian ke rumah Cathy pagi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                       *****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayah.. Ibu.. jangan bertengkar dooong! aku jadi pusiiing..." Teriak Cathy berusaha menghentikan pertikaian orangtuanya, namun mereka tak juga mau berhenti. Pertengkaran itu terjadi karena Ibunya tidak memperkenankannya berjilbab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu masih muda nak.., belum pantas mengenakan jilbab!, rambut bagus kok ditutupi, mana ada pemuda zaman sekarang melirik wanita yang hanya kelihatan wajah dan tangannya? kalau Cathy nggak laku bagaimana? mau jadi perawan tua?!. Wanita berjilbab itu harus baik prilakunya, eh..Cathy tingkahnya masih begini begitu.. jangan kasi malu Ibu..!"   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cathy tidak terima disuruh melepas jilbabnya, namun Ibunya terus mendesak, buntut-buntutnya ia berkata, "Ibu jahat...," Ayah datang membela, "Biarlah Bu..,    seharusnya kita bangga punya anak yang mau menutupi auratnya.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu merasa terpojok dan balik memarahi Ayah, maka terjadilah pertengkaran itu. Hal ini berulangkali terjadi sejak Cathy mengenakan pakaian yang disyariatkan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita ngobrol di luar aja yuk?..," Cathy mengajak Ayu dan Nisa ke halaman rumahnya yang luas, mirip taman bermain kanak-kanak. Sejenak wajah manis itu terdiam, ia tampak jauh lebih cantik dengan gaun muslimahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa Allah memberikan Ibu seperti itu pada Cathy ya? yang Beliau fikirkan hanyalah dunia, beda jauh dengan Ayah, yang selalu berorientasi ke akhirat. Seandainya Ibuku seperti Ibumu Nisa.. Ayu.. alangkah bahagianya aku!. Cathy jadi menyesal punya Ibu.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum sempat menghabiskan kalimatnya, Ayu buru-buru menceramahinya, "Jangan begitu, Cathy.. walau bagaimanapun ia adalah Ibu yang mengandung dan membesarkanmu.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cathy membela diri, "Siapa suruh mengandung dan membesarkanku? kenapa nggak dibiarkan mati aja sekalian?.., Beliau lebih senang anaknya diazab Allah daripada selamat. Apakah Itu Ibu namanya?!."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisa berusaha melerai kedua sahabatnya. "Daripada bertengkar, kita pergi aja yuk?, belanja, baca buku."  Setelah pamit pada orangtua Cathy, merekapun pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        *****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di toko buku, mereka bertiga tampak asyik memilih bacaan kesukaan masing-masing. Nisa dan Ayu ke rak buku Islami, dan Cathy ke rak majalah. Setelah agak  lama terbuai dalam lautan pena, Cathy mendekati Nisa, ia geleng-geleng kepala melihat buku yang dibaca sahabatnya, Tafsir Qur'an, wuih.. mengerikan, baginya jangankan membaca, membayangkan isinya saja sudah membuatnya pusing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak mata bundar itu terpendar pada sebuah buku, "Derita Nanda, Apa Salahku Hingga Ibu Tega Membunuhku?!" Hatinya berdebar membaca judulnya, secepat kilat jemari kecil itu menangkap, ingin tahu isinya. Setelah beberapa saat, buru-buru ia menutupnya kembali. Jantung Cathy berdetak lebih cepat, ia mengurut dada, "Astaghfirullaah.." Buku itu berisi kekejaman seorang Ibu yang tega membunuh anaknya sendiri karena takut miskin, sejenak ia ingat Ibunya,&lt;br /&gt;"Makasih Ya Allah, Engkau memberiku Ibu yang jauh lebih baik," bathinnya. Tiba-tiba Nisa dan Ayu mengagetkan dari belakang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini, mereka berpisah, Ayu ada acara keluarga. Sementara Cathy ikut Nisa ke supermarket. Gadis manis itu tampak bingung hendak membeli apa,  karena semua kebutuhan sudah dibeli Ibu. Iseng diambilnya saja makanan kecil, coklat, kacang, kue-kue. Tanpa sengaja ia melihat isi keranjang belanjaan Nisa, susu tanpa lemak, gula rendah kalori, buah-buahan, ia terheran-heran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kurus-kurus kok diet sich Nisa?, nggak takut kekurangan gizi?!," Nisa tersenyum. "Susu dan gula ini untuk Ibu, Beliau dapat gejala kencing manis". Cathy terbelalak, "Untuk Ibu?, Beliaukan bisa beli sendiri?!." Pertanyaannya tak digubris Nisa, iapun tak memerlukan jawaban. Sesaat ingatan Cathy melayang pada buku yang dibacanya barusan, sejenak ia termenung, mulai mengingat-ingat kesukaan Ibunya. Minuman serat yang kerap dipromosikan TV diambilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                         *****&lt;br /&gt;Ada seribu satu macam rasa yang sulit diungkap Cathy saat berada di rumah Nisa. Rumah itu tidak semewah rumahnya, malah cenderung sederhana, tapi.. mengapa hatinya begitu tenang? tidak ada sesuatupun yang istimewa, tetapi.. mengapa begitu menyenangkan?, apakah karena ada seorang wanita teduh yang layak di sebut ibu?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Malam ini aku bobok sini ya?," kata Cathy memelas. "Boleh.. tapi harus ijin orangtua dulu..", ucap Nisa seraya tersenyum padanya. Wajah manis itu terlihat&lt;br /&gt;bahagia sekali mendengar jawaban Nisa. "Bentar ya.. Cathy.." Nisa berlalu meninggalkannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar sohibnya yang kecil, kembali ia merasakan sesuatu yang sulit diungkap, Cathy menatap lekat ke sekeliling ruangan. Ada seperangkat pakaian shalat, tasbih, Al Qur'an, tergeletak rapi di atas tikar permadani. Meja kerja dan deretan buku-buku Islami. Sementara dinding putih itu dibiarkan kosong, hanya dihias kaligragi Allah dan Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan ia merebahkan diri, capek seharian berjalan. Ketika hendak mengambil bantal, ia melihat secarik kertas terlipat rapi, rasa ingin tahu mengalahkan segalanya, cepat dibukanya lipatan kertas itu, ternyata e-mail dari seorang wanita. Isi surat itu biasa-biasa saja, namun.. ketika ia sampai pada baris ke limabelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu.. aku sempat berprasangka buruk pada Allah, Nisa... Aku merasa Allah nggak sayang padaku, aku merasa Allah nggak pernah memberiku kebahagiaan dalam hidup. Sejak umur 5 tahun, kedua orangtuaku bercerai.. kami 4&lt;br /&gt;bersaudara terpencar, ada yang diambil orang lain. Aku dan adikku yang bungsu (perempuan) tinggal dengan ayah dan ibu tiri, sedang adik yang nomor 2 ikut ibu kandung. Aku tinggal dan dididik Ibu tiri yang subhanallah.. baik dan sayang sekali padaku. (Beliau sekarang sudah almarhum)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah nggak kerja lagi, untuk biaya hidup sehari-hari, ibu tiriku berjualan sayur mayur gendongan. Aku tak ingin membebani mereka, sehingga kuputuskan untuk tinggal dengan ibu kandungku, Beliaulah yang membiayai&lt;br /&gt;aku sekolah.  &lt;br /&gt;SMA kelas tiga, tahun 1987, aku dan 2 adik perempuanku diusir dari rumah (waktu itu aku baru pulang dari bimbingan belajar kira-kira jam 19.30), buku-buku pelajaranku habis disobek-sobek ibu, bahkan pada saat itu Beliau marah sambil mengacung-acungkan sebilah kapak mengancam kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keluar kamu anak-anak!, kalau tidak.. ibu bunuh kamu satu-satu!,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu juga aku dan adik-adikku menginap di rumah tetangga depan rumah. Aku bingung saat itu, Sa.. kemana aku dan adik-adik harus pergi? kalau ke rumah ayah.. pasti kami akan jadi beban mereka. Ku coba tinggal di rumah Om (adik Ibu kandung), tapi.. istrinya keberatan kami tinggal di rumahnya dengan alasan ekonomi, padahal saat itu aku sudah bilang bahwa hanya butuh tempat berteduh pada saat malam saja, sedangkan masalah makan, kami akan berusaha cari sendiri, tapi istrinya tetap tak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku ke rumah tetangga yang tidak jauh dari rumah Omku, Beliau mau menerima kami, sebagai imbalan aku bekerja untuk mereka, dari mulai ngurus rumah sampai mengurus anaknya, pokoknya sebelum mereka bangun, aku sudah masak dan nyuci. Aku diberi upah tiap hari Rp. 3000,- untuk ongkos sekolah, makan dikasi oleh yang punya rumah. Yang terfikir di benakku cuma satu, aku harus sekolah terus bagaimanapun caranya, asal aku tetap di jalan yang Allah&lt;br /&gt;perbolehkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah Sa.., aku diterima di D III-FMIPA UI jurusan matematika (beasiswa dengan ikatan dinas dari Depdikbud). Waktu aku baca pengumuman UMPTN di Kompas dan tahu diterima di UI, aku coba hubungi Ibu untuk minta bantuan Beliau mengenai biaya buku, kost, dan makanku, tetapi.. sampai di rumahnya, pintu pagar itu tak pernah dibukanya. Beliau hanya mengintip dari celah gorden, dan menyuruh pembantunya menyerahkan secarik kertas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segeralah menjauh dari pintu gerbang rumah ini, anak-anak!, aku tidak mau kalian kunjungi!      Kami kapok??? nggak Nisa.. aku dan adik perempuanku tetap sering nengokin Ibu meskipun akhirnya kami Cuma bisa berdiri saja di depan pintu gerbang sambil kehujanan dan kepanasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati, aku suka menyalahkan Allah, kenapa Dia memberikan kami ibu seperti ini? kenapa Dia membiarkan keluarga kami berantakan seperti itu? yach.. pokoknya segala ketidakpuasan kutumpahkan pada-Nya. Kesulitan hidup terus berlanjut selama aku kuliah, tapi aku yakin, selama aku tidak melanggar larangan-Nya, Allah pasti membantuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, aku selesai kuliah tepat waktu dan langsung diangkat jadi pegawai negeri di lingkungan SMAN 39 Jakarta. Tahun 1994 aku menikah, dan masya Allah Sa.. penderitaanku ternyata tak sampai di sini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mertuaku termasuk orang yang meterialistik, setiap sesuatu selalu diukur dengan uang, tuntutannya agar aku dan suami yang menanggung semua kebutuhan rumah tangganya. Masya Allah Sa.. ibunya minta kami membiayai adik-adiknya sekolah, sementara gajiku saat itu baru Rp. 114.900,- dan suamiku Rp. 85.000,-/bulan dengan uang makan Rp. 2.500,-/hari kerja, tapi.. aku bilang pada suami bahwa aku nggak keberatan, kita berikan apa yang masih bisa kita berikan. Bagiku yang terpenting, suamiku punya tanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu dan ayah mertuaku masih belum puas juga.. sampai-sampai Beliau seperti penjajah dalam bahtera kami. Beliau ingin mengatur segalanya, bahkan anak-anak diajarinya berkata-kata kasar pada orangtua, diajarinya berpola hidup konsumtif, tapi alhamdulillah.. dengan pendekatan ke anak-anak, aku&lt;br /&gt;coba mengarahkan mereka pada kehidupan yang Allah suka, sederhana, nggak berlebihan, membeli sesuatu kalau emang sangat dibutuhkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama-kelamaan sikap mertuaku sangat menganggu fikiranku, Sa.. omongannya ke setiap tetangga yang ditemuinya bikin telingaku panas, aku nggak betah lagi tinggal serumah dengan mereka. Beliau selalu bercerita ke tetangga bahwa ibuku bekas pelacur, dan akupun kalau tidak dinikahi anaknya, sudah jadi pelacur seperti ibuku.. masya Allah.. aku bisa tahan kalau cuma aku yang mereka hina dan caci maki, tapi kalau mereka menghina ibuku, aku nggak rela! meskipun ibuku kasar sama aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, aku kompromi sama suami untuk pindah saja. Ternyata... suamikupun sudah lama ingin mengajakku pindah, tapi.. karena dulu aku yang menyarankan tinggal di situ (dengan pertimbangan daripada uangnya untuk bayar kontrakan, lebih baik untuk adiknya sekolah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pindahpun ekspansi mereka nggak berhenti, Sa.. yach.. pokoknya hal itu berlangsung terus sampai akhirnya Allah menghendaki sesuatu perubahan pada kami. Aku diberinya kesempatan kuliah lagi, aku kenal milis Islam ini, dan aku sadar ternyata Allah sayang padaku, Sa.. diberikan-Nya aku ladang amal yang sangat banyak, dengan hadirnya ibuku dan mertuaku yang sikapnya masya Allah dalam hidupku. Aku merasa malu Sa.. selama ini aku selalu berburuk sangka pada-Nya, apalagi kalau aku baca terjemahan surat Ar Rahman, masya Allah Sa.. aku bener-bener malu.. yach, nikmat mana lagi yang mau aku dustakan?..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu'alaikum Wr. Wb.&lt;br /&gt;Salam sayang selalu&lt;br /&gt;Puspa Thea&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis membaca surat itu, ada getar kerinduan di hati Cathy pada sosok yang akhir-akhir ini dimusuhinya. Betapa sayangnya Allah telah menganugerahinya seorang ibu yang tak pernah mau membunuhnya, mengusirnya dari rumah, ataupun membiarkannya kehujanan dan kepanasan. Nikmat Allah yang mana lagi yang harus aku dustakan?,  desir hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian ia tertegun melihat sosok penuh keibuan di balik lipatan terakhir surat, Subhanallah.. mata itu bening seperti kaca, Qalbunya yang bersih memancarkan cahaya keseluruh wajahnya. Puspa Thea, itukah namanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayup-sayup Cathy mendengar telapak kaki melangkah, secepat kilat ia merapikan segala sesuatu. "Silahkan di minum Non Cathy.., maaf ya kelamaan, tadi Nisa masak air dulu..," Cathy menyentuh cangkir hangat yang disuguhkan Nisa, Ya Allah.. ibu selalu membuatkan coklat susu untukku, katanya lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nisa.. a ku ma u pu lang..," Ucapnya terpatah, Nisa terheran-heran. "Lho.. katanya mau bobok sini?!". Nisa mengiringi kepergian sahabatnya. Ia tak habis fikir kenapa secepat itu Cathy berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                      *****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan menuju tempat kerja, Nisa hampir tak  percaya dengan penglihatannya. Ia melihat Cathy begitu mesra dengan Ibunya di pasar tradisional. Jari-jari tangan mungil itu tampak penuh menenteng belanjaan,&lt;br /&gt;sesekali sang ibu berusaha menolongnya, tapi Cathy tidak mau, ia terus mengelak dan tersenyum. Sesampai di kantor ia menelpon Cathy. Gadis itu terdengar ceria sekali, tak sepatah katapun bernada keluh kesah mengenai ibu yang dulu selalu keluar dari mulutnya. Apakah gerangan yang terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        *****&lt;br /&gt;"Masuk, Nisa..", sapa Ibu Cathy ramah setelah menjawab salamnya. Kali ini, suasana rumah itu begitu berbeda dari sebelumnya. Di pekarangan terlihat Ayah Cathy membaca koran dengan asyiknya, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Langsung ke dalam aja, ya.. Cathy sedang istirahat, kasihan dia.. dari pagi bantuin Tante kerja" Ujar wanita itu dengan senyum merekah, Beliau tampak begitu bahagia. Nisa melangkahkan satu-satu kakinya supaya Cathy tak terusik, sayup-sayup terdengar merdu suara gadis itu, &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Ya Allah Tuhanku, anugerahilah aku kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan anugerahi pula aku kemampuan) untuk beramal shaleh yang Engkau ridhai, serta jadikanlah kebajikan bersinambung untukku pada anak keturunanku.  sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (QS. Al AhQaaf 46:15) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, Nisa.. ". Ia tersipu malu, tak berapa lama kemudian mereka larut dalam perbincangan panjang mengenai perubahan yang terjadi.  "Sebening kaca.. Nisa, bisakah aku memilikinya?" Nisa terkesima mendengar penuturan sahabatnya, ternyata Cathy telah membanya surat Mba' Puspa Thea, Melati yang berhati sebening kaca. Melalui goresan pena wanita itu, Allah menitipkannya hidayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        *****&lt;br /&gt;Nisa mencek inboxnya, banyak surat bertebaran di sana, beberapa Melati baru bermunculan menyapanya ramah. Tetapi, mengapa tak ada satupun surat dari Mba' Pupu?. Kerinduan Nisa semakin menyesak dada. Perlahan ia mulai menggerakkan jemari tangannya menekan tut-tuts komputer, menulis sepucuk surat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalaamu'alaikum Warahmatullaah Wabarakaatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana khabarmu, Mba&amp;rsquo;? si kecil dan suami tercinta? Nisa do'akan semoga kalian semua sehat, senantiasa dalam lindungan Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku Mba', tanpa sengaja salah satu suratmu terbaca sahabatku. Tapi.. tanpa sengaja pula engkau telah berdakwah, melalui bahasa Qalbumu yang terukir indah di atas pena itu.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mba'.. Nisa rindu sekali, rindu cerita-ceritamu.. rindu kekayaan bathinmu. kapan ya.. Allah mempertemukan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalaamu'alaikum Warahmatullaah Wabarakaatuh&lt;br /&gt;Salam manis dan sayang&lt;br /&gt;Adikmu, Nisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18 Januari 2002&lt;br /&gt;Ratna Dewi  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-4350542853432880188?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/4350542853432880188/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=4350542853432880188' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/4350542853432880188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/4350542853432880188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/04/sebening-kaca-sebening-kaca-puspa-thea.html' title=''/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-7857828851592729919</id><published>2007-04-01T20:57:00.001-07:00</published><updated>2007-04-01T21:17:32.940-07:00</updated><title type='text'>PELAJARAN TERSENYUM</title><content type='html'>Saya adalah ibu dari tiga orang anak  dan baru saja menyelesaikan kuliah. Kelas terakhir yang saya ambil adalah sosiologi. Dosen kami adalah seorang yang sangat inspiratif dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya. Tugas terakhirnya diberi nama  "Tersenyum". Seluruh  mahasiswa diminta untuk pergi keluar dan tersenyum kepada tiga orang dan mendokumentasikan reaksi mereka. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya adalah seorang yang mudah bersahabat, selalu tersenyum pada setiap orang, dan menyapa "hallo". Saya pikir, tugas ini sangatlah mudah. Segera setelah menerima tugas itu, saya bersama suami dan anak bungsu saya pergi ke  restoran McDonald's. Waktu  itu pagi di bulan Maret yang sangat dingin dan kering. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kami berdiri dalam antrian menunggu untuk dilayani. Tiba-tiba semua orang di sekitar kami menyingkir, bahkan suami saya ikut menyingkir. Saya tidak  bergerak sama sekali. Suatu perasaan panik menguasai diri saya. Saya berbalik untuk melihat mengapa mereka semua menyingkir. Ketika itulah saya  membaui suatu "bau badan kotor" yang sangat menyengat. Tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya memandang laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri dekat dengan saya, ia "tersenyum". Matanya berwarna biru langit indah seakan berharap  untuk dapat diterima. "Good day," katanya sambil menghitung beberapa koin yang telah ia kumpulkan. Lelaki yang kedua berdiri di belakang temannya.  Tangan bergerak-gerak aneh. Saya menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita  keterbelakangan mental. Sedangkan lelaki bermata biru adalah penolongnya.  Saya menahan haru ketika berdiri di sana bersama mereka. Wanita muda di counter menanyai pesanan lelaki itu. Yang lalu dijawabnya, "Kopi saja, nona"  karena hanya itulah yang mampu mereka beli. Asal tahu saja, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, kita harus membeli sesuatu. Ia  hanya ingin menghangatkan badan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kemudian saya benar-benar merasakan desakan yang sedemikian kuat sehingga saya hampir saja merengkuh dan memeluk lelaki kecil bermata biru itu. Tetapi  saya menyadari bahwa semua mata di restoran menatap saya, menilai semua tindakan saya. Saya tersenyum dan berkata pada wanita di belakang counter  untuk memberikan pada saya dua paket makan pagi lagi dalam nampan terpisah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kemudian saya berjalan melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu sebagai tempat istirahatnya. Saya meletakkan nampan itu di atas meja. Saya menyentuh tangan tangan dingin lelaki  bermata biru itu. Ia melihat ke arah saya, dengan air mata berlinang ia berkata "Terima kasih." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menepuk tangannya dan berkata, "Saya tidak melakukannya untukmu. Tuhan berada di sini bekerja melalui diriku untuk memberimu harapan." Saya mulai  menangis ketika saya berjalan meninggalkannya dan bergabung dengan suami dan anak saya. Ketika saya duduk, suami saya tersenyum dan berkata, "Itulah  sebabnya mengapa Tuhan memberikan kamu kepadaku, Sayang. Untuk memberiku harapan." Kami saling berpegangan tangan. Saat itu kami tahu bahwa hanya  karena rahmat-Nyalah kami dapat memberikan sesuatu pada orang lain. Hari itu, cahaya kasih Tuhan yang murni dan indah ditunjukkan pada saya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;-------- &lt;br /&gt; Saya kembali ke kampus, pada hari terakhir kuliah, dengan cerita ini di tangan. Saya menyerahkan "proyek" itu dan dosen membacanya. Kemudian ia memandang saya dan berkata, "Bolehkan saya membagikan ceritamu kepada yang lain?" Saya mengangguk perlahan. Kemudian ia meminta perhatian dari kelas.  Ia mulai membaca dan saat itu saya tahu bahwa kami, sebagai manusia dan bagian dari Tuhan, membagikan pengalaman ini untuk menyembuhkan dan untuk  disembuhkan.  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Dengan caraku sendiri saya telah menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan setiap jiwa yang menghadiri ruang kelas di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan satu pelajaran terbesar yang pernah saya pelajari : "Penerimaan Tanpa Syarat". Banyak cinta dan kasih sayang yang dikirimkan kepada setiap orang yang mungkin membaca cerita ini dan mempelajari bagaimana untuk "Mencintai Sesama Dan Memanfaatkan Benda-Benda - Bukannya Mencintai Benda Dan Memanfaatkan Sesama."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-7857828851592729919?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/7857828851592729919/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=7857828851592729919' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/7857828851592729919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/7857828851592729919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/04/pelajaran-tersenyum.html' title='PELAJARAN TERSENYUM'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-968911170681034228</id><published>2007-04-01T20:57:00.000-07:00</published><updated>2007-05-14T14:01:36.580-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;title&gt;Maafkan Ibu Telah Membentakmu Tadi siang.&lt;/title&gt;Maafkan Ibu Telah Membentakmu Tadi siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. "Oh, maafkan saya" adalah reaksi saya. Ia berkata, "Maafkan saya juga. Saya tidak melihat Anda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. "Minggir," kata saya dengan marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya berbaring di tempat tidur, kata nurani seakan berbicara padaku, "Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu." "Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes. Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, "Bangun, nak, bangun," kataku. "Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?" Ia tersenyum, " Aku menemukannya jatuh dari pohon. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berkata, "Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu; Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi."&lt;br /&gt;Si kecilku berkata, "Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun membalas, "Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri, suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas? Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA? Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FAMILY = (F)ATHER (A)ND (M)OTHER, (I), (L)OVE,(Y)OU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan biarkan kasih sayang kita terhadap suami/istri, juga anak-anak kita terkikis...tumbuhkanlah dan semakin perbanyaklah waktu untuk keluarga kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-968911170681034228?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/968911170681034228/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=968911170681034228' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/968911170681034228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/968911170681034228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/04/maafkan-ibu-telah-membentakmu-tadi.html' title=''/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-6608273424903609221</id><published>2007-04-01T20:56:00.000-07:00</published><updated>2007-05-14T14:01:36.595-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;title&gt;HIKMAH DARI BI TINI&lt;/title&gt;Hikmah Dari Bi Tini &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisiku sebagai seorang ibu muda yang juga wanita bekerja membuatku banyak pening memikirkan keseimbangan dalam menjalani roda kerumahtangaan dan roda dunia profesional. Keinginan untuk lebih memfokuskan aktivitasku di rumah terpaksa harus tertunda karena ikatan dinas yang masih harus dijalani. Banyak letupan ketidakrelaan dalam hati ini ketika terpaksa harus kucari seorang pengasuh untuk buah hatiku. Tetesan air mata tak pernah lupa singgah tiap kali adegan kemesraan ibu dan anak singgah di pelupuk mataku dalam perjalanan ke kantor. Kepedihan yang begitu menyiksa batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada kesan tertentu ketika pertama kali berkenalan dengan Bi Tini yang kepadanya mau tak mau aku percayakan buah hatiku . Dia banyak bercerita tentang riwayat hidupnya terutama kesedihan hatinya sepeninggal suami tercinta. Tiga orang anaknya yang masih menjadi tanggungannya membuat dia harus tetap memupuk semangat hidup dan mencari nafkah walau harus dengan meninggalkan mereka di kampung. Pada saat itu,kisah hidupnya bukanlah prioritas renunganku karena aku masih harus berjuang melawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kegelisahan hatiku sendiri dan rasa bersalah yang begitu mendera karena meninggalkan si cantik kecilku hampir 12 jam sehari. Seiring dengan berjalannya waktu, lewat banyak limpahan sayang, dukungan, dan nasihat dari saudara-saudara yang mencintaiku karena ALLAH aku mulai bisa menapaki hari-hari sibukku dengan lebih ikhlas dan tenang, di saat itulah aku mulai bisa melihat sosok lain dari Bi Tini, lebih dari sekedar pengasuh anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku begitu tersentuh saat melihat tetesan air matanya di tengah ceritanya (yang berulang-ulang) tentang kepedihannya sepeninggal suaminya, tentang beban yang harus ditanggungnya saat ini. Entahlah, aku seperti menemukan frekuensi kepedihan yang sama denganku. Saat itu aku hanya mampu merangkulnya, mengajaknya untuk bersabar dan mensyukuri keadaannya sekarang (betapa aku merasa menjadi orang munafik saat mengucapkannya). Membayangkan kondisinya membuatku merasa menjadi sosok yang begitu pengecut. Betapa kuat dan tegarnya Bi Tini. Sudah kehilangan suami, masih pula harus berpisah jauh dengan anak-anaknya. Sebagai seorang ibu, pastilah amat berat berpisah jauh dengan anak-anaknya. Aku saja yang 'cuma' meninggalkan anak ke kantor sudahbegitu berat rasanya. Sebagai seorang istri kepedihan manalagi yang bisa menandingirasa sepi dan rindu pada suami yang telah tiada. Aku saja sering merasa sedih ketika suami sedang sedikit lebih sibuk sehingga perhatiannya padaku berkurang.Subhanallah, betapa besar hikmah yang aku dapat dari kehadiran Bi Tini dalam hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dalam guratan recanaNya pertemuanku dengan Bi Tini. Kalau tidak ada keharusan' untuk aku bekerja di luar rumah, mungkin aku tidak akan bertemu dengan Bi Tini dan tidak dapat belajar banyak dari ketegarannya. Ketiga anak yatim yang kini menjadi tanggungan Bi Tini pun dapat menjadi ladang amal untuk keluargaku. Kami memang bukan orang kaya, namun aku dan suami merasa yakin bahwa di dalam sedikit harta yang kami miliki ada banyak titipan untuk anak-anak yatim dan fakir miskin.Maka nikmat Allah yang mana lagi yang masih harus kukeluhkan ? Betapa bijaksana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt dalam mendidik hamba-hambanya dan betapa meruginya diri ini jika banyakmengeluh dan merasa menderita.(http://manajemenqolbu.com)***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adisthea@yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-6608273424903609221?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/6608273424903609221/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=6608273424903609221' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/6608273424903609221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/6608273424903609221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/04/hikmah-dari-bi-tini-hikmah-dari-bi-tini.html' title=''/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-670249578361611727</id><published>2007-04-01T20:55:00.001-07:00</published><updated>2007-05-14T14:01:36.618-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;title&gt;BUNGA UNTUK IBU&lt;/title&gt;Bunga Untuk Ibu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu pernah memintaku membersihkan lantai sesaat setelah aku menumpahkan bubur saat sarapan pagi. Tapi, bukan sapu atau kain lap pel yang kuambil ke belakang, karena aku malah berlari keluar melalaui pintu belakang untuk menyusul teman-teman bermain. Hal yang hampir sama juga kulakukan, saat ibu berharap aku menyapu halaman bekas aku dan teman-teman bermain dan mengotori halaman dengan sobekan kertas. Meski beberapa teman melirikkan matanya agar aku segera menuruti ibu, tapi yang kulakukan justru tak menggubris perintahnya dan selekas mungkin mengajak teman-teman bermain di tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah satu kali, ibu memanggilku saat aku belajar. Dengan alasan "sedang belajar" aku tak mengindahkan panggilannya, meski entah sudah hitungan keberapa namaku disebutnya. Dan jika, dalam kondisi tak sabar setelah berkali-kali aku tak juga menyahut, ibu menghampiri ke kamarku, segera aku berpura-pura tertidur dengan buku yang masih dalam dekapan. Itu kulakukan, karena aku malas keluar rumah untuk membelikan barang belanjaan ibu di warung depan gang yang hanya berjarak tidak lebih 20 meter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diwaktu lain, ibu berpesan agar aku segera pulang setelah pulang sekolah. Namun seperti biasa, aku selalu mampir ke tempat-tempat biasa aku bermain, dan mengatakan kepada ibu bahwa terlalu banyak aktifitas di sekolah yang harus aku ikuti, demi memperkaya pengalaman dan ketrampilan. Sesekali, aku juga mengelabui ibu dengan tuntutan uang ini-itu dari sekolah yang wajib dibayar selain uang SPP. Kupikir, mungkin ibuku bodoh sehingga selalu mempercayai setiap permintaan uang tersebut yang sesungguhnya selalu kugunakan untuk mentraktir teman-temanku, sekedar untuk menunjukkan kelas sosial dan 'sogokan' agar aku bisa diterima oleh teman-teman. Meski setelah itu kuketahui, bahwa tidak jarang ibu berhutang untuk menutupi semua 'biaya' itu berharap agar aku bisa menjadi anak yang cerdas, trampil dan bisa diandalkan, aku masih tetap tak menyesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disuatu hari minggu, saat aku tak sekolah, dan tak ada kegiatan apapun diluar rumah. Ibu memintaku mengantarkannya ke pasar karena hari itu akan ada acara keluarga di rumah, yang karena itu ibu harus belanja lebih banyak dari biasanya. Segera otakku berputar mencari-cari alasan agar aku bisa "bebas" dari tanggungjawab itu. Akhirnya, kuberbohong kepada ibu dengan mengatakan bahwa di sekolah ada kegiatan ekstrakurikuler yang "wajib" diikuti oleh semua siswa. Niat berangkat ke sekolah, aku justru nongkrong di Mall, bertemu dengan teman-teman sepermainanku yang -bisa jadi- kebanyakan juga lari dari tanggungjawab membantu orang tua di hari libur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin, ibu berharap aku mau membantunya melakukan beberapa pekerjaan rumah yang lumayan berat karena ibu saat itu tak sanggup melakukan semuanya. Ibuku tengah sakit. Tapi aku malah tak mempedulikannya, karena kupikir tak semestinya aku melakukan semua tugas rumah tangga itu. Akhirnya, dalam keadaan sakit, dengan nafas yang tersengal, ibu sendiri yang mengerjakannya, sementara aku tetap asik dengan urusan dan mainanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, ada sekuntum bunga persembahan dariku yang pasti tak ada harganya dari semua pengorbanan ibu. Tak membalas semua cintanya, tak membayar jerihnya, tak menghilangkan semua luka dan kecewanya, tak meringankan bebannya, tak menghentikan tangisnya, tak membasuh setitikpun peluhnya, bahkan tak menyembuhkan sakitnya, apalagi mengembalikan ibu kepadaku. Karena ibu, yang penuh cinta dan kasih terhadap anaknya ini, kini terbujur lurus dihadapanku. Kupikir, karena aku tak mencintainya dengan segala perilaku burukku terhadap ibu, Allah lebih mencintainya dan mengambilnya dariku. Maafkan aku ibu. Kuharap ibu tahu, bunga cintaku tak pernah luruh. Wallahu 'a'lam bishshowaab (Bayu Gautama, Untuk seorang sahabat, kuyakin ia melihatmu menangis) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Eramuslim - Publikasi 06/05/2003 15:41 WIB&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-670249578361611727?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/670249578361611727/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=670249578361611727' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/670249578361611727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/670249578361611727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/04/bunga-untuk-ibu-bunga-untuk-ibu-ibu.html' title=''/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-1133561068619855453</id><published>2007-04-01T20:55:00.000-07:00</published><updated>2007-05-14T14:01:36.639-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;title&gt;MENGALIR SEPERTI AIR&lt;/title&gt;MENGALIR SEPERTI AIR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya, "Guru, saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati." Sang Guru tersenyum, "Oh, kamu sakit."&lt;br /&gt;"Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati."&lt;br /&gt;Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan, "Kamu sakit. Dan penyakitmu itu bernama, 'Alergi Hidup'. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita. "Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku." kata sang Guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup." Pria itu menolak tawaran sang Guru. "Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?" "Ya, memang saya sudah bosan hidup."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisasnya kau minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut "obat" oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Ini adalah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis. Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan berbisik, "Sayang, aku mencintaimu." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali, "Sayang, apa yang terjadi hari ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, sayang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Bos kita kok aneh ya?" Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, "Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu." Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku kami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi, "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-1133561068619855453?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/1133561068619855453/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=1133561068619855453' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/1133561068619855453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/1133561068619855453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/04/mengalir-seperti-air-mengalir-seperti.html' title=''/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-8753044018863822057</id><published>2007-04-01T20:54:00.000-07:00</published><updated>2007-05-14T14:01:36.662-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;title&gt;SYUKUR&lt;/title&gt;Syukur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEH KARENA&lt;br /&gt;ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata diatas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas &lt;br /&gt;hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa&lt;br /&gt;damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan &lt;br /&gt;senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.&lt;br /&gt;Pertama : Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan,&lt;br /&gt;bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah anda telah memiliki &lt;br /&gt;sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik.&lt;br /&gt;Tapi anda masih merasa kurang. Pikiran anda dipenuhi berbagai&lt;br /&gt;target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar&lt;br /&gt;dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih&lt;br /&gt;banyak uang.&lt;br /&gt;Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus &lt;br /&gt;memikirkannya.&lt;br /&gt;Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati&lt;br /&gt;kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi.&lt;br /&gt;Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah&lt;br /&gt;menjadi "KAYA" dalam arti yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang ''kaya''. Orang&lt;br /&gt;yang "kaya" bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang&lt;br /&gt;yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu&lt;br /&gt;menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat&lt;br /&gt;mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita &lt;br /&gt;miliki.&lt;br /&gt;Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki,&lt;br /&gt;dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, &lt;br /&gt;dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan.&lt;br /&gt;Seorang pengarang pernah mengatakan, ''Menikahlah dengan orang yang&lt;br /&gt;Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.'' Ini&lt;br /&gt;perwujudan rasa syukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak &lt;br /&gt;dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia &lt;br /&gt;melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si&lt;br /&gt;kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan&lt;br /&gt;membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang&lt;br /&gt;lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang &lt;br /&gt;lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih &lt;br /&gt;kaya dari kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di&lt;br /&gt;pekarangan sendiri. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah &lt;br /&gt;sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, "Lulu,&lt;br /&gt;Lulu".&lt;br /&gt;Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi &lt;br /&gt;orang ini. Si dokter menjawab, "Orang ini jadi gila setelah cintanya &lt;br /&gt;ditolak oleh Lulu." Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia&lt;br /&gt;terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di &lt;br /&gt;tembok dan berteriak, "Lulu, Lulu". "Orang ini juga punya masalah dengan &lt;br /&gt;Lulu ?" tanyanya keheranan.&lt;br /&gt;Dokter kemudian menjawab, "Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan &lt;br /&gt;Lulu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita &lt;br /&gt;miliki.&lt;br /&gt;Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi. Saya &lt;br /&gt;ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang&lt;br /&gt;terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. &lt;br /&gt;Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, "Saya mempunyai dua anak &lt;br /&gt;laki-laki.&lt;br /&gt;Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup ditanah seberang. &lt;br /&gt;Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan &lt;br /&gt;anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia&lt;br /&gt;karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersyukurlah !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang&lt;br /&gt;kamu inginkan.&lt;br /&gt;Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu.&lt;br /&gt;Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersyukurlah untuk masa-masa sulit.&lt;br /&gt;Di masa itulah kamu tumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersyukurlah untuk keterbatasanmu.&lt;br /&gt;Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru.&lt;br /&gt;Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat.&lt;br /&gt;Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih.&lt;br /&gt;Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik.&lt;br /&gt;Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan&lt;br /&gt;masa surut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan &lt;br /&gt;menjadi berkah bagimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Forwarded email bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkah bagimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Forwarded email&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-8753044018863822057?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/8753044018863822057/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=8753044018863822057' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/8753044018863822057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/8753044018863822057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/04/syukur-syukur-aku-tak-selalu.html' title=''/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-1036879092379626659</id><published>2007-04-01T20:53:00.000-07:00</published><updated>2007-05-14T14:01:36.675-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;title&gt;&lt;title&gt;AYAH&lt;/title&gt;&lt;/title&gt;AYAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, ada seorang anak wanita yang bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak wanita itu bertanya pada ayahnya : "Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk ?" Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya menjawab : "Sebab aku Laki-laki." Itulah jawaban Ayahnya. Anak wanita itu bergumam : "Aku tidak mengerti." Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus menepuk-nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan : "Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki." Demikian bisik Ayahnya, yang membuat anak wanita itu tambah kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya kepada Ibunya : "Ibu, mengapa wajah Ayah jadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk ? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya menjawab : "Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar-benar bertanggung-jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian." Hanya itu jawaban sang Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran, mengapa wajah Ayahnya yang tadinya tampan menjadi berkerut-merut dan badannya menjadi terbungkuk-bungkuk ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam impian itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa kepenasarannya selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan berusaha untuk menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindungi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting-tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetes keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ku-berikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan dihembus angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya, dan yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih-payahnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerapkali menyerangnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ku-berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, didalam kondisi dan situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya&lt;br /&gt;agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi sesama saudara."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengertian dan kesadaran terhadap anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang, walaupun seringkali ditentang bahkan dilecehkan oleh anak-anaknya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyadarkan, bahwa Isteri yang baik adalah Isteri yang setia terhadap Suaminya, Isteri yang baik adalah Isteri yang senantiasa menemani, dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada Isteri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar dan saling melengkapi serta saling menyayangi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti, bahwa Laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya bisa hidup didalam keluarga sakinah dan badannya yang terbungkuk agar dapat membuktikan, bahwa sebagai Laki-laki yang bertanggung jawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ku-berikan kepada Laki-laki tanggung-jawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh Laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung-jawab ini adalah amanah di dunia dan akhirat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, bersuci, berwudhu dan melakukan shalat malam hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdzikir, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan Ayahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mendengar dan merasakan bebanmu, Ayah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Milis&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-1036879092379626659?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/1036879092379626659/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=1036879092379626659' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/1036879092379626659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/1036879092379626659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/04/ayah-ayah-suatu-ketika-ada-seorang-anak.html' title=''/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-3624857340696177924</id><published>2007-04-01T20:48:00.000-07:00</published><updated>2007-05-14T14:01:36.688-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;title&gt;SETIAP MANUSIA PUNYA KELEBIHAN&lt;/title&gt;Debu-debu terminal ditingkahi terik matahari dan deru mesin kendaraan siang itu berhasil membungkam mulutku dan teman-teman yang biasanya tak pernah absen mengeluarkan suara. Bertepatan dengan jam kepulangan siswa-siswa siang itu, terus terang penantian itu menghadirkan rasa bosan. Haus, panas, lelah dan sederet keluh lainnya dilantunkan oleh hati diam-diam, mungkin juga oleh empat orang temanku itu, sepertinya mereka juga sibuk dengan suara hati masing-masing. Hampir empat puluh lima menit penantian ini berlangsung, bus kota yang datang secepat kilat penuh. Bagaikan kawanan lebah, calon penumpang langsung menyerbu ketika bus yang ditunggunya datang. Aku dan teman-teman seperti kehilangan energi untuk mengikuti langkah mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ada yang tersenyum padaku dari kejauhan, satu blok dari tempatku duduk. Ups! Bukan kepadaku ... tapi pada gadis yang berdiri di sampingku. Dia bukan saja tersenyum sobat! Pemandangan itu begitu memukau ... mereka sedang asyik bercerita dan bercanda. Subhaanallaah, begitu sempurna kebesaran-Mu Allah. Canda dua orang gadis tuna rungu itu tidak terpengaruh sedikitpun oleh deru mesin yang sungguh tidak bersahabat. Walaupun aku tidak mengerti bahasa isyarat tapi aku bisa mengetahui kalau mereka sedang berbagi cerita yang indah. Bisa dilihat dari ekspresi wajahnya yang seringkali tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiranku menerawang, secuplik renungan hadir ... Begitu adilnya Allah, disaat aku dan teman-teman gusar tidak bisa bicara karena kalah bersaing dengan deru mesin disaat itu pula Allah memperlihatkan keindahan ciptaan-Nya, dua orang gadis tuna rungu itu tidak terganggu sama sekali! Mungkin saja karena keterbatasannya, mereka tidak pernah &amp;#8220;ngegosip&amp;#8221; karena memang mereka tidak bisa mendengarkan percakapan orang-orang normal seperti diriku yang kerap &amp;#8220;ngomongin&amp;#8221; orang sadar atau tidak. Pastinya, telinga mereka tidak pernah tersentuh oleh musik-musik maksiat atau kata-kata kotor dari corong televisi yang sering singgah di pendengaranku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, alangkah bijak-Nya Engkau menegur hambamu ini. Aku malu&amp;#8230; masih ada sederet keluh kesah lagi yang bersarang di hatiku dan Engkau Maha Tahu waktu yang tepat untuk mengingatkanku. Ampuni hamba ya Allah. Segala keterbatasanku mengharapkan ke-Maha Sempurnaan-Mu. Muliakan mereka dengan keberadaannya. Aamiin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga setiap kejadian bisa membawa hikmah kepada kita semua. Allah sangat menyayangi kita dan kasih sayang itu bisa berwujud apa saja, tergantung kegigihan kita untuk mengakuinya. Wallaahu a&amp;rsquo;alam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;farah_adibah@yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: eramuslim.com - Publikasi 28/07/2003 14:11 WIB&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-3624857340696177924?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/3624857340696177924/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=3624857340696177924' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/3624857340696177924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/3624857340696177924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/04/setiap-manusia-punya-kelebihan-debu.html' title=''/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-962115113415243569</id><published>2007-03-30T16:34:00.000-07:00</published><updated>2007-03-30T16:35:48.333-07:00</updated><title type='text'>TIGA KARUNG BERAS</title><content type='html'>Ini adalah makanan yang tidak bisa dibeli dengan uang.  Kisah ini adalah&lt;br /&gt;kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang  memiliki seorang anak&lt;br /&gt;laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggalah ibu  dan anak&lt;br /&gt;laki-lakinya untuk saling menopang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya bersusah payah  seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung&lt;br /&gt;tersebut belum memiliki  listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut&lt;br /&gt;diterangi sinar lampu minyak,  sedangkan ibunya dengan penuh kasih&lt;br /&gt;menjahitkan baju untuk sang  anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah  atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang  parah&lt;br /&gt;sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu setiap  bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg&lt;br /&gt;beras untuk dibawa  kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidak&lt;br /&gt;mungkin bisa  memberikan tiga puluh kg beras tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemudian berkata kepada  ibunya: " Ma, saya mau berhenti sekolah dan&lt;br /&gt;membantu mama bekerja disawah".  Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata&lt;br /&gt;: "Kamu memiliki niat seperti itu  mama sudah senang sekali tetapi kamu&lt;br /&gt;harus tetap sekolah. Jangan khawatir,  kalau mama sudah melahirkan kamu,&lt;br /&gt;pasti bisa merawat dan menjaga kamu.  Cepatlah pergi daftarkan kesekolah&lt;br /&gt;nanti berasnya mama yang akan bawa  kesana".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan  kesekolah,&lt;br /&gt;mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama  kalinya sang&lt;br /&gt;anak ini dipukul oleh mamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang anak akhirnya pergi  juga kesekolah. Sang ibunya terus berpikir dan&lt;br /&gt;merenung dalam hati sambil  melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama, dengan  terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunya&lt;br /&gt;datang kekantin sekolah dan  menurunkan sekantong beras dari bahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pengawas yang bertanggung jawab  menimbang beras dan membuka kantongnya dan&lt;br /&gt;mengambil segenggam beras lalu  menimbangnya dan berkata : " Kalian para&lt;br /&gt;wali murid selalu suka mengambil  keuntungan kecil, kalian lihat, disini&lt;br /&gt;isinya campuran beras dan gabah. Jadi  kalian kira kantin saya ini tempat&lt;br /&gt;penampungan beras campuran". Sang ibu ini  pun malu dan berkali-kali&lt;br /&gt;meminta maaf kepada ibu pengawas  tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk  kedalam&lt;br /&gt;kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras  dari&lt;br /&gt;kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan  berkata:&lt;br /&gt;"Masih dengan beras yang sama". Pengawas itupun berpikir, apakah  kemarin&lt;br /&gt;itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : "Tak  perduli&lt;br /&gt;beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus  dipisah&lt;br /&gt;jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak  bisa&lt;br /&gt;matang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak  bisa menerimanya"&lt;p&gt;&lt;wbr&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ibu sedikit takut dan berkata : "Ibu  pengawas, beras dirumah kami&lt;br /&gt;semuanya seperti ini jadi bagaimana? Pengawas  itu pun tidak mau tahu dan&lt;br /&gt;berkata : "Ibu punya berapa hektar tanah sehingga  bisa menanam bermacam-&lt;br /&gt;macam jenis beras". Menerima pertanyaan seperti itu  sang ibu tersebut&lt;br /&gt;akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal  bulan ketiga, sang ibu datang kembali kesekolah. Sang pengawas&lt;br /&gt;kembali marah  besar dengan kata-kata kasar dan berkata: "Kamu sebagai mama&lt;br /&gt;kenapa begitu  keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama.&lt;br /&gt;Bawa pulang saja  berasmu itu !".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan  pengawas tersebut&lt;br /&gt;dan berkata: "Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya  dapat dari&lt;br /&gt;mengemis". Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan  tidak&lt;br /&gt;bisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk diatas  lantai,&lt;br /&gt;menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras  dan&lt;br /&gt;membengkak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata:  "Saya menderita rematik&lt;br /&gt;stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah,  apalagi untuk bercocok&lt;br /&gt;tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau  berhenti sekolah untuk&lt;br /&gt;membantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan  menyuruhnya bersekolah&lt;br /&gt;lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini dia tidak memberi tahu sanak  saudaranya yang ada dikampung&lt;br /&gt;sebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri  anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan  tongkat pergi&lt;br /&gt;kekampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap  pelan-pelan&lt;br /&gt;kembali kekampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras  yang&lt;br /&gt;terkumpul diserahkan kesekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat sang ibu bercerita,  secara tidak sadar air mata Pengawas itupun&lt;br /&gt;mulai mengalir, kemudian  mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata:&lt;br /&gt;"Bu sekarang saya akan  melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa&lt;br /&gt;diberikan sumbangan untuk keluarga  ibu." Sang ibu buru- buru menolak dan&lt;br /&gt;berkata: "Jangan, kalau anakku tahu  ibunya pergi mengemis untuk sekolah&lt;br /&gt;anaknya, maka itu akan menghancurkan  harga dirinya. Dan itu akan&lt;br /&gt;mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan  kebaikan hati ibu&lt;br /&gt;pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia  ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara  diam- diam&lt;br /&gt;kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak  tersebut&lt;br /&gt;selama tiga tahun. Setelah Tiga tahun kemudian, sang anak tersebut  lulus&lt;br /&gt;masuk ke perguruan tinggi qing hua dengan nilai 627  point.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu  dari anak&lt;br /&gt;ini duduk diatas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu  banyak&lt;br /&gt;murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini  yang&lt;br /&gt;diundang. Yang lebih aneh lagi disana masih terdapat tiga kantong  beras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan menceritakan  kisah&lt;br /&gt;sang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala  sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru&lt;br /&gt;dan berkata  : "Inilah sang ibu dalam cerita tadi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mempersilakan sang ibu  tersebut yang sangat luar biasa untuk naik&lt;br /&gt;keatas mimbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak dari  sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat kebelakang dan&lt;br /&gt;melihat gurunya  menuntun mamanya berjalan keatas mimbar. Sang ibu dan sang&lt;br /&gt;anakpun saling  bertatapan. Pandangan mama yang hangat dan lembut kepada&lt;br /&gt;anaknya. Akhirnya  sang anak pun memeluk dan merangkul erat mamanya dan&lt;br /&gt;berkata: "Oh  Mamaku...... ......... ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti dari Cerita ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah  mengatakan: "Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang jaman dan&lt;br /&gt;sepanjang  kenangan" Inilah kasih seorang mama yang terus dan terus memberi&lt;br /&gt;kepada  anaknya tak mengharapkan kembali dari sang anak. Hati mulia seorang&lt;br /&gt;mama demi  menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah dengan satu&lt;br /&gt;harapan sang anak  mendapatkan kebahagian serta sukses dimasa depannya.&lt;br /&gt;Mulai sekarang,  katakanlah kepada mama dimanapun mama kita berada dengan&lt;br /&gt;satu kalimat: "  Terimakasih Mama.. Aku Mencintaimu, Aku Mengasihimu. ..&lt;br /&gt;selamanya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- &lt;br /&gt;Sumber : Milis Air Putih : airputih@yahoogroups.com&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-962115113415243569?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/962115113415243569/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=962115113415243569' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/962115113415243569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/962115113415243569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/03/tiga-karung-beras.html' title='TIGA KARUNG BERAS'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-4541148706528843150</id><published>2007-03-30T01:29:00.000-07:00</published><updated>2007-03-30T01:30:41.300-07:00</updated><title type='text'>TERIMAKASIH TUHAN, TELAH MENGINGATKANKU</title><content type='html'>Sore, pulang kantor, seperti biasa aku menunggu bis didepan Chase Plaza, untuk membawaku pulang, bertemu dengan kedua anak-anakku yang masih berusia 2 tahun dan 9 bulan. Mikhail dan Fara namanya. Cuaca menggerahkan tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penat seharian kerja, dengan segala masalah yang ada selama bekerja. Sudah seminggu ini aku selalu lupa menanyakan keadaan kedua anakku Entah menanyakan sudah makan siang atau belum, bagaimana keseharian mereka, atau hanya sekedar memainkan telfon untuk mendengarkan suara sang buah hatiku, si sulung Mikhail yang sudah banyak bicara. Bahkan aku juga lupa bahwa saat ini kedua buah hati tercinta sedang sakit flu. Aku terlalu sibuk sehingga sempat melupakan mereka. Tapi ah, aku pikir aku meninggalkan buah hati bersama orangtuaku dan pengasuhnya. Jadi, untuk apa aku pusingkan akan hal itu? Jahatkah aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rasa betul, aku jahat. Tapi aku lebih mementingkan pekerjaanku&lt;br /&gt;daripada keluargaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku termenung. Tadi pagi sebelum berangkat aku lagi-lagi lupa membekalkan suami dengan dua potong roti omelete kesukaannya. Aku juga lupa membekalkan teh hangat manis dimobilnya. Aku sempat merajuk gara-gara suamiku menanyakan sarapan rutinnya untuk dimobil. Aku kan cape Mas, aku kan harus siapkan bekal anak-anak sebelum mereka dititipkan ketempat Oma-nya. Aku kan harus selesaikan cucian sebelum aku mandi tadi pagi. Dan sejuta alasanku untuk tidak lagi dibahas masalah sarapan rutin mobil. Dan ini sudah terjadi selama satu minggu pula. Ah, aku juga melupakan kebiasaanku yang disukai suami, ternyata. Bahkan, aku lupa minta maaf dengan kelakuanku seminggu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, akupun lupa Shalat sudah seminggu ini !!! Alangkah ajaibnya diriku. Tapi kurasa Tuhan mengerti. Begitu pikirku selama dikantor. Dan akupun tenggelam dengan pekerja anku dikantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 5.25 sore, langit mendung, dengan udara lembab. Haus. Aku lupa minum sebelum pulang tadi. Mestinya aku sediakan segelas minum untuk bekalku diperjalanan. Aku membutuhkan 2 jam perjalanan dari kantor sampai rumahku di Bintaro. Lagi-lagi, alasan sibuk yang membuatku lupa membawa gelas hijauku yang dulu biasa "tidur" dalam tasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah mataku tertuju dengan 2 orang kakak beradik, anak pengamen jalanan. Tidak beralas kaki, kotor dan kumuh. Usia mereka sekitar 4 dan 2 tahun. Mataku tertuju dengan sang adik. Wajahnya kuyu. Kotor dan diam. Terlihat wajah manisnya walaupun kurasa anak kecil itu tidak pernah mandi. Tidak beralas kaki. Terlihat ada luka ditelapak kakinya yang mungil, semungil telapak kaki buah hatiku Mikhail. Sang adik tertawa saat seorang wanita muda memberikan pecahan Rp. 2000 kepada kakaknya. Alangkah senangnya si kakak. Diberikan selembar kepada sang adik, dan sang a dikpun menerima dengan hati riang. Dipandangnya uang lembaran Rp. 1000 itu sambil bernyanyi kecil. Ah, dia menyanyikan lagu masa kecilku dulu. Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya. Aku membayangkan buah hatiku Mikhail menyanyikan lagu itu. Pasti tangannya tidak lepas dari pipiku, karena pada bait lagu "dor" buah hatiku selalu memukul pipiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum pada si kecil. Suaranya. Ya, suaranya masih pula cadel. Tangan kanannya memegang lembaran seribuan, tangan kirinya memegang alat musik kecrekan dari tutup botol. Alangkah polos wajahnya. Sang kakak duduk ditrotoar sambil menghalau lalat yang berseliweran dikepala adik. Kutahu, pasti dia tidak keramas. Uh, mandi saja mungkin jarang apalagi mencuci rambut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja, waktu sudah menunjukkan pukul 5.35 sore. Belum gelap. Tapi aku tak tahu sudah berapa bis jurusanku yang terlewatkan karena kekhusyukanku memandang 2 bocah polos didepanku?. Aku rogoh dompetku. Duh, makin menipis. Aku harus beli susu sang buah hatiku yang kecil. Aku juga harus beli alat kosmetikku yang sudah hancur dimainkan anak sulungku. Pokoknya aku memang harus beli hari ini. Tapi pemandangan didepanku meluluhkan hatiku. Kuambil selembar duapuluh ribuan dan kuberikan kepada sang kakak. Terkejut, tentu saja. Sang adik tidak kalah terkejut. Sambil teriak, sang adik bertanya pada kakaknya: aku bisa makan hari ini ya kak ya. Hhh.. aku tersenyum pilu. Begitu bahagianya mereka menerima lembaran dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tegur kakaknya "kamu berdua belum makan?"&lt;br /&gt;Pertanyaanku dijawab dengan sebuah anggukan kepala yang pelan. Saat itu juga aku menitikkan air mata. Aku kasihan sekali. Adiknya tidak memakai celana apapun. Bahkan aku bisa melihat bahwa adiknya seorang perempuan. Beberapa orang yang sedang menunggu bis, menjadikan percakapanku dengan bocah-bocah itu sebagai tontonan mereka. Beberapa ada yang memberikan selembar 5000an. Ah, Jakarta !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu mau makan? Ma u saya belikan makanan?" Lagi-lagi pertanyaanku dijawab dengan sebuah anggukan kecil. Sang adik tersenyum kepadaku. Ah, polosnya senyuman itu. Tanpa beban. Tanpa arti. Tapi yang kutahu, senyuman itu senyuman bahagia dari kepolosannya. Aku ajak mereka ke sebuah warung nasi Padang didekat Chase Plaza, kantorku. Aku tawarkan makanan sesuka mereka. Raut wajah mereka memucat. Aku mengerti, mereka sudah lapar dan dahaga. Kupandangi mereka makan. Duh, lahapnya. Aku sendiri tidak makan seharian tadi, karena lagi-lagi kesibukanku dikantor. Apakah aku sudah sedemikian kuatnya sehingga aku mampu melupakan makan siang, mampu melupakan kewajibanku sebagai istri dan ibu dari 2 orang buah hati terkasih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ambil rokok mentholku, dan kuhisap perlahan. Duh, rokok tidak pernah lepas dariku, seakan dialah pasangan hidupku. Kuperhatikan sang adik. "Siapa nama kamu?" Jawaban malu-malu keluar dari bibirnya "Ririn, Ibu". Ah, namanya Ririn. Sebuah nama indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kenapa nasibnya tidak indah?. Aku melamun. Tiba-tiba saja aku jadi cengeng luar biasa. Airmataku menitik. Duh, sejahat inikah yang namanya Jakarta? Hingga mampu menciptakan dua orang bocah yang sedang makan dihadapanku menjadi pengamen jalanan dengan alat kecrekan seadanya ditengah-tengah gedung tinggi? Bahkan, celana dalampun mereka tidak punya. Mungkin punya, tapi cuma beberapa. Aku tidak menanyakan hal itu. Kurasa tidak perlu. Bodohnya aku !.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu rumah dimana?" Aku tidak mendapatkan jawaban. Hanya gelengan kepala si kecil. Ah, mereka tidak punya rumah. Rumah mereka di bedeng kardus, dekat stasiun Senen. "Jalan kaki dan numpang bis dari Senen untuk ngamen" kata sang kakak. Aku melamun. Kuhisap rokokku dalam-dalam. Rumah kardus? Pengap? Tanpa orang tua? Nyamuk? Penyakit? Kotoran dimana-mana? Adakah yang peduli dengan masa depan Ririn kecil? Adakah yang peduli? Kenapa mereka ada di Jakarta? Kenapa bisa bertemu denganku disini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-t iba saja lamunanku buyar. "Ibu, terima kasih kami sudah makan enak".&lt;br /&gt;Mataku berkaca-kaca. "Ya, sama-sama. Semoga kamu kenyang dan senang" jawabku berat. Ririn kecil tersenyum. Kurasa ia kekenyangan. Keringat didahinya berbicara. Lalu ia mulai memainkan kecrekan gembelnya. Bunyinya tidak beraturan. Tidak ada nada sama sekali. Hanya suara cadelnya yang membuatku tersenyum. Aku berkaca-kaca. Senangnya bisa memberikan arti buat mereka. "Ibu, jangan melamun. Aku mau nyanyi buat Ibu". Ah, menyanyi? Buatku? Apa istimewanya aku?. Aku tertegun. Suara cadel itu. Suara polos itu. Mereka menyanyikan sebuah lagu untukku. Aku tidak mengerti lagunya. Tapi terdengar indah ditelingaku. Ah, aku diberi hadiah: lagu !.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang kamu berdua pulang. Masih ada yang merindukan kamu berdua. Ini bekal buat dijalanan". Aku berikan selembar duapuluh ribuan, seliter air mineral, roti manis dan sandal buat kedua bocah itu. Kebesaran. Tapi tidak apa. Mereka senan g sekali memakai sandal baru. Aku pandangi kedua bocah dengan senyum. Mereka berlarian mengejar bis. Entah kemana lagi mereka pergi. Mencari uang lagikah? Atau pulang kerumah kardus mereka di pinggiran stasiun Senen seperti ucapan mereka tadi? Aku terharu, air mataku menetes. Ah Jakarta... jahat sekali kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah jam 7 lewat 10. Aku pasti terlambat sekali sampai rumah ibuku. Aku harus menjemput buah hatiku dan setelah itu pulang kerumahku. Aku duduk dalam bis. Terdiam. Aku lagi-lagi meneteskan airmata. Apakah aku ditegur Tuhan? Apakah aku disentil olehNya? Mata polos itu. Mata polos itu menegurku, Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lupa bersyukur dengan apa yang telah diberikanNya untukku. Aku lupa dengan anak-anakku. Aku lupa dengan suami dan tanggung jawabku sebagai ibu dan istri. Mata Ririn kecil menusukku tajam. Aku ditegur olehnya. Oleh mata kecil polos tanpa duka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fara kecil tertidur dipangkuanku. Mikhail, buah hatiku yang sulung dengan mesra mem ainkan rambut Papanya. "Papa, hari ini aku sudah bisa belajar mewarnai. Hari ini aku tadi makannya banyak. Aku tadi mau minum obat. Aku hari ini jadi anak Papa yang pintar". Celotehannya yang cadel membuatku tersenyum berkaca-kaca. "Mikhail enggak mau cerita dengan Mama?" tanyaku. "Mikhail enggak mau cerita dengan Mama. Mama kan mama yang sibuk". Bahkan si sulungpun kini sudah mulai menjauh dariku. Dia malah lebih sayang dengan Papanya. Suamiku. Duh, rasanya seperti tertusuk jarum. Sakit. Tapi aku diam. Ini memang semua salahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertidur. Mikhail dan Fara tertidur sudah. Tanggapan akan ceritaku dari suami, hanya tersenyum. Bijaksana sekali. "Itulah teguran Allah untukmu. Maka bersujudlah. Mohon ampun padaNya". Malam itu juga aku Shalat. Memohon ampun pada yang Kuasa atas kemalasanku sebagai Ibu. Mohon ampun telah melupakanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupandang kedua wajah polos buah hatiku tercinta. Pulas. Tampak genangan liur dibantal mereka. Far a tersenyum. Buah hati kecilku itu kalau tidur memang suka tersenyum kecil. Sayangnya Mama... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setetes air mata kembali mengalir dipipiku. Entah siapa kedua bocah yang kutemui sore tadi sepulang kantor, entah siapa Ririn kecil yang memandangku polos, entah siapa yang telah menyanyikan sebuah lagu untukku disebuah warung nasi. Yang aku tahu, mata lugu itu telah menegurku dengan sangat tajam. Terima kasih Allah, telah mengirimkan dua bocah kecil, miskin tiada arti, untuk merubah hidupku. Mungkinkah mereka Engkau kirim untukku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, February 20, 2003 Dari seorang Ibu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8773521654118533367-4541148706528843150?l=bungacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungacerita.blogspot.com/feeds/4541148706528843150/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8773521654118533367&amp;postID=4541148706528843150' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/4541148706528843150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8773521654118533367/posts/default/4541148706528843150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungacerita.blogspot.com/2007/03/terimakasih-tuhan-telah-mengingatkanku.html' title='TERIMAKASIH TUHAN, TELAH MENGINGATKANKU'/><author><name>Achmad Bisri</name><uri>https://profiles.google.com/116976354457629121786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-kprSUWhpw8k/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/cXOQI_h4yPU/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8773521654118533367.post-8041060132679830101</id><published>2007-03-30T01:28:00.000-07:00</published><updated>2007-03-30T01:29:18.609-07:00</updated><title type='text'>SEORANG KAWAN BERNAMA YATIMAN</title><content type='html'>Tahun 1997 adalah tahun yang luar biasa berat untuk saya. Sebuah tragedi besar terjadi dalam hidup saya oleh sebuah pengkhianatan dan fitnah yang dilakukan teman dekat saya. Tahun itu, saya baru saja terkena PHK akibat krisis moneter yang memorak porandakan perusahaan tempat saya bekerja sebelumnya. Saya terdampar di sebuah pabrik bakery yang manajemennya masih tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak hendak berkisah tentang siapa dia dan apa yang dilakukannya. Permasalahannya telah membaur dan berkelindan dengan masalah-masalah lain yang membuat keadaan bertambah keruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat kejadian itu berikut kondisi-kondisi psikologis yang kurang baik, saya sempat mengidap penyakit semacam insomnia selama setahun lebih. Saya sangat sulit tidur. Dalam sehari, tak jarang saya hanya mampu lelap selama lima belas menit. Kadang-kadang, saya berangkat tidur jam delapan malam, namun belum juga bisa tidur hingga adzan shubuh. Ada kalanya tidur selama setengah jam di awal malam dan selebihnya, sampai pagi, jangan harap bisa pejam ini mata. Saat itu, yang saya butuhkan adalah teman ngobrol. Saya ingin ada orang yang bisa saya ajak berbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu sore, saya melihat ada karyawan baru, namanya Yatiman. Pertama kali saya melihatnya, langsung tumbuh perasaan benci. Kenapa? Dia sangat mirip dengan teman saya yang baru saja mengkhianati dan memfitnah saya. Tidak hanya wajahnya yang mirip, tetapi juga tutur katanya, suaranya, bahkan cara berjalannya. Potongan rambutnya pula, rambut lurus gaya mandarin ala Andy Lau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, setiap melihatnya, saya lantas teringat dengan teman saya tersebut, dan karenanya, saya menjadi sangat benci. Apa lacur, kendati saya berusaha menjaga jarak, dia justru ‘ditakdirkan’ lebih sering berada di dekat saya. Ia berada dalam satu group dengan saya. Bahkan, di mess, ia berada tepat di samping saya. Ini berarti, ia lebih sering tidur di samping saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan waktu, saya mulai berusaha menata hati dan memperbaiki sikap padanya. Apalagi, saya tak melihat sedikit pun hal buruk padanya. Ia jujur, jenaka, dan ramah. Hampir setiap malam, sebelum tidur, seraya bertelekan pada lengannya, ia bertanya dan bercerita macam-macam kepada saya. Potongan-potongan hidup dan episode masa lalunya menjadi puzzle yang semakin kita bisa menghubungkan, maka semakin menariklah itu. Pun, saya jadi mengenal Yatiman dari cerita-ceritanya yang beranjak usang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama-lama, sikap saya mencair. Tanpa sadar, kami menjadi teman ngobrol yang bahkan tak jarang mengusik tidur teman lain dan membuat mereka menghardik, “Ssst… Sudah malam! Jangan berisik!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya suka dari Yatiman adalah sikapnya yang empatik. Yatiman adalah seorang teman yang istimewa untuk saya. Kendati lelah setelah bekerja seharian, ia tak bosan mendengar cerita saya dengan gaya empatiknya yang luar biasa. Ia mau bersabar mendengar cerita-cerita saya, keluhan-keluhan saya yang saya ulang-ulang hampir setiap malam. Volume suara saya yang semula tinggi berangsur-angsur turun –karena khawatir mengganggu yang lain– hingga akhirnya berubah menjadi bisik-bisik. Kadang-kadang dalam keadaan setengah lelap setengah terjaga, ia masih menyempatkan diri menanggapi dengan “oo… jadi begitu?”, “Terus?”, “Wah… hebat!”, “Mm… jadi gitu, ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, saya merasa nyaman. Humor-humornya kadang garing dan agak-agak gagap, tetapi saya tertawa dan terhibur. Tahun 1999, ia pindah kerja ke Lampung. Proses pepindahannya terbilang mendadak. Saya menangis. Saya tak bisa membayangkan bagaimana sepinya jika dia tak ada. Alangkah panjang malam-malam saya karena tak ada teman cerita. Toh, seperti ia katakan, hanya jasad kami berpisah, sedangkan hati tetap dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berpisah, kami berpelukan lamaaa… tanpa mampu saling berucap. Suara kami cekat di tenggorokan. Saat itu, saya mati-matian menahan linangan air mata. Barulah setelah mobil yang membawanya berlalu, saya menghambur ke kamar mandi dan menuntaskan isak di sana. Lamaaa…. Hampir dua jam saya menangis tanpa suara di kamar mandi. Teman-teman yang lain maklum dan tidak berusaha menghentikan tangis saya. Tak juga mereka mengetuk pintu kamar mandi. Mereka tahu saya sedang bersedih dengan kesedihan yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah hari itu, cukup lama saya melupakan kesedihan. Setiap melihat bekas lemari pakaian Yat, hati saya terserobot rasa haru dan rindu. Setiap makan siang, saya selalu terkenang makan bersamanya seraya ngobrol banyak hal. Kendati masih ada teman-teman yang lain, namun rasanya semua jadi tak lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari
